POLITIK

KPU Sumedang Uji E-Voting di Sekolah, Sinyal Internet Jadi Tantangan

×

KPU Sumedang Uji E-Voting di Sekolah, Sinyal Internet Jadi Tantangan

Sebarkan artikel ini
Ketua KPU Kabupaten Sumedang, Ogi Ahmad Fauzi

KAPOL.ID – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sumedang terus mengembangkan sistem electronic voting (e-voting) sebagai bagian dari program pendidikan pemilih, khususnya bagi pemilih pemula di kalangan pelajar dan mahasiswa.

Ketua KPU Kabupaten Sumedang, Ogi Ahmad Fauzi, mengatakan aplikasi e-voting tersebut dikembangkan oleh KPU Kabupaten Sumedang melalui kerja sama dengan SMK Situraja.

Hal itu disampaikan Ogi di sela-sela kegiatan di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Selasa (6/10/2026).

“Memang kalau terkait electronic voting sendiri, KPU melakukan pengembangan terhadap aplikasi electronic voting. Ini juga bekerja sama dengan SMK Situraja,” ujar Ogi.

Menurutnya, aplikasi tersebut terus dikembangkan dan diperbaiki agar dapat digunakan dalam berbagai kegiatan pemilihan di lingkungan pendidikan.

“Jadi aplikasi ini terus dikembangkan, diperbaiki dan lain-lain, sehingga kemudian aplikasi ini bisa diaplikasikan di beberapa sekolah,” katanya.

Ogi menegaskan, pengembangan aplikasi tersebut dilakukan oleh KPU dengan dukungan kerja sama dari SMK Situraja. Dari sisi penggunaan, aplikasi tersebut dirancang agar mudah diterapkan dan tidak membutuhkan perangkat khusus yang rumit.

“Memang itu dari KPU. Kita yang kemudian mengembangkan, kemudian bekerja sama dengan SMK Situraja. Aplikasi ini juga tidak sulit dan tidak berat, sehingga bisa dilakukan di sekolah-sekolah dengan mudah,” jelasnya.

Keamanan dan Kendala Jaringan

Terkait keamanan sistem, Ogi mengatakan KPU telah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi selama penggunaan aplikasi.

Ia menyebut hingga saat ini belum ditemukan kendala berarti dalam penggunaan aplikasi e-voting, selain persoalan jaringan internet di masing-masing sekolah.

“Dari segi keamanan, kami telah melakukan mitigasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang perlu diantisipasi. Sejauh ini tidak ada kendala, kecuali faktor sinyal,” ungkapnya.

Menurut Ogi, kondisi jaringan internet di setiap sekolah berbeda-beda. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kelancaran penggunaan aplikasi.

“Kecepatan internet berbeda-beda di masing-masing sekolah. Kadang cepat, kadang tiba-tiba mati. Itu yang sejauh ini menjadi kendala,” katanya.

Ia menjelaskan, aplikasi e-voting yang dikembangkan KPU Sumedang berbasis internet. Dengan demikian, keberadaan jaringan menjadi salah satu faktor penting dalam pelaksanaannya.

“Basis kami menggunakan internet. Jadi kalau internetnya mati, aplikasi tersebut tentu tidak dapat digunakan,” jelas Ogi.

Meski demikian, ia mengatakan dari sisi aplikasi, website, maupun aspek keamanan sejauh ini tidak ditemukan persoalan yang berarti.

Ogi juga menjelaskan bahwa sistem yang dikembangkan KPU Sumedang berbeda dengan perangkat e-voting yang digunakan di sejumlah negara yang tidak bergantung pada koneksi internet.

“Kalau seperti di India, mereka menggunakan alat electronic voting yang tidak tergantung internet. Sedangkan aplikasi yang kami kembangkan basisnya internet,” ujarnya.

Bisa Diterapkan untuk Pemilu

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penggunaan sistem tersebut dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilu, Ogi mengatakan secara regulasi penggunaan teknologi elektronik dalam pemungutan suara memungkinkan.

“Sebetulnya bisa saja. Kalau untuk Pilkada, secara regulasi sudah ada undang-undang bahwa Pilkada dapat dilakukan menggunakan elektronik,” katanya.

Namun, menurut Ogi, implementasi sistem tersebut dalam pemilu maupun pilkada masih membutuhkan berbagai ketentuan teknis dan regulasi pelaksanaan.

Ia menegaskan, penggunaan e-voting yang dilakukan KPU Sumedang saat ini tidak berkaitan langsung dengan pelaksanaan pemilu maupun pilkada, melainkan difokuskan untuk pendidikan pemilih.

“Yang kami lakukan hari ini adalah pelaksanaan e-voting untuk pemilihan BEM dan Ketua OSIS, khusus untuk pendidikan pemilih. Itu saja, tidak lebih,” tegasnya.

Target Sasar 15 Ribu Calon Pemilih

Ogi menambahkan, penggunaan e-voting menjadi salah satu bagian dari program pendidikan pemilih yang dilakukan KPU Sumedang sepanjang 2026.

KPU Sumedang menargetkan dapat bertemu dan memberikan pendidikan pemilih kepada sekitar 15 ribu calon pemilih sepanjang tahun ini.

Untuk mencapai target tersebut, KPU membagi program pendidikan pemilih ke dalam sejumlah kegiatan, salah satunya menyasar pelajar SMP yang dinilai menjadi calon pemilih pemula.

“Kita di tahun ini menargetkan 15 ribu bertemu dengan calon pemilih. Kemudian dari target tersebut kita breakdown kegiatan apa saja yang dilakukan,” katanya.

Menurut Ogi, pelajar SMP menjadi salah satu sasaran karena sebagian di antara mereka akan memasuki usia 17 tahun dan menjadi pemilih pemula ketika berada di jenjang SMA.

“Kenapa SMP? Karena mereka nantinya akan berusia 17 tahun dan menjadi pemilih pemula. Jadi ketika hari ini kita lakukan pendidikan pemilih, harapannya ketika mereka masuk SMA dan menjadi pemilih pemula, mereka sudah mendapatkan pendidikan pemilih,” jelasnya.

Selain pendidikan pemilih di SMP, KPU Sumedang juga memanfaatkan kegiatan pemilihan Ketua OSIS di SMA serta pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di perguruan tinggi sebagai sarana praktik demokrasi sekaligus edukasi pemilih.

“Beberapa waktu lalu kami telah memfasilitasi pemilihan Ketua BEM atau Gubernur BEM. Di bulan ini juga kami akan memfasilitasi pemilihan Ketua OSIS di beberapa SMA,” ujarnya.

Ogi mengatakan, pendidikan pemilih untuk tingkat SMP dilaksanakan secara rutin, sementara penggunaan e-voting lebih difokuskan pada perguruan tinggi dan SMA.

“Untuk SMP kami lakukan pendidikan pemilih setiap hari Senin di setiap bulannya. Kemudian electronic voting kita fokuskan kepada kampus, universitas atau juga SMA,” katanya.

KPU Sumedang, lanjut Ogi, akan mengoptimalkan sisa waktu pada 2026 untuk mengejar target 15 ribu calon pemilih melalui berbagai kegiatan pendidikan pemilih yang telah disiapkan.

“Di tiga bulan terakhir sisa waktu 2026 ini tentu kami akan optimalkan bagaimana mencapai target 15 ribu bertemu dengan calon pemilih,” pungkasnya.***