KANAL

JHB Dorong MINA Kahuripan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

×

JHB Dorong MINA Kahuripan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Potensi perikanan rakyat di Kabupaten Tasikmalaya mulai dilirik sebagai salah satu sektor yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat desa.

Hal itu terlihat dari aktivitas Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) MINA Kahuripan Abadi di Blok Cinyungcung, Desa Selawangi, Kecamatan Sariwangi.

Potensi tersebut menjadi perhatian Perkumpulan Jurnalis Hukum Bandung (JHB) saat melakukan kunjungan lapangan ke kawasan budidaya ikan tersebut, Sabtu-Minggu, 26-27 September 2026.

Kunjungan itu merupakan bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-7 JHB yang jatuh pada 1 Oktober 2026. Kegiatan dikemas melalui program JHB Peduli Ekonomi Kerakyatan dengan melihat langsung potensi usaha masyarakat di tingkat desa, khususnya sektor perikanan.

Ketua JHB, Suyono, mengatakan kunjungan tersebut menjadi momentum bagi para jurnalis untuk melihat secara langsung upaya masyarakat mengembangkan ekonomi berbasis sumber daya lokal.

Menurutnya, Pokdakan MINA Kahuripan Abadi memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan. Terlebih, sejumlah pengurus dan anggotanya juga memiliki latar belakang sebagai jurnalis.

Namun, kata Suyono, perhatian JHB tidak hanya tertuju pada aktivitas budidaya ikan, tetapi juga bagaimana potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.

“Pokdakan MINA Kahuripan di Tasikmalaya ini memiliki potensi yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Bagi teman-teman JHB yang ingin investasi, ini juga dapat meningkatkan penghasilan,” kata Suyono.

Ia berharap budidaya ikan tersebut dapat berjalan beriringan dengan sektor pertanian sehingga ke depan terbentuk konsep pertanian terpadu yang melibatkan lebih banyak masyarakat.

“Semoga apa yang dilakukan dan tujuan besar Pokdakan MINA Kahuripan Abadi dalam mengembangkan budidaya ikan dan pertanian terpadu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” ujarnya.

Sementara itu, Manajer Pokdakan MINA Kahuripan Abadi, Faisal Amirudin atau akrab disapa Isal, mengatakan saat ini kelompoknya membina sekitar 20 kolam ikan yang tersebar di wilayah desa.

Dalam satu siklus, ikan dapat dipanen sekitar empat bulan sekali dengan kapasitas mencapai kurang lebih satu ton.

“Binaan kami terdiri dari 20 kolam ikan yang tersebar di wilayah desa. Siklus panennya sekitar empat bulan sekali, dengan kapasitas panen mencapai satu ton,” ucap Isal.

Pengembangan kelompok, lanjut dia, tidak hanya berhenti pada budidaya ikan. Potensi alam yang tersedia juga mulai diarahkan untuk mendukung konsep pertanian terpadu.

Untuk mewujudkan kawasan tersebut, sejumlah kebutuhan dasar dibangun secara bertahap. Salah satunya penyediaan sumber air.

“Kami baru saja menyelesaikan sumber air. Kami membangun saluran sejauh 100 meter yang menembus area perbukitan. Dari proses itu, kami belajar bahwa ketika kita membuka diri dan mau berkolaborasi, bantuan datang dari mana-mana,” ungkapnya.

Saluran tersebut kini mampu mengalirkan air menuju kolam-kolam ikan. Pokdakan menggunakan pipa berdiameter enam inci untuk mendukung distribusi air.

“Sekarang air sudah mengalir hingga ke kolam-kolam ikan. Ukuran pipanya enam inci atau sebesar paha orang dewasa. Cukup untuk memenuhi kebutuhan di sini,” tuturnya.

Meski memiliki potensi air dan budidaya ikan yang cukup menjanjikan, Pokdakan MINA Kahuripan Abadi masih menghadapi persoalan infrastruktur.

Akses jalan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu segera mendapat perhatian. Kondisi jalan saat ini membuat kendaraan roda dua belum dapat masuk dengan leluasa menuju kawasan budidaya.

“Kami berharap akses jalan bisa segera terbangun menuju lokasi budidaya ikan, karena akses transportasi sangat penting untuk mendukung aktivitas produksi, mulai dari mengangkut pakan, sarana budidaya hingga membawa hasil panen keluar dari lokasi,” jelasnya.

Selain akses jalan, kebutuhan energi juga mulai dipikirkan untuk mendukung pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

Sejumlah opsi tengah dikaji, mulai dari pemanfaatan energi mikrohidro, pembangkit listrik tenaga air hingga tenaga surya.

“Yang pertama akses jalan, yang kedua sumber listrik. Itu opsi-opsi yang akan kami lakukan ke depan,” paparnya.

Isal menuturkan, kawasan tersebut memiliki potensi alam cukup besar. Bahkan saat musim kemarau, ketersediaan air masih relatif melimpah dan menjadi modal penting bagi pengembangan budidaya perikanan sekaligus pertanian terpadu.

Ia berharap kawasan tersebut nantinya tidak hanya menjadi lokasi produksi ikan, tetapi berkembang menjadi kawasan ekonomi yang melibatkan masyarakat sekitar.

“Ini bukan keinginan seorang, tapi keinginan kolektif masyarakat. Ketika kawasan ini terwujud, akan banyak masyarakat terlibat, terjadi transaksi ekonomi, agrobisnis di sini,” ujarnya.

Karena itu, Pokdakan MINA Kahuripan Abadi membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak yang ingin terlibat dalam pengembangan potensi ekonomi lokal, termasuk kalangan jurnalis maupun investor yang memiliki ketertarikan terhadap sektor budidaya perikanan.

“Intinya kami ingin memaksimalkan potensi yang ada di kampung kami. Tidak ada lagi yang bisa memajukan desa selain masyarakatnya sendiri,” pungkasnya.

Kunjungan JHB tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan silaturahmi. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjadi ruang untuk memperluas jejaring, membuka peluang kolaborasi, sekaligus mendorong perhatian terhadap sektor perikanan rakyat sebagai salah satu potensi ekonomi lokal di Kabupaten Tasikmalaya.

Di tengah keterbatasan akses jalan dan kebutuhan energi, MINA Kahuripan Abadi menunjukkan pengembangan perikanan berbasis masyarakat dapat dimulai dari desa dengan mengandalkan potensi alam, kolaborasi dan kemauan masyarakat untuk mengelolanya secara bersama-sama. (AM)