OPINI  

Agama dalam Pusaran Politik

Oleh Muhammad Roby Ilyas Hilmi
Mahasiswa FISIP Universitas Galuh 2018
Bendahara PK.PMII GALUH
Ketua Umum Ikatan Pemuda-Pemudi Ciledug Tamansari Kota Tasikmalaya

Kita tahu kaum beragama di dunia mempercayai agama sebagai jalan keselamatan. Entah keselamatan di dunia atau di akhirat. Kedua aspek keselamatan ini bukan sesuatu yang diimposisikan dari luar agama, melainkan melekat secara inheren dalam agama. Alhasil kedua tersebut membawa spirit tentang keselamatan di dunia dan di akhirat yang tidak bisa dipisahkan dari agama. Karena itu sulit untuk dibayangkan agama tanpa kedua janji keselamatan. Kalau kita cabut salah satu atau kedua aspek tersebut maka ambruklah apa yang disebut agama. Bahkan tidak bisa dipungkiri agama eksis karena kampanye aspek keselamatan ini.

Di sini kita tidak akan coba menenggelamkan serta hanyut dalam suatu perdebatan ontologis maupun kosmologis tentang bagaimana membuktikan kebeneran kedua klaim keselamatan agama tersebut. Seperti timbul banyak pertanyaan, apakah benar agama itu menyelamatkan di dunia dan di akhirat? Itu bisa iya atau tidak, dalam berbagai klaim kebenaran agamanya. Karena wilayah itu hak setiap manusia untuk memilih percaya dan tidak pada hal tersebut.

Yang terpenting aspek tanggung jawab utama kita adalah menunjukan bahwa semistis dan sesuci apapun agama, ia selalu berpaku pada sesuatu yang materi dan sejarah. Ia merupakan persoalan kongkrit manusia di dunia ini dan saat ini. Sekaligus juga untuk menguji bagaiamana suatu klaim keselamatan tersebut mampu dipraktikan dewasa dalam relasi vertikal dan horizontal yang mampu arif dalam konteks logika dan akumulasi kapitalnya.

Agama dan Panggung Politik

Menelusuri ruang-ruang kehidupan masyarakat bangsa kita dalam dekade terakhir ini, kita menyaksikan sebuah panorama cengkraman agama dalam pertunjukan panggung-panggung politik. Seakan masih menjadi alat komoditas serta praktik yang masih mutlak dan tidak bisa dinisbikan. Sehingga jagat raya ini masih terus disuguhkan simulasi panggung-panggung penuh kepalsuan dan kesemuan. Karena itu, keaslian dan kebenaran selalu terus disimpan dibelakang, realitas yang terus diselimuti ilusi, dan informasi dibungkus manipulasi.

Seperti yang kita tahu, dalam relasi sosial. Kapitalisme dan logika akumulasi kapital tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dijadikan sebagai komoditas. Dulu, air yang oleh Adam Smith tidak dianggap sebagai komoditas, saat ini kita temukan air menjadi komoditas yang dipertukarkan dengan komoditas lainnya atau diperdagangkan untuk mendapat keuntungan.

Analogi itu persis sama tak ayalnya seperti agama yang telah berubah wujud akhir-akhir ini menjadi komoditas. Yang mana seharunya agama diposisikan sebagai jalan menuju Tuhan sekaligus jalan pembebasan manusia dari kondisi-kondisi yang membelenggunya. Namun sekarang, sebaliknya, sebagian besar agama justru jadi alat membelenggu manusia. Benarkah demikian?

Jualan Agama

Andrew Norman Wilson dalam bukunya Against Relegion: Why We Should Live Without It (1991), menuliskan bahwa tumbuh berkembangnya agama dalam suatu Negara bukan disebabkan oleh esensi dari nilai kereligiusannya. Melainkan oleh pemanfaatan nama atau simbol agama tersebut untuk kepentingan politik dan bisnis.
Wacana argumentasi Andrew ini dapat dijadikan sebagai gerbang pembuka untuk memahami serta merefleksikan suatu normalitas baru tentang arti dari nilai religiositas yang mulai berubah dalam pandangan negara modern. Dimana, hal ini terpengaruh dari sikap sekularisasi antara agama dan politik. Sikap ini terlihat begitu eksplisit ketika ritual agama sudah tidak dianggap sakral, melainkan hanya sebagai seremonial. Lebih jauh, seremoni ritual agama ini selalu kental dan sarat akan kepentingan politik yang hadir di tengah masyarakat.

Agama tidak ubahnya diperdagangkan seperti sabun mandi, obat gosok dan obat panu oleh sebagian para elit agama yang berkelindan dalam pusaran politik untuk mendulang keuntungan sebanyak-banyaknya. Dari situ mulai agama dijadikan sebagai selubung penghisapan dan menjadi cap pembenaran pada kebusukan. Padahal agama hadir untuk mentransformasikan kehidupan sosio-kultural masyarakat ke arah yang harmonis, bukan malah sebaliknya.

Di Negara Barat, ada satu istilah “God Incorporation” (perusahaan Tuhan) yang mengacu pada kegiatan keagamaan dan memiliki struktur organisasi sama dengan perusahaan-perusahaan komersil lainnya. Orientasi kegiatannya tidak hanya menggelar kebaktian agama yang mengandalkan income (pendapatan) dari pemberian sukarela jemaat semata, tetapi juga dari aktivitas bisnis lainnya.

Agama Sebagai Jalan Pembebasan (?)

Adji Suradji dalam tulisannya Politisasi dan Komodifikasi Agama mengatakan bahwa ritual keagamaan tidak bisa lagi dimaknai secara teologis semata, tetapi sudah bergeser menjadi bagian dari afiliasi dan afinitas kelas sosial yang bersifat duniawi. Dari sini, bisa diamati bahwa bukti politisasi dan bisnis agama itu nyata.

Demikian, kritik Marx kala itu terhadap agama sebagaimana dalam “Critique on Hegel’s Philosophy of Right” yang menganggap agama sebagai candu tidak bisa dianggap keliru pada dasarwasa ini. Justru kritik dari Marx ini perlu diredefinisikan secara fundamental bahwa hal itu membantu kaum beragama mampu beragama dengan kritis dan tanpa perlu menggadaikan akal sehatnya. Begini kata lengkapnya:
“Penderitaan agama pada saat yang sama merupakan ekspresi pada penderitaan ekonomi yang rill dan protes melawan penderitaan yang rill. Agama adalah keluh kesah makhluk yang tertindas, hati dunia yang tidak berhati, sebagaimana ia adalah roh dari suatu keadaan yang tidak ber-roh. Ia adalah opium bagi masyarakat”.

Wacana argumentasi Marx ini bisa dijadikan sebagai gerbang pembuka kembali untuk memantik ulang. Sebenarnya Marx simpati terhadap agama ketika ia mengatakan ‘protes melawan penderitaan yang rill’. Sayangnya, alih-alih agama sebagai jalan pembebasan, agama justru tidak jauh beda layaknya ‘pill ekstasi’ yang menghilangkan rasa sakit kaum tertindas dengan menciptakan fantasi mengenai suatu dunia supernatural dimana kesakitan, kepedihan, dan kesedihan berakhir. Di mana para kaum elit agama dengan bahasa yang kudus, bukannya menyerukan kaum beragama melawan penindasan, melainkan mengajak rakyat sabar menghadapi penindasan, pelecehan, pemiskinan. Karena kelegowoan mereka menerima penindasan karena akan diganti oleh Tuhan dengan surga.

Pada titik ini Marx benar, agama tidak ubahnya seperti ektasi yang melenakan.
Kendati demikian, Marx juga tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya keliru. Hal ini bisa sangat diargumentasikan dengan lebih dewasa dan sangat begitu arif. Karena faktanya ada banyak bukti agama yang dipakai sebagai spirit jalan pembebasan. Begitu juga sebaliknya ada banyak bukti agama dipakai sebagai selubung penindasan.

Paradoks

Hari ini, agama pada praktiknya seolah hanya dijadikan guyonan ketimbang jalan pembebasan bagi manusia. Sebagaimana sekarang, agama dipakai sebagai pembela kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan. Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan agama dari keretakan itu? Tidak lain dan tidak bukan jalan satu-satunya adalah melucuti selubung keculasan merebaknya agamawan-agamawan bejat yang hanya menjadikan agama sebagai alat komoditas bagi keuntungannya sendiri. Membela perusakan lingkungan, diam melihat rakyat ditindas, mendukung politisi hipokrit, menjadi legitimasi pelanggaran HAM, serta mengajak rakyat melupakan penindasan dan penghisapan dengan mengejar kenikmatan akhirat.

Praktik itu seakan menjadi ironi yang sangat menggelitik, hampir sebagian besar kaum agamawan tengah berebut diri sebagai kaum yang paling menjadi penerus perjuangan pemimpin terdahulunya. Ada juga yang sibuk rakit sana-sini bom, itu pun merasa paling penerus perjuangan pemimpin terdahulunya. Ada lagi juga mereka yang hidupnya dihabiskan untuk memperdebatkan esensi ziarah kubur, tapi abai pada tetangganya yang kelaparan dan terjerat hutan. Itu pun merasa paling meneruskan perjuangan pemimpin terdahulunya. Ada juga mereka yang sibuk berdagang dengan spirit pluralismenya. Tapi tong kosong enggan mau benar-benar memperjuangkan terwujudnya prasyarat-prasyarat terwujudnya persaudaraan kemanusiaan yang hakiki. Dan itu pun sama merasa paling meneruskan perjuangan pemimpin terdahulunya. Ada lagi yang sibuk sana-sini kasih legitimasi pada penguasa dan pengusaha lalim, itu pun merasa meneruskan perjuangan pemimpin terdahulunya.

Kemudian lagi, ada yang menghabiskan hartanya untuk berlomba-lomba membikin megah tempat peribadatannya. Tapi tidak mau membangun komunitas masyarakat yang sejahtera, damai, berkeadilan, dan makmur bersama. Itu pun merasa paling meneruskan pemimpin terdahulunya. Dan masih banyak yang lainnya.

Pada intinya, mereka semua merasa paling berhak sebagai penerus perjuangan para pemimpin terdahulunya. Tapi anehnya, tidak peduli atas setiap kemalangan, dan ketertindasan yang terus-terusan dipertontongkan. Tidak ubahnya mereka tanpa sadar pada akhirnya sedang memunggungi para pemimpin terdahulunya sendiri. ***