Almanar, Cahaya Syiar Islam Melalui Syair dan Lagu

Menyihir Dewan Juri Festival Rebana

ALMANAR dilahirkan H Muhammad Syam (Alm) tahun 1960-an silam. Nama itu disematkan dengan harapan menjadi sumber cahaya syiar Islam melalui syair dan lagu.

Kebangkitan Almanar menapak pada tahun 1978. Saat itu, digelar festival rebana tingkat Jawa Barat di Bandung. Almanar yang saat itu diusung Heni Nuraeni Syam, Nunung Nuryanti, Enung Nurul Huda, Ade Syarifah (alm), Attin (alm) dan Dedeh Syaidah. Saat itu masih usia sekolah.

Almanar yang melantunkan lagu berjudul Gema Azan dan Wulidal Huda buah karya dari H Muhammad Syam berhasil menyihir dewan juri dan menobatkan Almanar sebagai juara pertama lomba rebana di tingkat Jawa Barat. Atas prestasi itu, Almanar langsung masuk dapur rekaman.

“Usia saya saat itu kelas satu SMP dan yang lainnya sudah SMA, ketika naik panggung langsung disambut dengan tepuk tangan penonton. Saat itu tidak menyangka kita akan menjadi juaranya,” ujar Heni.

Almanar pun meroket. Lagu-lagunya diminati. Termasuk tawaran manggung dari mana-mana. Hanya saja, karena masih anak sekolah, jadwal manggung dibatasi tidak semua undangan dipenuhi. Hanya Sabtu dan Minggu saja yang bisa dipenuhi, itu pun jaraknya tidak boleh jauh.

“Ayah saya sangat mementingkan sekolah. Jadi jadwal manggung jangan sampai mengganggu sekolah. Makanya dibatasi dan tidak boleh jauh khawatir tidak bisa masuk sekolah,” terangnya lagi.

Gema Azan merupakan album pertama Almanar yang kasetnya banyak diburu masyarakat. Dalam album itu dibesut delapan lagu. Di antaranya, Doa dan Salam ka Panutan. Lagu-lagu itu kini didaur ulang kembali dan masih banyak menyukai.

Pada masa ini merupakan masa keemasan Almanar. Tidak terbantah lagi tawaran manggung muncul dari mana-mana. Kehadiran Almanar bisa dibilang menjadi inspirasi munculnya kasidah modern di Tasikmalaya. Pasalnya setelah Almanar, kemudian muncul kasidah modern lainnya seperti Attarbiyah dan juga Alhikmah.

Hingga saat ini, Almanar sudah berganti formasi. Untuk saat ini di era kebangkitannya lagi, Almanar diisi oleh wajah-wajah baru dan hanya Heni Nuraeni Syam wajah lama yang masih bertahan.

Perubahan formasi ini terjadi ketika personil Almanar menikah atau meninggal dunia. Hingga kini sudah dua artis Almanar yang sudah meninggal.

Formasi awal  bertahan hingga album kelima sekitar tahun 1982. Formasi harus ganti karena beberapa personil Almanar menikah dan harus ikut suaminya. Ada yang pindah ke Bandung, Bogor dan lainnya. Namun beberapa diantaranya ada yang bertahan dan tetap di Almanar karena dibolehkan oleh suaminya.

Hingga saat ini Almanar sudah mengeluarkan 23 Album. Album terbaru saat ini Cinta Negeri yang keluar pada Februari 2017 lalu. Sebelumnya Almanar juga mengeluarkan Album Fatamorgana tahun 2016 yang laris manis dalam satu tahun sudah terjual 5000 kopi. Pada tahun 2015 lalu album yang dikeluarkan Almanar berlabel Hamba Uang

Untuk memenuhi kebutuhan pasar Almanar juga membuat MP3 untuk lagu-lagu lamanya dengan tanpa mengubah sedikit pun aransemen lagu. Jadi semuanya masih tetap dipertahankan keaslianya. Hanya berubah dari kaset pita ke MP3. (Abdul Latif)***

Diskusikan di Facebook