KANAL

Prahara Hotman Paris: Sakit Saraf Kejepit Sungguhan atau Lari dari “Bisa” Laporan Wartawan?

×

Prahara Hotman Paris: Sakit Saraf Kejepit Sungguhan atau Lari dari “Bisa” Laporan Wartawan?

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE — Ada harga mahal yang harus dibayar dari ketegaran yang tak terukur. Bagi advokat kondang Hotman Paris Hutapea, pepatah “Mulutmu Harimaumu” kini mewujud nyata.

Di tengah pusaran perkara besar mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, sang pengacara flamboyan itu mengambil manuver mengejutkan: mundur secara resmi dari tim kuasa hukum.

Namun, publik dibuat bertanya-tanya: apakah langkah ini murni takluknya sang advokat pada kondisi fisik yang menggerogoti, ataukah sekadar ajang “cuci tangan” dan drama escape demi menghindari gelombang protes serta beruntunnya laporan polisi terkait dugaan perendahan profesi jurnalis?

Digerogoti Saraf Kejepit atau “Demam” Laporan Polisi?

Pengumuman penarikan diri disampaikan langsung oleh Hotman di Rumah Sakit Medistra, Jakarta Selatan. Duduk di atas kursi roda dengan pinggang terbebat kain hitam, Hotman menunjukkan gestur sosok yang tak berdaya menghadapi vonis dokter pascaoperasi saraf kejepit di Singapura.

“Langkah ini murni karena masalah kesehatan yang tidak lagi memungkinkan untuk mendampingi klien secara optimal,” kilah Hotman di hadapan awak media.Kamis (23/7)

Narasi krisis medis ini terasa teramat pas momennya (too convenient). Publik tak bisa begitu saja lupa bahwa sebelum terbaring di kursi roda, Hotman baru saja memicu amarah nasional akibat sikap arogannya melontarkan ucapan yang dinilai merendahkan martabat jurnalis mulai dari umpatan “lu punya otak enggak?” hingga gestur arogan di depan kamera. Buntut aksi tersebut, PWI hingga IJTI resmi mempolisikan sang pengacara ke Polda Metro Jaya.

Munculnya klaim “terancam lumpuh” dan pengakuan nekat kabur dari RS Singapura di tengah kecaman yang memuncak pun mengundang sindiran tajam: apakah “Raja Bandel” ini benar-benar dilumpuhkan oleh sarafnya, atau sedang lumpuh panggung akibat ancaman pidana dari insan pers yang meradang?

Di balik klaim kondisi medisnya yang memburuk, Hotman memang mengakui ketidakdisiplinannya sendiri. Usai menjalani operasi bius total di Singapura, ia melanggar restu tim medis dengan kabur dari rumah sakit setelah dua malam, mengabaikan instruksi total bed rest, dan memilih langsung melantai menangani kasus-kasus kakap.

“Aku raja bandel, baru dua malam aku kabur ke Hilton Hotel di Singapura. Padahal dokter melarang,” aku Hotman.

Kini, kombinasi antara rasa sakit fisik akibat kecetit kronis dan tekanan psikologis dari rentetan tuduhan menghina profesi jurnalis memaksa Hotman mengonsumsi pereda nyeri (painkiller) dosis tinggi. Ia diinformasikan harus terbang kembali ke Singapura guna menjalani perawatan intensif lanjutan.

Langkah mundur Hotman tak ayal mengguncang taktik hukum Febrie Adriansyah dalam menghadapi jeratan pasal korupsi dan TPPU. Kehilangan penasihat hukum berjam terbang tinggi sepertinya memaksa tim Febrie merombak total barisan pertahanan di meja hijau.

Betapapun tajamnya argumen yang biasa dilontarkan di panggung peradilan dan betapa lantangnya sesumbar yang pernah ia ucapkan kepada media, tragedi ini menyisakan cermin jernih: ketika lidah tak lagi terkontrol dan tubuh menolak dikompromikan, sang “Raja Bandel” pada akhirnya tak punya pilihan selain angkat bendera putih dan menepi dari arena.(Guh)***