KAPOL.ID –
Konflik antara Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Wakil Wali Kota Diky Candra memberi dampak buruk citra daerah.
Friksi ini berdampak langsung pada kelancaran pembangunan dan pelayanan warga Kota Tasikmalaya.
Demikian dikatakan Deden Faiz Taptazani, Sekretaris Daerah Generasi Muda NU Kota Tasikmalaya kepada KAPOL.ID, Senin (12/10/2026).
“Kondisi ini membuat ASN terjebak dalam kubu-kubuan dan takut melangkah. Menghadiri kegiatan Wali dikira orang Wali kota, mendampingi Wakil takut dicap kubu Wakil.”
“Ketakutan akan mutasi atau di-nonjob-kan membuat ASN memilih cari aman, pasif, dan lambat mengambil keputusan,” katanya.
Ia mengatakan, masyarakat menjadi korban utama dari ego walikota dan wakilnya. Kasus dinamika penataan kawasan Dadaha hanyalah contoh kecil.
Buruknya komunikasi menghasilkan kebijakan yang tumpang tindih dan proyek yang terburu-buru tanpa perencanaan matang.
“Birokrasi bekerja dalam ketegangan membuat penanganan sampah, perizinan, hingga fasilitas publik kehilangan fokus,” ujarnya.
Deden meminta tim koalisi partai pengusung harus bertanggung jawab. Partai pengusung memikul beban moral kepada pemilih.
Mereka wajib turun tangan memediasi, mengevaluasi, dan menyatukan kembali pimpinan. Pembiaran konflik ini menandakan kegagalan tim koalisi.
“Jika diam saja, partai pengusung turut bertanggung jawab atas stagnasi Kota Tasikmalaya. Wali dan wakil harus senada dan seirama dalam merealisasikan janji politiknya,” katanya.***












