KAPOL.ID – Meski keberadaannya masih belum Nampak begitu sempurna, karena berbagai keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki, tapi Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut, yang berlokasi di Jl. Patriot, Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut sudah menampakan kemajuan.
Hal itu bisa dilihat dari data pengunjung yang sejak berdirinya pada 9 November 2009 hingga kini jumlah kunjungannya terus megalami peningkatan.
Bahkan tidak hanya dikunjungi para sisa TK dan SD di kawasan Garut saja, tapi berdasarkan data kunjungan banyak juga siswa SD yang datang dari berbagai Kota lainnya, terutama dari wilayah Kawasan Priangan, termasuk Kota dan Kabupaten Bandung, Bogor, juga DKI Jakarta.
Bukan saja anak-anak usia SD, sejumah mahasiswa dari luar Kabupaten Garut yang hendan melakukan penelitian pun banyak juga yang berkunjung.
Kepala UPTD Museum Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut, Yana Suryana menerangkan, jumlah kunjungan ke Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut rata-rata per bulannya mencapai 250 hingga 300 orang, yang terdiri dari anak-anak TK, SD hingga Mahasiswa.
Hal-hal menarik dari isi museum tersebut, tutur Yana, selain sejarah Garut yang dumulai dari Kabupaten Limbangan hingga perpindahannya ke pusat kota dengan titik nol di Jalan Kiansantang (pinggir Gedung Pendopo) disana juga terdapat miniature Candi Cangkuang dan Kampung adat Pulo di Kecamatan Leles; Kampung Adat Dukuh di Kecamatan Cikelet, Situs Makam Gogod dan Situs Makam Sunan Papak.
Selain itu, terdapat juga foto-foto Garut tempo dulu, berbagai alat perkakas, peta kuno Ciela, aneka ragam benda pusaka dan berbagai produk unggulan Kabupaten Garut.
“Disini tersimpan pula berbagai film dan foto-foto Garut tempo dulu, buku seni dan budaya, naskah-naskah kuno dan buku sejarah Garut serta produk unggulan Kabupaten Garut,” tutur Yana.
Seperti yang terlihat saat ada kunjungan sejumlah siswa-siswi SDN Sukamentri 8 Kecamatan Garut Kota pada Senin (5 Oktober ) kemarin, dibantu petugas educator Budi dan San san saat menerangkan sejarah Garut juga berbagai perkekas permainan jama dahulu, para siswa itu dengan antusias mendengarkan sambal mecatat hal-hal yang dianggap penting.
Adapun tugas dan pokok dibangunnya UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut lanjut Yana, untuk pelestarian dan pelayanan kepada masyarakat mengenai benda-benda bernilai sejarah, khususnya sejarah tentang Kabupaten Garut.
Adapun visinya, menjadikan museum sebagai pusat informasi dan edukasi mengenai benda bersejarah informasi dan komunikasi yang mencerahkan, memberdayakan dan mencerdaskan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Misi utamanya yaitu, mengelola benda cagar budaya yang mempunyai nilai sejarah; memberikan pelayanan prima sesuai kebutuhan masyarakat; serta memperkenalkan Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut kepada masyarakat luas,” tambah Yana.
Sayang, kalau dilihat dari lokasinya, Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut yang terletak di Jalan Patriot rasanya kurang begitu strategis, karena selain luas bangunannya yang hanya 493 M2 dan luas lahan berikut parkir hanya 759 M2 lokasinya pun berhadapan dengan Gedung DPRD.
Maklum, tempat itu awalnya merupakan salah satu kantor dari bagian Pemerintahan Kabupaten Garut.
Kendalanya, jika saja saat sudah dijadualkan ada kunjungan terus waktunya bersamaan dengan turunnya masa aksi ke Gedung DPRD, maka kegiatan kunjungan otomatis bisa terganggu.
Masalah itulah yang kini harus menjadi perhatian bagi Pemerintahan Kabupaten Garut, alangkah baiknnya keberadaan Museum R.A.A. Adiwidjaja Garut tempatnya dialihkan dengan bangunan baru yang lebih luas di area yang sangat strategis.
Apalagi jika di bagian halaman depannya bisa dipajang Locomotif Sigombar sebagai icon Garut yang jaman dulu merupakan salah satu alat transformasi murah yang cukup merakyat bagi masyarakat dan kini telah menjadi alat transfomasi bersejarah.***












