Dalam catatan kompas.com, berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010, jumlah populasi masyarakat Sundah mencapai tiga puluh tujuh juta jiwa. Karakter orang Sunda itu optimis, riang, ramah dan bersahaja. Selain itu, mereka juga dikenal sebagai petualang yang ulung dan berani. Tak heran jika populasi masyarakat Sunda tidak hanya meliputi wilayah Jawa Barat, Jakarta dan Banten saja, tapi juga bisa kita temukan di provinsi-provinsi lain di Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Alhasil definisi tentang orang Sunda tidak bisa dikerucutkan pada kelahiran dan tempat tinggal semata, tapi ada yang jauh lebih penting dari sekedar itu, yakni hubungan darah.
Sepanjang analisa kami, menjelang Pilpres 2024, dari sekian banyak nama yang muncul dalam bursa calon Presiden, sedikitnya ada dua nama yang bisa menjadi representasi perwakilan masyarakat Sunda. Pertama, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan ke dua, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto.
Jika definisi orang Sunda mengerucut pada yang lahir dan tinggal di tatar Pasundan, nama Ridwan Kamil tentu menjadi representasi orang Sunda dalam definisi itu. Namun jika menggunakan definisi hubungan darah, Airlangga Hartarto juga sah untuk mengklaim dirinya sebagai orang Sunda. Kenapa demikian? Airlangga meruapakan anak dari Ibu Hartini Hartarto (R . Hartini Soekardi Widjaja). Ibunya adalah tokoh Perempuan Sunda yang berasal dari Sukabumi dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Dharma Wanita periode 1993-2003.
Sedangkan kakeknya, R. Didi Soekardi Widjaja, seorang pejuang kemerdekaan sekaligus tokoh Sunda berpengaruh pada masanya. Pernah menjabat sebagai Ketua Paguyuban Pasundan Sukabumi tahun 1930an.
Airlangga Hartarto sendiri sejatinya memiliki kesempatan yang jauh lebih besar sebagai representasi orang Sunda yang akan maju di Pilpres 2024 mendatang jika dibandingkan dengan Ridwan Kamil. Bacaan ini tentu tidak semata-mata unsur subjektifitas belaka. Ada data-data penunjang yang memperkuat alasan dari argument itu.
Pertama, posisi Airlangga sebagai Menteri Koordinarot Bidang Perekonomian Indonesia memiliki sumbangsih luar biasa dalam mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya. Terlebih Airlangga berhasil menunjukkan kerja-kerja positif pemerintah lewat jabatan atau amanah yang saat ini ia pegang sebagai Menko Perekonomian. Apalagi saat terjadi pendemi Covid 19 dan dilanjutkan dengan pemulihan ekonomi nasional. Tak heran jika dibeberapa survei ada yang menyebut masyarakat sangat puas dengan kinerja Airlangga sebagai Menko Bidang Perekonomian. Bahkan dalam survey LSI (Laboratorium Survei Indonesia) per Juni 2022 menyebutkan Airlangga adalah calon presiden yang paling diinginkan oleh public. Airlangga dipilih oleh 28,2 persen dari 2080 responden LSI. Selain itu survei LSI menyebutkan Airlangga menjadi pejabat publik yang dinilai kebijakannya paling bisa dirasakan masyarakat.
Dan alasan kedua, tentu posisi Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar. Seperti kita ketahui bersama, partai politik menjadi instrument utama dari setiap proses demokrasi bangsa ini. Alhasil jika dibandingkan dengan Ridwan Kamil, peluang Airlangga tentu jauh lebih terbuka lebar. Terlebih sampai saat ini survei Golkar dibawah kepemimpinan Airlangga Hartarto terbilang sangat baik. Bahkan Golkar mampu bertransformasi menjadi partai yang paling modern dan terbuka, khususnya bagi kalangan milenial.








