KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Gangguan saluran cerna dengan gejala sepert nyeri perut, diare, konstipasi hingga perut kembung kerap sulit dibedakan hanya berdasarkan keluhan pasien.
Padahal, gejala yang serupa bisa dipicu oleh penyebab yang berbeda. Kondisi ini membuat pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk membantu dokter memperoleh gambaran kondisi pasien secara lebih menyeluruh.
Hal tersebut menjadi sorotan dalam Seminar Nasional Dokter ke-20 yang digelar PT Prodia Widyahusada Tbk di el Hotel Bandung, Sabtu (3/10/2026).
Seminar bertajuk “Integrating Innovative Gut Health Testing Into Daily Practice” itu membahas perkembangan pemeriksaan kesehatan saluran cerna serta pemanfaatannya dalam mendukung diagnosis dan tata laksana pasien.
Dr. Mona Yolanda, M.Si. mengatakan perkembangan ilmu kedokteran menuntut tenaga medis terus memperbarui pengetahuan, termasuk memahami inovasi pemeriksaan laboratorium.
“Melalui Seminar Nasional Dokter ini, Prodia ingin menghadirkan ruang diskusi ilmiah mengenai berbagai inovasi pemeriksaan laboratorium yang dapat mendukung diagnosis lebih akurat, membantu memahami kondisi pasien secara komprehensif, serta menunjang pengambilan keputusan klinis yang berbasis bukti,” ujarnya.
Seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai disiplin ilmu.
dr. Nenny Agustanti, Sp.PD-KGEH membahas “Interpreting Gut Dysbiosis in Intestinal Inflammation” yang mengupas perubahan komposisi mikrobiota usus dan kaitannya dengan berbagai kondisi inflamasi saluran cerna.
Sementara dr. Shiela Stefani, Sp.GK menyampaikan materi “Nutritional and Metabolic Perspective in Gut Health and Intestinal Inflammation”, yang membahas hubungan nutrisi, metabolisme dan kesehatan usus.
Sedangkan Riska Widyasari, S.Si mengangkat topik “Fecal Biomarkers for Gut Health”, khususnya mengenai pemanfaatan biomarker feses untuk membantu mengevaluasi kondisi kesehatan saluran cerna.
Menurut dr. Nenny, ketidakseimbangan mikrobiota usus atau gut dysbiosis diketahui berkaitan dengan berbagai penyakit inflamasi saluran cerna maupun kondisi sistemik lainnya.
Karena itu, pemeriksaan laboratorium yang tepat dinilai dapat membantu dokter memahami mekanisme penyakit secara lebih mendalam sehingga penanganan pasien dapat dilakukan secara lebih terarah.
“Gejala saluran pencernaan sering kali terlihat sama meski penyebabnya berbeda. Tes laboratorium seperti analisis biomarker dan mikrobiota usus sangat membantu dokter dalam mendiagnosis, memilih terapi yang tepat, dan memantau hasil pengobatan,” jelas dr. Nenny.
Selain pemeriksaan laboratorium, faktor nutrisi juga dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan saluran cerna.
dr. Shiela Stefani menekankan nutrisi berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobiota usus sekaligus membantu mengendalikan proses inflamasi
Pendekatan nutrisi yang dipadukan dengan hasil pemeriksaan laboratorium, kata dia, dapat membantu dokter menyusun strategi terapi yang lebih personal sesuai kondisi masing-masing pasien.
Di sisi lain, Prodia juga memperkuat dukungan digital bagi tenaga medis melalui aplikasi Prodia for Doctor. Aplikasi tersebut menyediakan akses terhadap informasi pemeriksaan laboratorium, layanan diagnostik serta fitur yang mendukung praktik klinis
Seminar Nasional Dokter Prodia telah digelar selama dua dekade sebagai bagian dari upaya mendukung pendidikan medis berkelanjutan dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.
Seminar ke-20 di Bandung tersebut menjadi bagian dari rangkaian roadshow ilmiah Prodia di 10 kota besar di Indonesia sepanjang 2026.
Melalui forum tersebut, perkembangan teknologi laboratorium dan pendekatan berbasis bukti diharapkan semakin mendukung tenaga medis dalam memberikan pelayanan yang lebih tepat bagi pasien, khususnya dalam menghadapi beragam gangguan saluran cerna. ***






