OPINI

Dibalik Goresan kanvas Rp 6.5 Milyar : Simfoni Rindu dan Jejak Amal Sang Purnatugas

×

Dibalik Goresan kanvas Rp 6.5 Milyar : Simfoni Rindu dan Jejak Amal Sang Purnatugas

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Di sudut studio yang hening, aroma kopi yang mengepul perlahan menyatu dengan wangi cat minyak yang tajam namun menenangkan.

Di sana, seorang pria yang pernah memegang kemudi bangsa selama dua periode tampak larut dalam dialog bisu dengan kanvas putih. Tangannya, yang dulu terbiasa menandatangani dekrit negara, kini menari lincah mengayunkan kuas.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 RI, sedang membuktikan sebuah hakikat penting: bahwa masa purna tugas bukanlah titik henti, melainkan awal dari sebuah simfoni baru yang lebih personal.

Baru-baru ini, dunia seni dan kemanusiaan dikejutkan oleh terjualnya lukisan karya SBY yang bertajuk “Kuda Berapi”. Tak tanggung-tanggung, karya tersebut dipinang oleh seorang filantropis dengan nilai lelang mencapai Rp6,5 miliar.

Bagi mata yang jeli, angka fantastis itu bukanlah sekadar harga untuk komposisi warna atau teknik perspektif. Nilai tersebut adalah penghormatan terhadap sebuah provenance—jejak sejarah seorang pemimpin yang memilih jalan sunyi untuk mengekspresikan sisi humanisnya.

Di balik goresan itu, tersimpan niat tulus: bahwa seluruh hasil lelang didedikasikan sepenuhnya untuk amal, termasuk mendukung berbagai komunitas sosial yang membutuhkan. Inilah titik di mana seni bertransformasi menjadi instrumen kemanusiaan yang nyata.

Seni sebagai “Jalan Pulang” dan Ruang “Pemulihan”

Bagi SBY, melukis pasca lengser bukan sekadar hobi pengisi waktu luang. Sepertinya ini adalah sebuah proses “self-healing” pasca ditinggalkan ibu Negara selamanya.Yang mana sebagian besar karyanya lukis SBY lahir dari memori dan bidikan lensa kamera almarhumah Ibu Ani Yudhoyono.

Setiap sapuan kuas adalah bentuk kerinduan yang dikonversi menjadi keindahan.Setiap gradasi warna adalah cara beliau merayakan kenangan bersama sang belahan jiwa.

SBY menunjukkan bahwa kekuasaan memiliki batas waktu, namun kreativitas dan pengabdian tidak akan pernah mengenal kata pensiun.

Penomena SBY dengan lukisannya ini seolah olah menitipkan pesan kepada kita untuk bisa menemukan “Jalan Pulang” .Sesibuk apa pun dunia mengejar kita, milikilah ruang untuk mengapresiasi diri. Seni dan kreativitas adalah jangkar kesehatan mental di tengah hiruk-pikuk kehidupan.

Dalam hal ini terdapat makna bahwa sesuatu akan menjadi abadi ketika ia ditujukan untuk kepentingan orang banyak. Amal adalah napas yang membuat sebuah karya tetap hidup melampaui usia penciptanya.

Bagi SBY Masa tua bukanlah akhir dari cerita. SBY membuktikan bahwa di usia senja, seseorang tetap bisa melahirkan karya yang spektakuler, relevan, dan menginspirasi bangsa.

SBY dengan lukisan ” Kuda api ” nya mengisyaratkan bahwa Hidup adalah tentang bagaimana kita mewarnai hari-hari yang tersisa. Meski badai politik telah berlalu, semangat untuk menebar keindahan tidak boleh padam.

Yang jadi pertanyaan buat kita.Warna apa yang akan kita goreskan pada kanvas kehidupan kita hari ini? Jawabannya tak perlu diucapkan.Marilah berkarya dan biarlah dunia yang memberikan maknanya !!!. (Teguh Safary/Zs)