KAPOL.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus tancap gas dalam membenahi infrastruktur kota. Fokus utama saat ini diarahkan pada perbaikan jalan, penataan trotoar, hingga optimalisasi drainase yang dilakukan secara bertahap di sejumlah titik strategis.
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, Rizky Kusrulyadi mengungkapkan, saat ini terdapat 10 ruas jalan yang masuk dalam tahap awal perbaikan. Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memberikan kenyamanan bagi warga dan pelancong.
“Untuk kondisi terkini, kami sudah bersiap melaksanakan perbaikan di 10 ruas jalan. Dalam satu paket pekerjaan, bisa terdiri dari beberapa ruas yang saling terhubung,” ujar Rizky, Kamis (30/4/2026).
Rizky menjelaskan, penanganan infrastruktur ini mengacu pada arahan Wali Kota Bandung. Prioritas diberikan kepada kawasan yang menjadi urat nadi aktivitas ekonomi, destinasi wisata, serta akses pendidikan.
Dari pantauan, salah satu ruas jalan yang telah rampung dikerjakan adalah Jalan Sunda. Sementara itu, beberapa titik lain yang tengah dan akan segera ditangani meliputi Jalan Tamansari, Jalan Sulanjana, Jalan Wastukencana, Jalan Gunung Batu, Jalan Sukaraja, hingga kawasan Astanaanyar.
Mengenai durasi pengerjaan, Rizky menyebut target penyelesaian dalam satu kontrak berkisar tiga bulan. Namun, ia mengapresiasi kinerja di lapangan karena beberapa titik justru rampung lebih cepat dari jadwal.
“Targetnya sekitar tiga bulan, tetapi ada beberapa yang sudah selesai sebelum masa kontrak berakhir,” katanya.
Tak berhenti di situ, perbaikan ini akan berlanjut ke tahap kedua yang saat ini sedang dalam proses persiapan dokumen pengadaan, serta tahap ketiga yang masuk pada finalisasi perencanaan.
Selain jalan raya, estetika dan fungsi trotoar juga tak luput dari perhatian. Jika proses pengadaan berjalan lancar, DSDABM akan segera menata 11 ruas trotoar di kawasan-kawasan ikonik.
Sebut saja Jalan Ir. H. Juanda (Dago), Jalan Merdeka, Jalan LLRE Martadinata (Riau), Jalan Braga, hingga Jalan Asia Afrika. Kawasan-kawasan ini diproyeksikan akan lebih ramah bagi pejalan kaki dengan kondisi fisik yang lebih mumpuni.
“Perbaikan bisa berupa fisik maupun kelengkapannya, terutama pada titik-titik yang saat ini penataannya dirasa masih kurang maksimal,” jelas Rizky.
Terkait masalah drainase, Rizky menambahkan bahwa penanganan dilakukan secara tersebar. Hal ini merespons langsung usulan masyarakat yang masuk melalui reses, Musrenbang, serta berbagai program prioritas di tingkat kewilayahan guna meminimalisir potensi genangan di saat hujan. ***












