KAPOL.ID–Rahmawati datang ke kantor sekolah. Suatu siang. Mau mengantar raport-nya. Sesuai interuksi wali kelas.
“Jenuh,” akunya. “Sekarang saya cuma kangen sekolah,” tambahnya.
Dwima lain lagi. Dari rumahnya, ia berkirim pesan melalui WhatsApp, kepada pembina di pesantren.
“Ustad, beneran deh, saya mending tinggal di pesantren. Di rumah bosen. Mana tidak dapat uang jajan, kuota habis melulu, kerjaannya belajar terus lagi,” keluhnya.
Belajar di rumah memang berbeda dengan belajar di sekolah. Di sekolah, siswa tinggal mendengarkan guru sambil…; melamun atau tidur, misalnya.
Di rumah tidak begitu. Setiap matapelajaran sifatnya tugas. Harus dikerjakan. Ada buktinya. Baik berupa foto, audio, maupun audio visual. Kelas IX bahkan portopolio. Setiap mata pelajaran bikin pening.
Rahmawati dan Dwima sebenarnya masih mending. Mereka baru dua minggu belajar di rumah. Seminggunya di asrama. Masih banyak kawan. Sejak pemerintah meliburkan sekolah. Akibat darurat Covid-19.
Keduanya santriwati Pesantren Qurrota A’yun. Beralamat di Jl. Mangunharja No. 23, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Sekolah SMP di tempat yang sama. Boarding School. Sekolah sambil mondok. Mondok sambil sekolah.
Para pedagang yang biasa mangkal di sekolah itu juga sama, berharap kegiatan di sekolah kembali normal. Bisa jadi cerminan dari seluruh pedagang, di sekolah mana pun. Mereka kerepotan mencari nafkah.
“Pak, kapan anak-anak masuk lagi? Cape saya kalau begini terus,” ujar beberapa pedagang kepada seorang guru.
“Itu mah sudah bukan urusan sekolah lagi. Pemerintah menetapkan libur sekolah sampai akhir Mei (2020),” jawab guru itu.
Waktu yang panjang jadi tantangan bagi para pedagang. Mereka memang masih suka jualan. Seringkali dagangannya tetap ludes. Tapi lebih banyak menghabiskan waktu dan energi.
Pedagang makaroni basah misalnya, biasanya cukup mangkal di sekolah sampai Duhur. Pagi di MI, jam istirahat di SMP, Duhur di SD. Habis itu ia bisa pulang. Istirahat di rumah.
Sekarang tidak. Untuk mendapat penghasilan seperti biasa, pedagang makaroni basah itu musti keliling kampung. Pake motor. Mana ribet, karena keluar-masuk gang sempit. Ia butuh lebih banyak waktu, tenaga, dan bensin.
Bahkan ada seorang penjual cilok yang rela mengayuh sepeda sampai belasan kilometer. Pergi-pulang. Dari pagi sampai sore dagangannya belum habis. Kalau hujan, terpaksa berteduh.
“Sekarang mah kadang pulang ke rumah sampai malam. Apalagi kalau hujan. Nggak habis juga, ya, pulang aja,” ujar pedagang cilok.
Para pedagang itu tidak bisa kalau harus tetap di rumah. Cuma itu mata pencaharian mereka. Dari hasil jualan itu keluarga mereka bisa makan.
“Gimana lagi. Pedagang macam kami ini, kadang saat kami keliling inilah istri berhutang ke warung tetangga. Kami pulang, istri bayar utang,” ujar pedagang batagor.
Sebelum pandemi Covid-19 muncul, siswa, santri, dan pedagang jarang kompakan kangen sekolah. Siswa dan santri senang, tiap tiba waktu libur. Di samping tidak musti belajar, juga bebas main ke mana saja mereka suka. Pedagang tetap saja tidak senang.
Semua memang sangat berharap, pandemi Covid-19 segera berlalu.
—- Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment —-
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web: https://kapol.tv
Twiter : https://twitter.com/kapoltv
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Instagram : https://www.instagram.com/kapol_id
Portal Inside : https://kapol.id/











