KANAL

Ketegangan di Pasar Cimalaka, Warga Bakar Ban Tolak Pembongkaran Paksa

×

Ketegangan di Pasar Cimalaka, Warga Bakar Ban Tolak Pembongkaran Paksa

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE – Senin ( 6/7) Suasana di kawasan pasar Cimalaka Sumedang mendadak mencekam menyusul aksi unjuk rasa warga dan pedagang yang menolak keras rencana eksekusi lahan. Aksi protes yang disiarkan secara langsung melalui platform TikTok ini sempat menyedot perhatian ribuan netizen setelah situasi di lokasi memanas dengan adanya aksi pembakaran ban di tengah jalan.

Berdasarkan pantauan dari siaran digital akun Rajawali”…”, kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi dari tumpukan ban bekas yang dibakar massa tepat di lajur Jalan Nasional. Sejumlah pedagang dan warga setempat, didominasi oleh kaum pria, tampak berkumpul dalam barisan rapat. Mereka memasang barikade hidup sekaligus membentangkan spanduk kuning besar sebagai simbol perlawanan atas kebijakan yang dinilai tebang pilih.

Berdasarkan informasi, ketegangan ini dipicu oleh adanya pemberitahuan mengenai rencana pembongkaran pasar secara paksa oleh pihak berwenang. Bagi para pedagang, kebijakan ini bagai petir di siang bolong yang mengancam kelangsungan ekonomi mereka.

“Ini urusan perut. Pasar ini adalah satu-satunya tempat kami mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Kalau dibongkar paksa tanpa ada relokasi yang layak atau ganti rugi yang adil, sama saja mematikan mata pencaharian kami,” ujar salah satu narasi yang berkembang di tengah massa aksi.

Warga menilai, langkah eksekusi sepihak ini mencerminkan minimnya ruang dialog yang diberikan oleh pihak otoritas kepada masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya di sektor informal tersebut.

Aksi teatrikal bakar ban ini tidak hanya memicu kemacetan di jalur utama Jalan Nasional Cirebon – Bandung tetapi juga memanen gelombang reaksi dari netizen di jagat maya. Dalam kolom komentar live streaming, masyarakat menyoroti kepemimpinan Kepala Desa setempat atau yang akrab disiarkan dengan istilah Kuwu oleh warga Sunda.

“Kuwu na kawani na tos ka ukur (Kepala desanya, keberaniannya sudah terukur),” tulis salah seorang netizen, mengisyaratkan kekecewaan publik terhadap arogansi kebijakan pemerintah desa yang dinilai terlalu memaksakan kehendak tanpa melalui jalur musyawarah mufakat.

Meski demikian, tidak sedikit netizen yang mengingatkan massa agar tetap menjaga kondusivitas.

“Tong dudurukan d jln bisi beunang kabatur nu teu nyaho nanaon (Jangan bakar-bakaran di jalan, takutnya kena orang lain yang tidak tahu apa-apa),” tulis komentar lainnya yang mengkhawatirkan keselamatan pengguna jalan yang melintas.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi dilaporkan masih dijaga ketat oleh aparat keamanan. Belum ada pernyataan resmi dari pihak Kecamatan Cimalaka maupun Kapala Desa terkait kompensasi atau opsi relokasi pasca-rencana pembongkaran paksa tersebut.

Pedagang menegaskan akan tetap bertahan di lokasi hingga ada solusi konkrit yang tidak merugikan sebelah pihak.***