BUDAYA

Melodi Abadi: Bagaimana Kampus dan Radio Jaga Keroncong Tetap Hidup di Bandung

×

Melodi Abadi: Bagaimana Kampus dan Radio Jaga Keroncong Tetap Hidup di Bandung

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Kota Bandung kembali menunjukkan diri sebagai salah satu ruang hidup musik keroncong di Indonesia. Di tengah derasnya arus musik modern dan budaya digital, suara cak, cuk, gitar, hingga nuansa akustik khas keroncong ternyata masih terus tumbuh di kalangan anak muda.

Fenomena itu kini sedang didokumentasikan oleh Dr. Hery Supiarza, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Melalui sebuah film dokumenter, Hery ingin merekam perjalanan musik keroncong di Indonesia, khususnya di Jawa Barat, sekaligus menelusuri bagaimana radio memiliki peran besar dalam menjaga denyut hidup keroncong di Kota Bandung.

Menurut Hery, ide membuat dokumenter itu lahir dari kedekatannya dengan musik keroncong sejak lama. Bahkan saat menempuh pendidikan doktoral, ia mengangkat keroncong sebagai tema disertasinya.

“Disertasi saya itu musik keroncong. Jadi saya memang cukup mendalami bagaimana perjalanan dan perkembangan keroncong di Indonesia,” kata Hery di Bandung, Jumat (22/5/2026).

Ia menceritakan, keterlibatannya dengan keroncong dimulai sejak akhir 1990-an. Saat itu, ia aktif bersama komunitas Orkes Keroncong Rindu Order, kelompok musik yang cukup dikenal di kalangan pecinta keroncong Bandung.

“Dulu saya satu-satunya dari UPI. Lalu saya mulai membawa keroncong masuk ke kampus dan perlahan berkembang sampai sekarang,” katanya.

Bagi Hery, Bandung memiliki sejarah panjang dalam perkembangan musik keroncong. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka, Bandung disebut pernah menjadi salah satu pusat perkembangan musik tersebut.

Ia menemukan sejumlah catatan sejarah yang menyebut keroncong sempat begitu populer di Kota Bandung pada era 1920 hingga 1930-an. Menariknya, musik keroncong saat itu sangat berbeda dengan format yang dikenal masyarakat sekarang.

“Kalau kita dengar keroncong tahun 20-an itu lebih seperti gypsy jazz. Ada brass section, string, bass betot, dan nuansa pesta rakyat. Belum ada format cak-cuk seperti sekarang,” ungkapnya.

Hery juga menyinggung adanya catatan dari seorang jurnalis Belanda yang menyebut musik keroncong pernah dilarang di Bandung karena dianggap memicu keributan sosial.

“Lucu juga kalau dipikir sekarang. Masa lagu seperti ‘Di Bawah Sinar Bulan Purnama’ dianggap bisa memicu kekacauan. Tapi dari situ kita tahu keroncong dulu sangat dekat dengan kehidupan masyarakat urban,” tuturnya.

Dalam penelusurannya, Hery melihat perubahan besar musik keroncong mulai terjadi pada era Presiden Soekarno. Saat itu, pemerintah mulai melakukan standarisasi musik keroncong sebagai bagian dari identitas nasional.

Menurut Hery, peran radio sangat penting dalam proses tersebut. Melalui siaran radio dan rekaman dari Lokananta, keroncong dengan gaya Solo mulai dikenal luas di seluruh Indonesia.

“Radio menjadi agen utama penyebaran keroncong. Dari situlah masyarakat mengenal bentuk keroncong yang sekarang dianggap klasik,” katanya.

Namun di Bandung, perkembangan keroncong justru bergerak lebih bebas. Hery menilai karakter masyarakat urban membuat keroncong di Bandung berkembang tanpa pakem yang terlalu kaku..

“Bandung itu unik. Karena bukan tempat lahir keroncong, jadi masyarakatnya lebih bebas bereksperimen. Makanya sekarang muncul gaya keroncong khas Bandung,” ujarnya.

Dalam film dokumenter yang tengah digarapnya, Hery ingin menampilkan bagaimana radio-radio di Bandung ikut menjadi motor kebangkitan keroncong anak muda. Salah satu tokoh yang dianggap berpengaruh adalah Ganang Partho atau yang akrab disapa Mas Partho.

Menurut Hery, program musik keroncong live di radio yang dibawakan Ganang pada era awal 2000-an menjadi titik penting lahirnya komunitas keroncong muda di Bandung.

“Program live performance di radio waktu itu jadi cikal bakal gerakan keroncong anak muda. Anak-anak kampus mulai tertarik lagi memainkan keroncong,” katanya.

Dari radio, geliat itu kemudian menyebar ke berbagai kampus dan komunitas seni di Jawa Barat. Tidak hanya di UPI, keroncong juga berkembang di Institut Seni Budaya Indonesia Bandung hingga komunitas-komunitas daerah seperti di Cicalengka.

Mahasiswa-mahasiswa yang kemudian menjadi guru seni turut membawa semangat keroncong ke sekolah dan ruang publik. Salah satunya lewat kegiatan Kemah Keroncong yang mulai rutin digelar di sejumlah daerah.

Hery menilai radio tetap memiliki kekuatan besar dalam membangun imajinasi dan kedekatan emosional masyarakat terhadap musik.

“Radio itu punya kekuatan sendiri. Suara membuat orang bebas berimajinasi. Itu yang tidak tergantikan,” ucapnya.

Ia berharap film dokumenter yang dibuatnya bukan sekadar menjadi arsip sejarah, tetapi juga mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap musik keroncong.

“Film dokumenter itu bukan cuma memberi informasi, tapi mengubah paradigma berpikir penonton,” katanya.

Sementara itu, Ganang Partho menilai musik keroncong hingga kini masih memiliki tempat di hati anak muda. Namun ia menegaskan, keroncong harus terus beradaptasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Kalau audiensnya anak muda, tentu lagu-lagu yang dimainkan juga harus dekat dengan mereka. Tapi lagu-lagu pakem keroncong tetap harus dikenalkan,” ujar Ganang.

Menurutnya, tantangan terbesar keroncong saat ini bukan sekadar melestarikan, melainkan melakukan regenerasi dan pewarisan budaya.

“Kuncinya regenerasi. Jadi bukan hanya melestarikan, tapi mengembangkan dan mewariskan,” katanya.

Ganang juga melihat tren pertunjukan musik di ruang publik selama hampir dua dekade terakhir mendapat respons positif di Jawa Barat. Tak jarang anak muda dan orang tua menikmati pertunjukan keroncong bersama dalam satu ruang yang sama.

“Kalau dulu keroncong identik dengan musik orang tua, sekarang sudah mulai berubah. Tinggal bagaimana kita terus memperbaharui cara penyajiannya,” pungkasnya. ***