KAPOL.ID – Inovasi di sektor pertanian modern kembali lahir dari tangan dingin para siswa di wilayah Tasikmalaya Selatan. Kali ini, SMK PK Nurussalam Salopa berhasil membuktikan kemandiriannya melalui budidaya melon jenis “The Blues” yang kini menjadi primadona baru di sekolah tersebut.
Langkah produktif ini digerakkan oleh para siswa Jurusan Agrobisnis Tanaman Pertanian Hortikultura (ATPH). Dengan memanfaatkan lahan praktik sekolah, mereka mengelola sedikitnya 300 bibit melon secara mandiri hingga memasuki masa produktif.
Kepala SMK PK Nurussalam, Dedi ZM mengungkapkan, program ini merupakan bagian dari upaya sekolah dalam mencetak lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tapi juga mumpuni secara teknis dan manajerial di lapangan.
”Dengan masa tanam sekitar 75 hari, kualitas buah yang dihasilkan sangat menjanjikan. Insya Allah, panen perdana dijadwalkan pada hari Minggu, 3 Mei 2026 mendatang,” ujar Dedi, Kamis (30/4/2026).
Rencananya, momen panen tersebut akan dihadiri oleh unsur Muspika Kecamatan Salopa serta Kepala KCD Pendidikan Wilayah XII. Untuk memanjakan konsumen pada panen perdana ini, pihak sekolah mematok harga promo sebesar Rp 25.000 per kilogram.
Dedi mengisahkan, perjalanan merintis budidaya ini tidaklah instan. Sejak dimulai pada tahun 2025, program ini merupakan pengembangan dari pemberdayaan sebelumnya yang berfokus pada komoditas cabai dan tomat. Kini, sekolah mulai merambah ke komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti Melon jenis Crush dan Blue.
”Kami memulai dengan penuh keterbatasan. Mulai dari belajar teknik tanam, penyesuaian kondisi tanah, hingga perawatan intensif. Namun dengan semangat kebersamaan para siswa, hasilnya perlahan mulai terlihat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dedi menegaskan bahwa program ini memiliki target ganda. Selain memperdalam pengetahuan siswa tentang sistem bercocok tanam modern, mereka juga diajarkan langsung mengenai strategi pemasaran atau marketing hasil pertanian.
”Semangat kami adalah menjadikan melon sebagai komoditas unggulan di SMK PK Nurussalam. Ke depan, kami ingin mengembangkan lebih banyak jenis tanaman sehingga sekolah ini bisa menjadi pusat unggulan di bidang pertanian,” harap Dedi.
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan kemitraan binaan mampu melahirkan potensi besar di sektor pertanian, sekaligus menjadi harapan baru bagi kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah Salopa.
”Inovasi ini menjadi bukti bahwa anak muda, khususnya siswa SMK, mampu melahirkan potensi besar jika diberi ruang untuk berkreasi,” pungkasnya. (Adji Shg)






