PARLEMENTARIA

Ricky Kurniawan Ajak Mahasiswa Tak Tabu Berpolitik: Perubahan Harus Diperjuangkan

×

Ricky Kurniawan Ajak Mahasiswa Tak Tabu Berpolitik: Perubahan Harus Diperjuangkan

Sebarkan artikel ini
KAPOL.ID – Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, H. Ricky Kurniawan, mengajak mahasiswa tidak alergi terhadap politik.

Menurutnya, politik bukan sesuatu yang harus dijauhi, melainkan ruang pengabdian untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dan menghadirkan perubahan melalui kebijakan.

Pesan itu disampaikan Ricky saat menjadi pemateri pada acara Sekolah Legislatif 2026 bertema “Dari Gagasan Menuju Regulasi: Membangun Legislator Muda yang Responsif” di rooftop Gedung DPRD Jawa Barat, Senin (19/10/2026).

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa Politeknik Kesejahteraan Sosial (Poltekesos) Bandung dari berbagai daerah di Indonesia.

Di hadapan para mahasiswa, Ricky menegaskan, politik sejatinya merupakan instrumen perubahan. Persoalannya bukan terletak pada politik itu sendiri, melainkan pada integritas dan perilaku orang-orang yang menjalankannya.

“Politik itu bukan sesuatu yang tabu,” ujar Ricky.

Ia menilai, lembaga legislatif membutuhkan orang-orang berintegritas agar setiap kebijakan yang dilahirkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar memenuhi kepentingan kelompok tertentu.

Ricky mengaku, sebelum terjun ke dunia politik, dirinya lebih banyak berkecimpung di bidang pendidikan dan pesantren. Bahkan, ia sempat memiliki pandangan negatif terhadap politik.

Namun, nasihat para guru dan ulama mengubah cara pandangnya. Politik, menurutnya, juga bisa menjadi jalan dakwah sekaligus sarana pengabdian kepada masyarakat.

Baginya, perubahan tidak cukup hanya disuarakan melalui kritik, diskusi, maupun tulisan. Perubahan juga membutuhkan keberanian untuk masuk ke ruang pengambilan keputusan dan memastikan gagasan diwujudkan dalam kebijakan.

“Kalau kita bisa menjalankan amanah dengan benar, kita bisa melakukan perubahan melalui kebijakan,” tuturnya.

Tak hanya berbicara tentang politik, Ricky juga membagikan perjalanan hidupnya untuk memotivasi mahasiswa agar tidak menyerah pada keadaan.

Ia mengisahkan, dirinya berasal dari keluarga sederhana dan kehilangan ayah ketika berusia sekitar 10 tahun. Sejak itu, keluarganya harus berjuang membangun kembali kehidupan dengan mengandalkan sang ibu yang berjualan kue dan menerima berbagai pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Keterbatasan ekonomi membuat perjalanan pendidikannya tidak mudah. Ricky memanfaatkan kesempatan belajar di pesantren dengan memperoleh keringanan biaya pendidikan, yang diimbangi dengan membantu berbagai kegiatan pesantren.

Perjuangan tersebut mengantarkannya melanjutkan pendidikan ke Kairo, Mesir, sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Kesempatan, kerja keras, dan kemauan untuk terus belajar menjadi modal penting dalam mengubah masa depan.

Ricky pun mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan latar belakang keluarga maupun kondisi ekonomi sebagai penghalang untuk berkontribusi bagi bangsa.
Mahasiswa Diminta Kritis Hadapi Hoaks dan AI

Di tengah perkembangan teknologi, Ricky turut mengingatkan mahasiswa agar mewaspadai penyebaran hoaks dan penyalahgunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, kemajuan teknologi memang membuka akses informasi dan pengetahuan semakin luas. Namun, teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk membentuk opini publik melalui informasi yang menyesatkan.

Ia mengingatkan, informasi yang terus diulang belum tentu benar. Karena itu, mahasiswa harus membiasakan diri memeriksa sumber, memahami konteks, dan menguji kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Kemampuan membedakan fakta, opini, dan pembingkaian informasi menjadi bekal penting bagi generasi muda, terlebih bagi mereka yang kelak terlibat dalam pengambilan keputusan publik.

Ricky menilai, calon pemimpin tidak cukup hanya menguasai pengetahuan. Mereka juga harus memiliki nalar kritis agar tidak mudah terseret arus informasi yang dapat menyesatkan masyarakat.

Ricky tidak menampik bahwa lembaga legislatif kerap mendapat sorotan dan kritik dari masyarakat. Namun, kritik tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kinerja para wakil rakyat.

Ia berharap citra negatif politik tidak membuat mahasiswa yang memiliki kepedulian sosial justru memilih menjauh.
Sebaliknya, generasi muda yang berintegritas perlu berani mengambil bagian dalam proses politik. Dengan begitu, lembaga perwakilan diharapkan diisi orang-orang yang memiliki komitmen kuat terhadap kepentingan publik.

Melalui Sekolah Legislatif 2026, Ricky berharap mahasiswa mampu tumbuh menjadi calon legislator yang memahami persoalan masyarakat, menjaga integritas, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi regulasi yang bermanfaat.

Ia juga mengajak generasi muda tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia dan tidak kehilangan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Jangan pernah bosan untuk mencintai Indonesia,” pesannya.

Sekolah Legislatif diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori tentang proses legislasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun keberanian, integritas, dan kepedulian dalam memperjuangkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. (JM)