KANAL

Ziarah Perdana Usai Pelantikan, BEST Al Mashduqi IIBS Garut Teladani Jejak Ulama di Momentum Hari Santri

×

Ziarah Perdana Usai Pelantikan, BEST Al Mashduqi IIBS Garut Teladani Jejak Ulama di Momentum Hari Santri

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID — Dalam mengisi Hari Santri, Badan Eksekutif Santri Terpadu (BEST) Al Mashduqi IIBS Garut Jumat (23/10/2026) melaksanakan ziarah ke makam Drs. H. Dede Satibi. Selain merupakan pendiri Al Mashduqi, Drs. H. Dede Satibi pun dikenal masyarakat luas sebagai Bupati Garut ke-22.

Dipemakaman besar keluarga yang terletak di Kampung Pasawahan, Kelurahan Pananjung Kecamatan Tarogong Kaler juga terdapat makam KH. Mashduqi, serta Hj. R. Kona’ah, istri KH. Mashduqi.

Ziarah perdana yang juga bertepatan dengan usainya pelantikan kepengurusan BEST ini menjadi momentum bagi para santri murid untuk mengenang jasa para pendahulu sekaligus meneladani nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan pengabdian yang menjadi bagian dari sejarah Al Mashduqi.

Kegiatan diisi dengan doa bersama dan penyampaian kisah keteladanan yang dipimpin Kepala Madrasah Diniyah Al Mashduqi sekaligus Insan Penggerak Al Mashduqi Ustaz Misbahudin, M.Pd., Gr.
Turut hadir Ustaz Ikmal Al Hudawi, Lc., M.Pd., Gr., selaku kepala MA Al Mashduqi sekaligus Wakil Direktur I Bidang Akademik Al Mashduqi Islamic School Garut,

Koordinator Pengasuhan Ustaz Daffa, Ustazah Delisna, jajaran ustaz dan ustazah asrama, guru sekolah, serta seluruh santri murid Al Mashduqi IIBS Garut.

Ustaz Misbahudin menerangkan, ziarah ini menjadi ruang bagi para santri untuk mengenal lebih dekat sosok KH. Mashduqi, yang dikenal dengan panggilan Aki Idu atau Ajengan Idu.

Sebagai ulama dan pendakwah asal Garut, beliau dikenal atas keluasan ilmu agama, keteguhan prinsip, serta pendekatan dakwah yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu warisan keilmuannya ialah Nadzom ‘Aqoid Iman, syair berbahasa Sunda yang menjadi media pembelajaran dasar-dasar akidah Islam.

Jejak perjuangan tersebut tambah ia, berlanjut melalui generasi keluarga, salah satunya putra beliau, Drs. H. Dede Satibi yang bersama keluarga mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Al Masduki pada 29 Mei 2001.

Yayasan ini kemudian berkembang menjadi Yayasan Al Masduqiyyah Garut yang menaungi berbagai lembaga pendidikan dan layanan masyarakat. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kesinambungan nilai dakwah, pendidikan, dan pengabdian yang diwariskan lintas generasi.

Melalui kegiatan ini juga lanjut ia, para santri murid diajak memahami bahwa menghormati ulama dan para pendahulu tidak cukup dengan mengenang kisah hidup mereka, tetapi juga dengan meneladani serta mengamalkan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan.

Ikhtiar menjadi pribadi saleh diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, menjaga akhlak, menghormati guru, dan memberikan manfaat bagi sesama.

“Ziarah ini juga menjadi momentum dzikrul maut, yakni mengingat bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menghadapi kematian. Kesadaran ini diharapkan mendorong para santri untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, terlebih ketika kesempatan belajar bersama guru dalam lingkungan yang aman masih terbuka,” imbuhnya.

Ia pun mengumpamakan, jika para ulama terdahulu menghadapi berbagai tantangan, termasuk ancaman pada masa penjajahan, generasi saat ini memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu dengan lebih leluasa.

Karenanya, kesempatan tersebut katanya perlu disyukuri dengan belajar secara sungguh-sungguh dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Dijelaskannya, dalam ajaran Islam, doa anak saleh merupakan salah satu amalan yang terus memberikan manfaat bagi orang tua yang telah meninggal dunia. Nilai ini lanjut ia, menjadi pengingat bagi para santri untuk terus memperbaiki diri dan membiasakan amal kebaikan.

“Lebih dari itu, mereka diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang meninggalkan manfaat sehingga kelak kebaikannya dikenang dan orang lain tergerak mendoakannya dengan tulus,” ungkapnya.

Dalam amanatnya Ustaz Misbahudin pun menitipkan, sebagai pengurus yang baru dilantik, BEST diharapkan mampu menjadikan keteladanan para pendahulu sebagai pijakan dalam menjalankan amanah organisasi.

Momentum Hari Santri pun menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya ditunjukkan melalui jabatan dan program kerja, tetapi juga melalui ilmu, akhlak, kedisiplinan, serta pengabdian.

Melalui ziarah perdana ini, lanjutnya, BEST Al Mashduqi IIBS Garut berikhtiar menumbuhkan generasi santri murid yang tidak hanya mengenal sejarah perjuangan para pendahulunya, tetapi juga mampu meneruskan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam kehidupan.

“Dengan demikian, ziarah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi bagian dari upaya membentuk pribadi yang saleh, berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Anang KN)***

Tag:
Penulis: Anang KN