KANAL

​Sidak Restoran Pasirkaliki, Dinkes Kota Bandung Soroti Sanitasi dan SOP Penjamah Makanan

×

​Sidak Restoran Pasirkaliki, Dinkes Kota Bandung Soroti Sanitasi dan SOP Penjamah Makanan

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung bergerak cepat menyikapi kemunculan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan warga. Petugas langsung turun gunung melakukan inspeksi mendadak ke salah satu restoran di Jalan Pasirkaliki yang diduga menjadi sumber masalah.

​Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari mengungkapkan, dari hasil pemeriksaan awal di lapangan, pihaknya menemukan sejumlah catatan penting terkait aspek higiene dan sanitasi yang wajib dibenahi pihak pengelola.

​”Secara umum dari pemeriksaan awal memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar Dewi, Selasa (6/10/2026).

​Dalam sidak tersebut, Tim Kesehatan Lingkungan bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) Dinkes Kota Bandung menyisir berbagai sudut area restoran. Mulai dari penataan lokasi, kebersihan peralatan, penyimpanan bahan makanan, hingga kepatuhan terhadap prosedur operasional standar (SOP)

​Menurut Dewi, salah satu sorotan utama adalah penataan bahan makanan segar dan kering yang belum sepenuhnya ideal.

Terlebih, kondisi ruang penyimpanan yang tergolong terbatas menuntut pihak manajemen untuk melakukan penataan ulang secara cermat, termasuk memisahkan bahan pangan dari bahan-bahan kimia pembersih seperti sabun cuci piring.

​”Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” tegasnya.

​Selain itu, penerapan sistem penyimpanan berbasis first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO) juga belum terlihat jelas di lokasi. Aspek perilaku para penjamah makanan (food handler) turut menjadi catatan keras Dinkes. Seluruh pekerja yang bersentuhan langsung dengan pengolahan hingga penyajian makanan diminta disiplin mengenakan atribut pelindung diri secara lengkap.

​”Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker, kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” ucap Dewi.

​Seluruh rekomendasi perbaikan tersebut, lanjut Dewi, telah diserahkan langsung kepada pihak manajemen restoran untuk segera ditindaklanjuti. Guna memastikan langkah korektif benar-benar dijalankan, Dinkes Kota Bandung bersama jajaran puskesmas setempat dipastikan bakal memperketat pengawasan secara berkala.

​”Biasanya kalau ada kasus seperti ini kita agak lebih intensif pemantauannya,” imbuhnya.
​
​Di sisi lain, jumlah warga yang mengeluhkan gangguan kesehatan usai menyantap hidangan dari restoran tersebut terus bertambah. Hingga Selasa sore, tercatat sudah ada 24 laporan kasus yang masuk ke posko pengaduan Dinkes Kota Bandung melalui berbagai kanal, baik via puskesmas maupun media sosial resmi instansi.

​Angka tersebut diprediksi masih bisa bergerak naik mengingat posko aduan dan investigasi lapangan masih terus dibuka bagi masyarakat.

​”Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ujar Dewi.

​Pihaknya mengimbau masyarakat yang sempat mengonsumsi makanan dari tempat tersebut dan merasakan gejala janggal agar segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat atau melapor melalui kanal resmi Dinkes Kota Bandung.

​Berdasarkan data yang dihimpun, para korban merasakan gejala klinis bervariasi dengan rentang waktu kemunculan tercepat sekitar dua jam setelah makan, hingga yang paling lambat mencapai 12 jam. Keluhan yang mendominasi di antaranya sakit perut, mual, muntah, serta diare.

​Terkendala Ketiadaan Sampel Makanan
​Hingga kini, tim investigasi Dinkes Kota Bandung masih berjibaku menelusuri akar permasalahan dengan meminta keterangan dari pihak manajemen restoran serta mendata kondisi warga yang terdampak.

​”Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang dan disarankan berobat,” jelas Dewi.

​Kendati demikian, proses penelusuran sempat menemui kendala di lapangan. Pihak restoran ternyata tidak menyisihkan atau menyimpan sampel makanan dari setiap menu yang disajikan. Padahal, keberadaan sampel tersebut sangat krusial untuk diuji laboratorium guna memastikan secara pasti pemicu timbulnya gangguan kesehatan pada para konsumen.

​”Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel, tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” tandasnya.

​Mengingat sebaran konsumen yang terdampak berada di berbagai lokasi berbeda, Dinkes Kota Bandung terus menggalakkan koordinasi lintas sektor serta mengharapkan partisipasi aktif masyarakat dalam memberikan informasi guna mempercepat penanganan kasus ini secara tuntas. (AM)