KANAL

Sulap Kamar Kosong Jadi Tempat Spa, Popon Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Mandiri

×

Sulap Kamar Kosong Jadi Tempat Spa, Popon Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Mandiri

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) –  Sebuah kamar sederhana di Jalan Bukit Raya Atas No.49, Ciumbuleuit, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, kini disulap menjadi ruang perawatan yang sarat nuansa inspiratif. Aroma terapi yang menguar lembut berpadu dengan alunan musik pelan, langsung menyapa dan memberikan ketenangan bagi siapa saja yang melangkah masuk.

​Tanpa kemewahan berlebih, dari kesederhanaan itulah lahir konsep home spa yang mengedepankan suasana privat, hangat, dan penuh kenyamanan.

​Di balik hadirnya Latifah Spa, ada sosok Popon Siti Latifah (39). Perempuan tangguh penyandang tunanetra sejak duduk di bangku sekolah dasar ini membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tak pernah memadamkan semangatnya untuk terus berkarya dan mandiri.

​Selain berkiprah sebagai instruktur spa dan massage putri di Sentra Wyataguna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Popon sebenarnya sudah hampir tiga tahun melayani perawatan panggilan ke rumah, hotel, apartemen, hingga perkantoran.

​”Ternyata banyak pelanggan yang ingin treatment di tempat yang lebih nyaman. Dari situlah saya akhirnya memutuskan membuka satu ruang treatment di rumah,” ujar Popon, Jumat (31/7/2026).

​Ruangan yang semula tak terpakai kini berdaya guna dan bertransformasi menjadi tempat perawatan yang ramah serta akrab bagi para pelanggan.

​”Saya manfaatkan kamar kosong supaya lebih berdaya guna. Alhamdulillah, sekarang bisa menghasilkan juga untuk saya,” tutur Latifah

​Latifah Spa sendiri menawarkan beragam varian layanan perawatan, mulai dari Body MassageShiatsuBody Scrub, Masker Badan, hingga Totok Wajah.

​Bagi Popon, pelayanan bukan sekadar memberikan relaksasi fisik, melainkan menghadirkan pengalaman emosional agar pelanggan merasa layaknya di rumah sendiri. Alasan itu pula yang mendorongnya mengusung slogan “Private dan Intimate”.

​”Pelanggan bisa menikmati treatment dengan suasana yang lebih pribadi, lebih akrab, dan tidak kaku,” katanya.

​Tak berhenti pada pengembangan usaha pribadi, Popon juga membuka kelas privat bagi masyarakat yang berminat mempelajari keterampilan spa dan massage sebagai bekal profesi.

​Perjalanan hidup perempuan kelahiran 28 Februari 1986 ini seolah menegaskan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti memupuk asa. Refleksi perjuangannya bahkan telah dituangkan dalam buku antologi puisi dan sajak berjudul Kupinjamkan Mataku pada Malam yang diterbitkan Ultimus pada 2024 lalu.

​Semangat pemberdayaan sesama juga ia wujudkan melalui pendirian Blind’s Moms Community sebuah wadah berkumpulnya para ibu penyandang tunanetra untuk saling menguatkan dan tumbuh bersama.

​Di tengah padatnya aktivitas profesional dan sosial, Popon tetap aktif menyalurkan berbagai hobinya, seperti berenang, bermain catur, hingga olahraga bowling.

​”Bagi saya, melihat dunia itu tidak harus dengan mata. Bisa dengan hati, dengan sentuhan, dan melalui karya,” ungkapnya

​Melalui keberadaan Latifah Spa, Popon tak sekadar memutar roda ekonomi keluarga. Lebih dari itu, ia menghadirkan ruang hangat bagi kaum perempuan untuk melepas penat, sekaligus menyebarkan pesan kuat bahwa keterbatasan fisik tak pernah menjadi penghalang untuk terus berkarya dan menginspirasi sesama. (FTH)