KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Rangkaian Kirab Budaya Mahkota Binokasih yang tengah bergulir bukan sekadar parade kosmetik tanpa makna. Di balik sakralnya simbol mahkota emas peninggalan Kerajaan Pajajaran tersebut, ada misi besar yang sedang diikhtiarkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yakni menghidupkan kembali “ruh” Tatar Sunda yang mulai meredup tergerus zaman.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si., menegaskan bahwa kirab ini merupakan bagian integral dari momentum Milangkala Tatar Sunda. Merujuk pada amanat yang kerap disampaikan Penjabat Gubernur, helaran ini mengusung tiga misi utama bagi masyarakat Jawa Barat.
”Pertama, kita ingin mengangkat kembali kejayaan Tatar Sunda. Kedua, merawat dan membumikan kembali kebudayaan Sunda. Dan yang ketiga, yang paling krusial, adalah mengembalikan jati diri Urang Sunda itu sendiri,” ujar Iendra, di Gedung Sate, Bandung, Minggu (17/5/2026)
Iendra menjelaskan, kebesaran Tatar Sunda masa lalu tidak melulu soal kekuasaan, melainkan bagaimana para leluhur memperlakukan alam. Semangat itulah yang ingin diinjeksikan kembali kepada generasi hari ini.
Budaya Sunda, menurutnya, sangat lekat dengan pelestarian lingkungan. Hal ini tecermin dari falsafah hidup kuno yang semestinya menjadi kompas ekologis masyarakat modern:
Leuweung kudu Awian (Hutan harus ditanami bambu/dijaga): Menjaga hutan sebagai benteng dan sumber kehidupan.
Lengkob kudu Balongan (Lembah/lekukan tanah harus dijadikan kolam): Ikhtiar menjaga kelestarian dan ketersediaan air.
Lebak kudu Sawahan (Dataran rendah harus dijadikan sawah): Perwujudan dari kemandirian dan ketahanan pangan.
”Jadi, merawat budaya Sunda itu artinya kita juga berkomitmen menjaga alam. Menjaga hutan, merawat sumber air, dan memastikan ketahanan pangan kita kokoh. Itu esensi konkretnya,” tambah Kadisparbud.
Kendati sarat makna filosofis, gelaran ritual adat yang kini mulai kerap tampil di ruang publik ini tak lepas dari sorotan. Sebagian kalangan, termasuk beberapa ulama, sempat menyatakan keberatan atau merasa “gerah” dengan ekspresi ritualistik yang dinilai bersinggungan dengan ranah teologis.
Menyikapi riak-riak perbedaan tersebut, Iendra Sofyan meresponsnya dengan kepala dingin dan bijak. Menurutnya, pro-kontra dalam proses penggalian kembali sejarah dan budaya adalah hal yang lumrah.
”Perbedaan pendapat dan persepsi itu sesuatu yang sangat wajar. Apalagi saat ini kita sedang berupaya menggali kembali sesuatu yang (sempat) hilang atau sengaja dihilangkan. Kita butuh banyak referensi valid dari dokumen-dokumen yang tercecer, dan tentu saja, cara membaca referensi itu akan berbeda tergantung sudut pandang masing-masing,” paparnya.
Alih-alih melihat kritik tersebut sebagai batu sandungan, Disparbud Jabar justru memandangnya sebagai wujud kepedulian yang tinggi dari masyarakat, termasuk dari para pemuka agama, terhadap dinamika kebudayaan di Jawa Barat.
”Kami sangat mengapresiasi perhatian dari berbagai pihak, termasuk para ulama. Tugas kita bersama selanjutnya adalah bagaimana merajut semua sudut pandang ini, menyatukan potongan-potongan sejarah, hingga menjadi sebuah gambar utuh tentang Tatar Sunda yang gemah ripah loh jinawi tanpa kehilangan arah,” pungkas Iendra. (Am)








