PENDIDIKAN

Kang Abik, Penulis Ayat-Ayat Cinta Hadir di Al Mashduqi Garut. Pesan Haru Orang Tua Warnai Pelepasan Santri Murid ke Al-Azhar

×

Kang Abik, Penulis Ayat-Ayat Cinta Hadir di Al Mashduqi Garut. Pesan Haru Orang Tua Warnai Pelepasan Santri Murid ke Al-Azhar

Sebarkan artikel ini
Kang Abik di sesi kajian parenting ***

KAPOL.ID — Pesan haru tentang keikhlasan melepas anak untuk menuntut ilmu jauh dari keluarga mewarnai kegiatan Quality Time with Parents Al Mashduqi Islamic School Garut di Auditorium Drs. H. Dede Satibi, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan yang dihadiri ratusan orang tua santri ini menghadirkan novelis nasional Habiburrahman El Shirazy, yang dikenal dengan sapaan Kang Abik, dalam kajian bertema “Ketika Cinta Berbuah Surga”.

Habiburrahman El Shirazy merupakan novelis Indonesia lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia dikenal luas melalui karya sastra bernuansa Islami yang mengangkat tema cinta, keimanan, perjuangan, dan kehidupan.

Sejumlah karyanya yang dikenal pembaca antara lain Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta, Api Tauhid, Dalam Mihrab Cinta, Cinta Suci Zahrana, Bidadari Bermata Bening, dan Merindu Baginda Nabi.

Selain menulis novel, Kang Abik juga berkecimpung dalam bidang dakwah, pendidikan, serta pengembangan seni dan budaya Islam.

Kehadirannya dalam kegiatan Quality Time with Parents memberikan ruang bagi orang tua untuk merefleksikan nilai-nilai pendidikan keluarga melalui perspektif keislaman dan keteladanan.

Pesan yang disampaikan menempatkan cinta bukan sekadar perasaan, melainkan tanggung jawab untuk membimbing anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak mulia.

Dalam kajiannya, Kang Abik menjelaskan bahwa anak memiliki tiga aspek kebutuhan yang perlu diperhatikan secara seimbang, yakni jasadiyah (fisik), aqliyah (intelektual), dan ruhiyah (spiritual).

Menurutnya, perhatian orang tua kerap lebih banyak tertuju pada kebutuhan fisik anak, sedangkan kebutuhan spiritual terkadang belum mendapatkan perhatian yang memadai.

Ia mengingatkan bahwa kasih sayang kepada anak perlu diwujudkan melalui pemenuhan ketiga aspek tersebut, termasuk membangun kedekatan spiritual melalui doa, ibadah, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Kang Abik juga menyoroti pentingnya mendoakan anak secara khusus, termasuk melalui ibadah pada malam hari dan pembiasaan amal saleh. Baginya, salah satu bentuk ikhtiar orang tua dalam menjaga anak adalah dengan terus memperbaiki diri dan berusaha menjadi teladan dalam kebaikan.

Dalam penjelasannya, ia mengangkat kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai gambaran bahwa kedekatan orang tua dan anak tidak semata-mata ditentukan oleh intensitas pertemuan fisik. Meski tidak selalu bersama, hubungan spiritual tetap dapat dijaga melalui doa, keteladanan, dan kehadiran pada momen-momen penting dalam kehidupan anak.

Salah satu contohnya adalah keterlibatan Nabi Ismail AS ketika bersama Nabi Ibrahim AS membangun kembali Ka’bah. Kisah tersebut menjadi refleksi bahwa sesibuk apa pun orang tua, mereka tetap memiliki peran dalam membersamai perjalanan anak, termasuk melalui doa dan amal saleh.

Kang Abik menegaskan bahwa mempercayakan pendidikan anak kepada pesantren dan guru bukan berarti mengalihkan seluruh tanggung jawab pendidikan.

Orang tua tetap berperan penting dalam mendampingi anak melalui komunikasi, doa, perhatian, serta keteladanan yang berkelanjutan.

Cinta dalam keluarga, menurut pesan kajian tersebut, bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang bagaimana setiap anggota keluarga saling menuntun agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Dalam sesi wawancara, Kang Abik menyampaikan kebahagiaannya dapat berkunjung ke Al Mashduqi International Islamic Boarding School (IIBS) Garut.

Ia mengapresiasi lingkungan pendidikan pesantren tersebut dan berharap Al Mashduqi terus berkembang sebagai tempat para santri mendalami ilmu agama sekaligus sains.

“Saya bahagia sekali pada hari ini bisa berkunjung ke pesantren yang keren sekali, Al Mashduqi International Islamic Boarding School yang ada di Garut,” ujar Kang Abik.

Ia meyakini pesantren memiliki potensi menjadi manbaul ulum, yakni sumber ilmu pengetahuan bagi para santri.

“Saya sangat yakin pesantren ini akan menjadi salah satu manbaul ulum, tempat ilmu-ilmu agama dan science bisa didapatkan oleh para santri,” tuturnya.

Kang Abik juga menyampaikan doa agar Al Mashduqi terus mengalami perkembangan positif, seluruh pihak yang terlibat mendapatkan pertolongan Allah SWT, dan para santri memperoleh ilmu yang bermanfaat serta berkah.

“Saya doakan semoga pesantren ini terus semakin baik, semua yang terlibat dilimpahi inayah oleh Allah SWT, dan semua para santri mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta berkah,” tambahnya.

Momen reflektif juga hadir melalui parents speech yang disampaikan Buya Yamin Efendi sebagai perwakilan orang tua santri murid yang akan berangkat ke Mesir.

Dalam pesannya, ia mengajak orang tua dan santri murid memaknai perpisahan sebagai bagian dari ikhtiar pendidikan, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT, terutama bagi santri yang akan melanjutkan pendidikan ke Universitas Al-Azhar, Mesir.

“Melepaskan itu bukan hal yang mudah bagi orang tua. Karena rasa cinta sering kali ada perasaan tidak ingin berpisah jauh,” ungkap Buya Yamin.

Ia mengajak hadirin merenungi kisah Nabi Musa AS yang dihanyutkan oleh ibundanya, kerinduan Nabi Yaqub AS kepada Nabi Yusuf AS, hingga keteguhan Nabi Ibrahim AS dalam menaati perintah Allah SWT untuk meninggalkan Nabi Ismail AS.

Kisah-kisah tersebut menjadi pengingat bahwa cinta kepada anak perlu disertai keikhlasan dan keyakinan terhadap kasih sayang Allah SWT.

Kepada para santri murid yang akan berangkat ke Al-Azhar, Buya Yamin menitipkan empat pesan sebagai bekal menjalani pendidikan jauh dari keluarga.

“Pesan Buya hanya empat. Satu, perhatikan bab salat. Kedua, perhatikan Al-Qur’an; berdialoglah, berdiskusilah dengan Allah bersama Al-Qur’an. Ketiga, rajin belajar, dan keempat, tetap menjadi orang baik dalam kondisi apa pun,” pesannya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada konsistensi ibadah, kedekatan dengan Al-Qur’an, kesungguhan belajar, dan akhlak dalam menghadapi berbagai keadaan.

Melalui kegiatan ini, Al Mashduqi Islamic School Garut menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi juga membangun keimanan, membentuk akhlak, dan memperkuat kolaborasi antara keluarga dan pesantren dalam mempersiapkan generasi yang berilmu serta berkarakter Qur’ani.***