Airlangga Hartarto, Wawakil Sunda di Pilpres 2024

Airlangga Hartarto

Oleh Imam Mudofar, S.Hum

Sudah sejak lama isu dan kegelisahan tentang kepempimpinan Sunda itu muncul. Isu dan kegelisahan itu seolah menjadi pertanyaan yang sampai detik ini belum memiliki jawaban pasti. Entah ini soal waktu, atau memang takdir yang belum berkenan. Namun yang pasti sampai dengan saat ini wawakil Sunda di kancah perpolitikan nasional seperti stag pada satu titik di mana mereka ada tapi tak terlihat. Eksistensi mereka seolah masih kalah jauh jika dibandingkan dengan beberapa tokoh politik lainnya di tanah air. Benarkah demikian?

Kompas.com peprnah menulis artikel tentang rendahnya representasi politik orang Sunda di kancah nasional. Artikel itu tayang pada tanggal 20 Mei 2021 jam 19:51 WIB. Pada catatannya itu kompas.com mengutip pernyataan Dosen Antropologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Budi Rajab. Budi mengatakan rendahnya representasi politik orang Sunda dikancah nasional ini disebabkan adanya perbedaan pola masyarakat Sunda dengan jawa yang sudah ada sejak zaman dahulu.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah pola mata pencaharian. Masyarakat Jawa memiliki kencendrungan mata pencaharian sebagai petani di sawah. Masyarakat petani sawah dalam satuan politik masyarakat dunia biasanya muncul satu kekuatan besar yang menyatukan. Budi menuturkan cirri masyarakat persawahan adalah mampu terkonsentrasi sehingga bisa disentralisasikan oleh satu kekuatan besar.

Hal ini berbeda dengan kondisi masyarakat Sunda yang cenderung sebagai peladang. Dengan perbedaan kondisi sosial ini masyarakat Sunda lebih punya kekuatan yang bersifat local. Kekuasaan terbagi secara local di beberapa wilayah. Orang Sunda memiliki kencendrungan lebih pada visi politik yang populis.

Hanya saja orientasinya lebih loka, tidak cosmopolitan. “Konsekuensinya politik kepemimpinan Sunda memang sulit berbicara pada tingkat nasional karena orientasi kepemimpinannya lebih bersifat lokal, tidak luas atau kosmopolis. Populis tapi orang Sunda tidak bisa membangun kekuatan populis yang kosmopolis,” papar Budi.