KANAL

Ramadan dan Harapan Baru Abah Endang Setelah Dua Tahun Menganggur

×

Ramadan dan Harapan Baru Abah Endang Setelah Dua Tahun Menganggur

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Di usia yang sudah menginjak 71 tahun, banyak orang mungkin memilih untuk beristirahat di rumah. Namun, hal itu tidak berlaku bagi seorang pria Endang,

Meski rambut sudah memutih, fisiknya masih menunjukkan ketangguhan yang luar biasa, bahkan di tengah ibadah puasa Ramadan.

​Abah Endang, menceritakan perjalanannya yang cukup jauh dengan berjalan kaki dari kawasan Len (Soekarno Hatta) menuju lokasi Masjid Agung Bandung

Ketangguhannya bukan tanpa alasan, ia mengaku terbiasa berjalan kaki, bahkan pernah mencoba berjalan hingga ke daerah Progo dan Cimahi hanya untuk mengenal wilayah tersebut.

​”Alhamdulillah masih sehat. Saya terbiasa berjalan kaki,” ujarnya

​Satu hal yang paling menyentuh dari sosok Abah Endang adalah prinsip hidupnya yang sangat mandiri. Meski memiliki anak-anak yang sudah berkeluarga dan mandiri, ia mandiri daripada harus meminta bantuan kepada mereka.

​”Saya tidak mau menyusahkan anak-anak. Biarlah (rezeki mereka) untuk keluarga mereka sendiri. Kalau bisa, justru saya yang memberi untuk cucu-cucu,” tuturnya.

Terbukti, meski sedang tidak memiliki pekerjaan tetap, ia tetap berusaha menyisihkan uang sebesar Rp20.000 hingga Rp50.000 sebagai hadiah Lebaran untuk cucunya.

​Abah bukanlah orang baru di dunia kerja. Ia memiliki pengalaman panjang bekerja di restoran di Bandung, Namun, karena kondisi ekonomi pemilik restoran yang sempat terpuruk, ia memilih untuk mengundurkan diri demi meringankan beban sang pemilik.

​Saat ini, setelah dua tahun menganggur, Abah membawa kabar baik. Ia berencana untuk mulai berjualan bakso di daerah Cipageran, Cimahi.

“Insyaallah tahun ini mulai dagang bakso diajak teman, Rezeki mah ada saja di mana-mana, yang penting halal,” tambahnya dengan nada optimis.

​Bagi Abah, Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia memandang bulan suci ini sebagai momentum untuk melatih kesabaran, menahan amarah, dan memperbanyak ibadah.

​”Ramadan itu nikmat bagi saya. Waktunya kita menahan nafsu, amarah, dan lapar. Ini adalah bulan pengampunan yang datangnya hanya setahun sekali,” pungkasnya. (Jm)