KABAR PRIANGAN ONLINE — Gejolak internal hebat diduga tengah melanda Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Jawa Barat. Ketegangan di tubuh partai berlogo pohon beringin ini kian memanas hingga memicu wacana aksi “bedol desa”.
Disinyalir, ratusan kader muda bersama sejumlah tokoh senior dilaporkan siap angkat kaki secara massal dan mengalihkan haluan politik mereka ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpin oleh Kaesang Pangarep.
Langkah drastis ini diduga diambil sebagai bentuk protes keras dan mosi tidak percaya terhadap kebijakan Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Daniel Mutaqien Syafiuddin. Diberitakan para kader menilai, kepemimpinan Daniel terkesan asal-asalan dalam merombak dan mengangkat pengurus baru.
Proses restrukturisasi tersebut dianggap melabrak tatanan organisasi karena sama sekali tidak mempertimbangkan rekam jejak, senioritas, maupun kontribusi nyata yang selama ini telah diberikan para kader terhadap partai.
Menanggapi kemelut yang kian meruncing ini, pakar komunikasi politik Dr. Adi Suparto memberikan analisis tajam. Menurut Adi, konflik ini berakar dari gaya kepemimpinan di internal partai yang dinilai belum matang dan rentan memecah belah soliditas dari dalam.
“Kebijakan tersebut mencerminkan ketidakmatangan pemimpin karena hanya mengakomodasi lingkaran terdekat dan menciptakan kubu ‘kita vs mereka’,” ujar Dr. Adi Suparto kepada salah satu media online .
Lebih lanjut disebutkan, Adi menyoroti rusaknya sistem kaderisasi di tubuh Golkar Jabar akibat adanya praktik rekrutmen yang diduga tidak sehat. Ia memperingatkan bahwa mengabaikan prinsip meritokrasi demi kedekatan personal akan menjadi bumerang fatal bagi organisasi.
“Jika pola rekrutmen eksklusif dan mengabaikan dinamika internal ini terus berlanjut, soliditas partai dipastikan hancur. Gelombang hengkangnya kader-kader potensial diprediksi masih akan terus mengalir,” tegasnya.
Kondisi internal yang retak ini dinilai tidak hanya merugikan organisasi secara struktural, tetapi juga mengancam posisi politik Golkar di Jawa Barat yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung suara terbesar di Indonesia.
Dr. Adi Suparto memprediksi dampak fatal akan langsung terasa pada kontestasi politik mendatang jika faksionalisme dan perpecahan ini tidak segera dimitigasi oleh elite partai pusat.
“Dampak fatalnya, Golkar Jawa Barat terancam ditinggalkan oleh para pendukung setia. Jika tidak ada evaluasi total, perolehan suara mereka diprediksi bakal terjun bebas pada Pemilu 2029 mendatang,” pungkas Adi seperti dikutip mediakarya.id
Hingga saat ini, publik masih menunggu langkah strategis dari DPP Golkar untuk meredam riak eksodus massal ini.***












