KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Perubahan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi. Media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok hingga YouTube membuat setiap orang kini bisa memproduksi sekaligus menyebarkan informasi dalam hitungan detik.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi industri pers, mulai dari media cetak, media online hingga televisi.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan hal itu saat menghadiri pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026-2031 di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jumat (2/10/2026).
Menurut KDM, perkembangan teknologi membuat arus informasi tidak lagi hanya bergantung pada media konvensional.
“Kita memasuki era digital, muncul Facebook, IG, TikTok, YouTube. Setiap orang saat ini bisa menceritakan perjalanan hidupnya. Maka gelombang ini bukan hanya meluluhlantakkan media cetak koran, tapi juga media online,” kata Dedi.
Ia menyebut perubahan tersebut juga membuat persaingan televisi semakin berat. Sebab, masyarakat kini memiliki ruang siaran sendiri melalui platform digital seperti YouTube.
“Yang membuat berat persaingan media televisi, kenapa? Karena setiap orang sekarang punya TV sendiri, YouTube,” ujarnya.
Menurut Dedi, perkembangan dunia digital juga melahirkan profesi baru seperti influencer dan YouTuber. Dalam dinamika politik, muncul pula fenomena buzzer yang ikut memengaruhi arus informasi di ruang publik.
“Maka, pertarungan berita di media hari ini adalah pertarungan antar-buzzer. Mereka cukup mendominasi dalam pikiran-pikiran orang. Kemudian yang dibangun bukan narasi suksesi, yang dibangun adalah penggiringan opini,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Dedi menilai keberadaan media yang independen tetap dibutuhkan. Namun, membangun dan mempertahankan media independen bukan perkara mudah karena membutuhkan biaya produksi, operasional hingga penggajian wartawan.
Di sisi lain, kata dia, sumber pendapatan media terus menghadapi tekanan akibat persaingan dengan platform digital.
“Kenapa? Karena bersaing dengan media sosial, dengan TikTok, YouTube dan sebagainya yang pendapatannya lebih tinggi dari wartawan,” katanya.
Dedi menilai hubungan media dengan pemerintah, politisi maupun pejabat menjadi salah satu ruang yang dapat menguji independensi seorang jurnalis.
“Karena itu, media harus kerja sama dengan birokrat, para politisi, dengan para pejabat. Karena dengan kerja sama itulah seorang jurnalis diuji independensi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PWI Jawa Barat Tantan Sulthon Bukhawan menegaskan komitmen organisasinya untuk membangun hubungan produktif dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Namun, kerja sama tersebut tetap dibarengi dengan fungsi pers sebagai pengawas kebijakan publik.
“Kita juga memiliki niat baik untuk membesarkan, untuk terus menjadi mitra Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Tentunya pemerintah punya kinerja, masyarakat punya partisipasi, dan kita wartawan punya kewajiban untuk terus mengawal,” kata Tantan.
Tantan menyebut PWI Jawa Barat menaungi lebih dari 1.000 anggota yang tersebar di 22 kabupaten dan kota. Organisasi tersebut juga didukung empat kelompok kerja yang aktif menjalankan fungsi organisasi.
Menurutnya, pers memiliki posisi penting sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.
“Kita juga akan menyampaikan apa yang sudah dilakukan Pak Gubernur, apa yang akan disampaikan Pak Gubernur kepada masyarakat, dan tentu sebaliknya,” ujarnya.
“Kita akan menyampaikan apa yang menjadi keluh kesah masyarakat, apa yang menjadi aspirasi masyarakat, dan juga apa yang menjadi keinginan masyarakat,” sambung Tantan.
Pengurus PWI Jawa Barat periode 2026-2031 resmi dilantik Ketua Umum PWI Akhmad Munir di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jumat (2/10/2026), dengan Tantan Sulthon Bukhawan sebagai ketua.
Kepengurusan baru tersebut diharapkan dapat menjalankan fungsi organisasi sekaligus menjaga profesionalisme dan kemerdekaan pers di tengah perubahan lanskap media digital.
Adapun visi “Jabar Istimewa, Kota Ditata, Lembur Diurus” menjadi salah satu konteks pembangunan Jawa Barat yang akan menjadi perhatian PWI Jabar dalam menjalankan fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi kepada masyarakat. (AM)












