KANAL

Soal Pakan Mahal hingga Akses Pasar, DKP Jabar Siapkan Langkah Strategis Bantu Pembudidaya ​

×

Soal Pakan Mahal hingga Akses Pasar, DKP Jabar Siapkan Langkah Strategis Bantu Pembudidaya ​

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Melonjaknya harga pakan masih menjadi hal yang menakutkan bagi para pembudidaya ikan di Jawa Barat.

Menanggapi persoalan tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat terus memutar otak untuk menekan tingginya biaya produksi, mulai dari pemanfaatan alternatif bahan pakan seperti maggot hingga mengkaji skema intervensi anggaran pada 2027 mendatang.

​Kepala DKP Provinsi Jawa Barat, Rinny Cempaka, mengaminkan bahwasanya urusan pakan merupakan pekerjaan rumah (PR) besar yang butuh solusi konkret. Apalagi fluktuasi nilai tukar mata uang turut mendongkrak harga pakan konvensional yang sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor.

​“Urusan pakan ini juga jadi PR. Apalagi sekarang dolar juga naik, otomatis pakan ini naik terus harganya mengikuti karena kan impor,” kata Rinny saat ditemui di sela-sela Bazar UMKM di Halaman Kantor DKP Jabar, Kota Bandung, Jumat (4/9/2026)

​Kondisi tersebut jelas mencekik pembudidaya. Ketika biaya operasional melambung sementara harga jual ikan di pasaran cenderung stagnan, margin keuntungan peternak otomatis tergerus.

​Melihat situasi ini, DKP Jabar mendorong pemanfaatan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) yang diolah menjadi tepung pakan. Langkah ini dinilai relevan sebagai formulasi pakan alternatif yang lebih hemat tanpa mengabaikan kebutuhan gizi ikan.

​Tak cuma itu, DKP Jabar bersama DPRD juga tengah mengkaji peluang skema bantuan atau intervensi pakan mirip pola subsidi pupuk di sektor pertanian. Namun, Rinny menegaskan seluruh mekanismenya wajib dimatangkan agar sesuai regulasi, tepat sasaran, dan tidak melanggar aturan persaingan usaha.

​“Ini sedang kita coba kaji. Kira-kira yang paling pas bentuknya seperti apa, kemudian mekanismenya bagaimana, yang tentunya aman dan bisa dilaksanakan. Insya Allah didoakan teman-teman pembudidaya supaya ini bisa goal di provinsi, kemudian jadi inspirasi nasional,” paparnya.

​Diharapkan, jika formulasi intervensi tersebut rampung dan disetujui, uji coba program bakal mulai direalisasikan pada tahun 2027 mendatang. Langkah ini sekaligus menjadi jawaban atas penurunan angka produksi budidaya akibat cuaca ekstrem belakangan ini.

​Bukan cuma persoalan hulu, DKP Jabar juga menaruh perhatian besar pada sektor hilir. Untuk membantu pemasaran produk olahan perikanan, DKP rutin menggelar bazar dengan menggandeng lebih dari 30 pelaku UMKM serta kolaborasi lintas dinas seperti DTPH, Disperindag, dan Dekranasda.

​“Kami terus berupaya rutin melakukan pemasaran dengan mengajak teman-teman UMKM, terutama untuk produk perikanan,” tutur Rinny.

​Selain ruang promosi seperti di ajang Sunda Karsa Fest Karya Kreatif Jawa Barat 2026, aspek keamanan dan higienitas produk tetap menjadi prioritas utama. Karena itu, kegiatan bazar turut diselingi edukasi lewat tayangan podcast yang melibatkan pelajar dan pelaku usaha guna meningkatkan budaya gemar makan ikan serta standar mutu pengolahan hasil laut dan darat. (JM)