”Kasir Kita” Pentas Padat yang Memikat

(Catatan kecil pengantar pertunjukan)

KEKUATAN teks dalam sebuah pertunjukan teater adalah dibaca dan harus dibaca dengan latar belakang teks lain (wacana dan teoritis); tidak ada sebuah teks yang sungguh-sungguh mandiri (mimesis), dalam arti bahwa penciptaan dan pembacaannya tidak dapat dilakukan tanpa adanya teks lain tadi.

Teks yang menjadi latar penciptaan karya baru hypogram, dan teks baru inilah yang menyerap dan mentarnsformasikan ke dalam tubuh ator dan menjadi tubuh pentas yang di dalamnya ada akting, artistik, musik dll.

Seperti kata Thomas Munro dalam bukunya, The Arts and Their Interrelations, (1969), 500 “Seni teater atau penampilan teatrikal adalah kombinasi seni yang menghasilkan efek-efek yang sesuai bagi pertunjukan teatrikal atau penciptaan dramatik, terutama bagi drama ucapan di sebuah gedung teater.

Pertunjukan teatrikal merupakan gabungan ketrampilan seni, seperti seni peran, penyutradaraan, desain panggung, pemanggungan, penataan kostum dan rias, penataan lampu dan musik sering disebut sebagai pertunjukan teatrikal”.

Karena tanpa ada kekuatan ini teater tidak mempunyai kekuatan ritmis, empatis dan magnetis serta hipnotis. Dan kekuatan itulah menjadi suatu power of intrinsik yang menyebabkan teater masih punya alasan untuk di datangi apresiatornya (audient).

Prinsip praktik tekstual pada sebuah pertunjukan teater, berawal dari gambaran teks (naskah), bahwa teks adalah sesuatu yang terajut. Kemudian teks menjadi suatu pembacaan terhadap rajutan dalam teksturnya, dalam rajutan sandi-sandi pada teks, sebagai formula penciptaan awak pentas.

Hal ini dapat digambarkan seperti halnya laba-laba yang menenggelamkan dirinya sendiri dalam jaring yang dibuatnya. Kekuatan teks dianggap sebagai hipologi. Hypos adalah rajutan, tenunan, jaringan, seperti halnya Barthes menyebut teori teks adalah teori tentang jaringan.

Adalah pergelaran teater ”Kasir Kita” karya Arifin C Noer pada naskah ini sang pengarang kelihatannya mencoba bermain dengan teks sebagai pusat estetikannya, alhasil teks teks yang tertuang kelihatan sidrom mengakibatkan hasil akhir dari pertunjukan sedikit intuitif.

Pagelaran yang berdurasi ini kurang lebih 50 menit ini mengahsilkan cerita naratif, terlihat dari agedan adegan atau ruang yang di bangun Arifin C Noer merupakan imajinasi yang ketat pemaparan cerita yang cepat. Bisa di banyangkan empat bangunan imajinasi di sodorkan dalam waktu nyaris bersamaan perlu adannya konsep yang sempura dengan proses yang tidak sebentar apalagi asal asalan.

Hal inilah perlu adannya kekuatan kolektivitas yang utuh dari berbagai elemen pengusung peristiwa teratur.
Sepertinya pengabdian aktor terhadap teks ketika merepresentasikan ketokohan, terlihat harus kosisten.

Aktor jangan terjebak pada hitungan hitungan dalam memamah dialog yang di lontarkan artinya jangan pembagian ruang tentu saja peran yang menyelamatkan persioalan teknis ini sebagai pengusung estektika atau jembatan imajinasi untuk penonton, akhirnya menghasilkan satu pertunjukan yang mungkin di harapkan sehingga tidak tergerus oleh ide gagasan subjektif. (kehendak tentang ide gagasan pada persoalan yang dianggkat dalam naskah).

Menangkap sosok manusia “Kasir Kita” karya Arifin C Noer untuk direfresentasikan ke dalam peristiwa pertunjukan, perlu adanya diskusi yang intens melalui wacana baik teoritis maupun praktika untuk mencapai sebuah kesepakatan konsep yang di usung secara kolektif.

Pencarian kesejarahan tentang naskah hukumnya wajib untuk dikaji untuk menjadi dasar dari segala pencarian estetika yang akan digelar guna percapainya sebuah “Kehendak” peristiwa teater yang utuh.

Kiranya semua bangunan Art dan Non-Art akan bermuara pada proses dari mulai kajian liteler, penelitian dan wacana teoritik, tentu saja di godok dalam bejana latihan secara intens mulai dari mengolah vocal, mengolah tubuh, mengolah konsentrasi dan imajinasi serta tidak melupakan mengolah persoalan apresiator. Supaya pertunjukan yang tersaji diharapkan tidak menjadi split reverence. Sebuah kerja keras memang!

Terakhir, catatan kecil ini sebagai pengantar pertunjukan“Kasir Kita” karya Arifin C Noer, Dengan Aktor Kido Fauzi persembahan dari Teater Rawayan Ceta Tasikmalaya, pada event FTC (Festival Teater Cirebon). Mudah mudaha berkesan, seperti yang disampaikan oleh Janet Wolf bahwa tugas penikmat atau penonton memaknai kembali ”ruang kosong” di dalam teks yang ditinggalkan oleh pengarang.

Artinya (memfungsikan kembali) makna karya seni yang tersaji. Malahan Hirsch menganggap bahwa beralihnya pusat pemaknaan ke tangan setiap apresiator menyebabkan makna menjadi berbeda-beda dan berubah mengikuti seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki penonton.

Tidak ada lagi determinasi dan kekuasaan pengarang dan penggarap, yang ada hanya proses interpretasi terus menerus dari apresiator dengan mengembangkan apa yang disampaikan pengarang melalui karyanya.

Mudah-mudahan catatan ini menjadi pengetahuan dan pengalaman, literary repertoire, walaupun belakang pengetahuan yang berbeda, tapi ada kesepakan bersama ketika menilai sebuah karya seni ”apapun”, sehingga hasil penerimaan dan tanggapannya berbeda pula.

Keadaan ini memperlihatkan gejala bahwa dalam tindak laku akting aktor terjadi interaksi dialog antara aktor, penikmat dengan kekuatan teks naskah yang selanjutnya melahirkan beragam makna. Cag!

Penulis,
Tatang Pahat, Sutradara
Tinggal di Tasikmalaya

Diskusikan di Facebook