Dan yang paling menggelitik, pikiran-rakyat.com juga pernah menuliskan hal serupa. Bahkan judulnya luar biasa menarik. “Tokoh Sunda di Bentala Politik Selalu ‘Kahieuman Bangkong.’” Karakter orang Sunda yang someah dan terbuka bagi orang lain ini disebut menjadi salah satu penyebab tokoh Sunda di kancah politik Nasional ini menjadi “kahieuman bangkong” atau bahasa populernya ada tapi tidak terlihat.
Dua kutipan artikel di atas tentu tidak sepenuhnya salah. Namun juga tidak seratus persen benar. Jika saja mau menelisik dan menelaah lebih jauh, ada banyak tokoh Sunda yang juga memiliki peranan luar biasa. Bahkan menempati posisi yang sangat strategis jika dibandingkan dengan tokoh Sunda lainnya yang saat ini muncul.
Bahkan mungkin saat ini menjelang konstalasi Pilpres 2024, tidak menutup kemungkinan Sunda memiliki wawakil yang akan turut serta dalam hajat demokrasi nasional lima tahunan itu. Namun sebelum membahas dan memunculkan nama siapa saja yang akan menjadi representasi Sunda di Pilpres 2024, kita samakan terlebih dahulu persepsi kita tentang Sunda.
Biasanya definisi tentang orang Sunda selalu mengerucut pada seseorang yang lahir, tumbuh dan besar serta tinggal di tatar Pasundan (Jawa Barat). Atau menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu dalam praktek kehidupan sehari-hari. Kata Kontjaraningrat, suku Sunda adalah orang-orang yang secara turun temurun menggunakan bahasa ibu bahasa Sunda serta dialeknya dalam kehidupan sehari-hari dan berasal serta bertempat tinggal di daerah Jawa Barat atau daerah yang juga disebut tanah Pasundan atau Tatar Pasundan (Koentjaraningrat; 2010).
Namun seiring berjalannya waktu, definisi itu bergeser. Saat ini Sunda menjadi salah satu suku di Indonesia dengan jumlah penduduk yang bisa dibilang cukup banyak.








