Ade kemudian meletakkan pendidikan sebagai benteng utama. Karena hanya kebodohan yang dapat menjerumuskan pada kehancuran. Sehingga ia mendorong agar FKDM berperan agar pendidikan di Kabupaten Tasikmalaya dapat terselenggara, setidaknya pendidikan dasar.
Sementara terkait masalah keyakinan beragama, Ade menduga ada yang salah. Karena sejauh pemahamannya, tidak mungkin orang beragama tidak melaksanakan kebaikan, toh agama tidak memerintahkan kejelekan. Jangankan menyakiti orang lain, menyakiti dirinya sendiri saja tidak boleh.
“Maka, radikalisme yang mengatasnamakan agama adalah kebohongan nyata. Terus, nilai budaya juga harus kita jaga, jangan sampai tercerabut. Simkuring urang Sunda, orang Tasik, soméah ka sémah, kok. Mana ada orang Tasik yang tidak menghargai tamunya?” tambah Ade.
Setelah mengemukakan faktor-faktor tersebut, pada akhirnya Ade menilai FKDM harus merumuskan upaya meminimalisir radikalisme pada setiap tingkatan. Ia mencontohkan bahwa persoalan di Desa Bojonggambir akan berbeda dengan Desa Sindangasih.
“Silahkan FKDM merumuskan, nilai dan mengidentifikasi. Sampaikan itu ke pemangku kebijakan; pemerintah yang terutama, kepolisian, TNI, alim ulama dan lain sebagainya. Supaya tercipta kerja sama antarunsur. FKDM ini semacam katalisatornya,” Ade menandaskan.
Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv












