KAPOL.ID – Di bawah bayang-bayang Gunung Tampomas yang kokoh, sebuah filosofi tua Sunda berbisik: “Cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok.” Tetesan air yang sabar pada akhirnya akan melubangi kerasnya batu.
Bagi H. Kiki Hakiki, pepatah ini bukan sekadar penghias bibir, melainkan kompas yang menuntun jalannya dari kerasnya hidup sebagai tenaga honorer hingga kini dipercaya menjabat sebagai Camat Buahdua.
Tepat pada 1 Maret 2026 kemarin, pria yang baru saja menginjak usia 49 tahun ini mengenang kembali sebuah perjalanan panjang yang barangkali bagi sebagian orang mustahil. Kiki bukanlah sosok yang lahir dengan fasilitas mewah.
Ia adalah putra asli kelahiran Baginda, Sumedang Selatan. Di tanah Baginda itulah, karakter aslinya ditempa oleh keringat ayahnya, seorang buruh tani, dan doa ibunya yang sederhana.
Menempa Diri dalam “Peurih” dan “Disipuh”.
Keterbatasan ekonomi masa kecil di Baginda tak membuat Kiki surut langkah. Sebaliknya, ia menjadikan kondisi tersebut sebagai kawah candradimuka. Landasan hidupnya berpijak pada nilai luhur yang sangat mendalam:
“Dituntun ku santun, dipiara ku rasa, dilatih ku peurih. Diasuh ku lungguh, diasah ku kanyaah, disipuh ku karipuh.”
Bagi Kiki, filosofi ini adalah siklus kemanusiaan yang utuh. Ia percaya bahwa ia tidak sekadar melewati kesulitan, melainkan “disipuh” (dimatangkan) oleh setiap kepahitan (karipuh) yang ia alami.
Ia percaya manusia yang kuat hatinya adalah mereka yang mampu mendengar dan tetap mau mengulurkan tangan membantu penderitaan orang lain, bahkan di saat dirinya sendiri sedang dirundung kesusahan.
Setelah menuntaskan pendidikan di SMAN 1 Sumedang (1996) dan UIN Bandung (2001), Kiki tidak langsung mencicipi manisnya kursi jabatan. Ia memulai kariernya dari kasta terbawah birokrasi sebagai tenaga honorer selama lima tahun (2002-2007).
Tanpa kepastian status saat itu, ia memegang teguh prinsip “Pok, Pek, Prak”:
Pok: Keselarasan antara ucapan dan janji. Pek: Kesiapan mental dan niat untuk mulai berusaha. Prak: Pelaksanaan nyata dan kerja keras di lapangan.
Keikhlasannya berbuah manis. Kariernya berjalan secara organik, setapak demi setapak, dimulai dari staf di RSU pada tahun 2008, kemudian menjadi staf di Kecamatan Sumedang Selatan. Sejak tahun 2012, ia mulai dipercaya menduduki jabatan struktural:
Pengabdian Kiki di birokrasi
2002 – 2007 Tenaga Honorer (Staf Pelaksana)
2008 – 2011 Staf RSU & Staf Kecamatan Sumedang Selatan
2012 – 2024 Kasi di Kelurahan, Kasi di Kecamatan, Lurah, hingga Sekretaris Kecamatan (Sekcam)
8 Agustus 2025 Dilantik sebagai Camat Buahdua (Eselon 3A).
Di bawah kepemimpinannya di Kecamatan Buahdua, Kiki membawa warna yang berbeda. Ia adalah pemimpin yang inklusif, yang memahami betul bahwa ASN adalah pelayan masyarakat, bukan penguasa.
Karena tumbuh dari keluarga buruh tani di Baginda, ia memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan sektor pertanian dan ekonomi kecil.
Ia menerapkan gaya “Ngaping, Ngajaga, Ngaping” (membimbing, menjaga, mengarahkan) kepada stafnya.
Pengalamannya sebagai mantan honorer membuatnya sangat memanusiakan setiap jenjang pegawai di bawahnya. Baginya, transparansi pemerintahan adalah bentuk bakti tertingginya kepada orang tua yang telah membesarkannya dengan kejujuran.
Pesan dari Pucuk Padi
Di balik seragam dinas cokelatnya, ayah dari tiga anak ini tetaplah sosok yang bersahaja. Kepada anak-anaknya, ia selalu berpesan bahwa kehormatan tidak diukur dari tumpukan harta atau tingginya jabatan, melainkan dari seberapa besar kebermanfaatan kita bagi sesama.
“Jadilah seperti padi; semakin berisi semakin merunduk, namun tetap kuat akarnya menghujam ke bumi kejujuran,” ungkapnya tenang.
Kisah H. Kiki Hakiki adalah bukti nyata bagi anak-anak muda di Sumedang. Bahwa asal-usul bukanlah penentu akhir sebuah takdir.
Selama semangat tetap menyala, kejujuran dijaga, dan hati tetap santun meski dalam kondisi perih, seorang anak buruh tani dari Baginda pun bisa menjadi nakhoda yang membawa perubahan besar bagi tanah kelahirannya. (Teguh)****







