PESANTREN

Bebas Perkara, Hati Tenang: Berkah Hadir Pada Pengajian Rutin Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) Sumedang

×

Bebas Perkara, Hati Tenang: Berkah Hadir Pada Pengajian Rutin Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) Sumedang

Sebarkan artikel ini

Oleh: Redaksi Majlis Ta’lim Cinta Nabi Cinta Negeri (CNCN)

Ada sebuah ketenangan yang tak ternilai harganya ketika seseorang memilih untuk melepaskan haknya untuk menuntut, demi meraih kasih sayang Sang Pencipta.

Pengalaman spiritual nan mendebarkan inilah yang dialami oleh H. M. Endang Hasanuddin pada Jumat pagi, 10 April 2026 (21 Syawal 1447 H), sebuah fragmen kehidupan yang membuktikan bahwa ilmu agama bukan sekadar hafalan di lisan, melainkan kompas di saat krisis.

Detik-Detik Ujian Kesabaran

Di tengah lengangnya jalanan Sumedang karena kebijakan Work From Home (WFH), sebuah insiden yang nyaris berakibat fatal terjadi. Sebuah spanduk besar jatuh dari ketinggian, tepat menutupi pandangan Haji Endang yang tengah memacu sepeda motornya.

Dalam kegelapan sesaat di balik kain spanduk, maut terasa begitu dekat. Beruntung, pertolongan Allah hadir; jalanan yang kosong menyelamatkannya dari kecelakaan beruntun.

Namun, ujian sesungguhnya datang pasca-kejadian. Saat emosi memuncak mendapati dua pekerja lalai yang menurunkan spanduk tanpa prosedur keamanan, godaan untuk “memperkarakan” atau “memviralkan” begitu kuat.

Di era digital ini, satu unggahan video bisa menghancurkan reputasi dan mata pencaharian seseorang dalam sekejap.

Implementasi Nyata QS. Ali ‘Imran: 134

Mengapa beliau memilih memaafkan? Jawabannya ada pada gema tausiah semalam sebelumnya.

Pada Kamis malam, 9 April 2026, di bawah kubah Masjid Agung Sumedang, sosok kharismatik Pangersa Abuya Prof. Dr. (H.C.) KH. Muhammad Muhyiddin Abdul Qodir Al-Manafi, MA. memberikan “bekal” dalam Pengajian Rutin Majlis Ta’lim Bersatu (MTB).

Abuya mengupas tuntas karakteristik insan bertaqwa dalam QS. Ali ‘Imran: 134:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Haji Endang menyadari bahwa inilah saatnya mempraktikkan teori langit ke bumi kenyataan.

Dengan menahan amarah (al-kaziminal-gaiza) dan memberikan maaf (al-‘afina ‘anin-nas), beliau tidak hanya menyelamatkan masa depan dua pekerja tersebut, tetapi juga menyelamatkan ketenangan hatinya sendiri.

Mengetuk Pintu Berkah di MTB Sumedang

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua betapa krusialnya menghadiri majelis ilmu. Tanpa siraman rohani yang segar, mungkin amarah yang akan menang. Namun, dengan rutin menghadiri Majlis Ta’lim Bersatu (MTB) Sumedang setiap malam Jumat kedua dan keempat, jiwa senantiasa “di-cas” untuk siap menghadapi dinamika hidup dengan kacamata iman.

Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu yang membahayakan, namun memaafkan melapangkan jalan menuju masa depan yang penuh berkah. Sebagaimana pesan yang tersirat dari kejadian ini: Bebas Perkara, Hati pun Tenang.

Mari terus istiqomah melingkar dalam majelis ilmu, merapatkan barisan bersama Abuya di Masjid Agung Sumedang, demi mengejar keselamatan dunia dan kemuliaan di akhirat.***