oleh

Koordinasi “Jalanan” MDMC–LazisMu dengan Camat Sodonghilir

KAPOL.ID—Tibalah di Ciangrit, Dusun Kersagalih, Desa Sodonghilir. Sisa-sisa longsoran masih teronggok di kedua sisi jalan kabupaten. Tiga sampai empat warga duduk-duduk santai di atas patahan pohon, di pinggir jalan, sambil menatap tebing yang masih mungkin saja longsor.

Tebing Bukit Angrit itu merosot, Senin (12/10/2020). Kata warga setempat, di sana sebanyak tiga sepeda motor tertimbun longsoran. Tapi tidak dengan pemiliknya. Saat tim asesmen dari MDMC dan LazisMu tiba di sana, Selasa (13/10/2020), dua motor sudah ditemukan. Tinggal satu lagi, masih di bawah tanah.

“Longsor terjadi karena ada batu yang patah. Patahan batu amblas, tanahnya merosot ke jalan. Alat berat didatangkan sama BPBD dari kabupaten. Walaupun jalannya sudah bisa dilewati, tapi sisanya masih banyak yang harus diberesin,” ujar Yatna, warga setempat.

Bukit Angrit sendiri adalah pemisah antara dua perkampungan; Ciangrit di utara dan Datarjeruk di selatan. Di atas bukit ada kolam. Curah hujan yang tinggi menyebabkan air kolam meluap, lalu mengalir ke tebing, menggenang, sampai tanahnya merosot.

Tepat di titik longsor itulah tim asesmen dari MDMC melihat mobil Camat Sodonghilir, Ari Fitriadi, tengah melaju. Tim MDMC dan LazisMu meminta Camat Ari berhenti. Ada banyak hal yang mesti dikoordinasikan. Tim MDMC dan LazisMu sendiri sejatinya hendak menuju kantor kecamatan. Koordinasi “jalanan” pun berlangsung.

Camat Ari memberi banyak informasi. Termasuk keterbatasan pihaknya dalam menyelesaikan bencana di wilayah pemerintahannya. Karena memang titiknya banyak, sementara anggaran sangat minim. Meski demikian, Camat Ari punya pemahaman akan langkah-langkah yang dapat ditempuh.

“Untuk jangka panjang, kita butuh kajian resiko bencana atau mitigasi. Sampai saat ini, petanya masih global, belum sampai pada peta secara wilayah. Kalau begini kan kita berjudi dengan nasib. Artinya, kalau satu tebing longsor, yang selamat ya selamat; yang mati ya innaalillaahi wa innaa ilaihi roojiuun. Lalu kita makamkan,” ujar Ari.

Secara mitigasi, lanjut Ari, wilayah yang struktur tanahnya tidak layak huni mesti melakukan evakuasi. Pada posisi ini, sebagai camat Sodonghilir, Ari berupaya untuk menciptakan sistem budaya baru, dalam arti relokasi daerah hunian.

“Terkait tanah-tanah jenuh juga butuh kajian keilmuan. Yang namanya tanah kan makhluk, dan makhluk punya rasionalitasnya. Artinya, kalau jenuh, tanah akan membengkak dan jatuh menjadi longsor. Nah, itu penanganannya jangka panjang,” sambungnya.

Di samping upaya jangka panjang, warga Sodonghilir juga butuh penangan yang bersifat jangka pendek. Yaitu melatih kesiap siagaan masyarakat. Sehingga, manakala jerjadi bencana, kelak warga sudah siap dan tangguh. Dalam kata lain, menyelamatkan diri dan keluarga adalah tugasnya masing-masing.

“Selebihnya, pemerintah hanya membantu. Jadi mereka sudah mempunyai rencana hidup masing-masing: menjaga rumahnya supaya aman. Karena itu, warga harus kita cerdaskan,” sambungnya.

Camat Ari mengajukan sebuah contoh. Di Sindanghurip pernah terjadi longsor Gunung Pomporang yang menimbun satu perkampungan, pada 1992. Namun pada kenyataannya, hingga kini masih saja ada kehidupan. Bahkan, kini, perkampungan tersebut dalam “intaian” longsor dari gunung yang sama.

Camat Ari sedikit menyayangkan, sebab kenyataan tersebut menunjukan belum adanya upaya yang bersifat ilmuah di Sindanghurip. Di sana sama sekali tidak ada bronjong, juga tidak ada upaya penanaman kembali pepohonan yang akarnya kuat sebagai penyangga tebing supaya tidak terjadi longsor.

“Kalau kata Pak Camat mah sudah saatnya kita sekarang berembuk dengan 12 kepala desa untuk menyiapkan piranti dasar sarana untuk mengantisipasi bencana. Peralatan sederhana rescue; tambang, senter, genset, generator, sukur-sukur sampai eskavator minimal satu—itu pun kalau ada dananya,” tutur Ari lagi.

Mengingat Kecamatan Sodonghilir merupakan daerah rawan bencana, Camat Ari mengaku terus melakukan kampanye ke para kepala desa untuk mengedukasi pemukiman warga yang nanggéwér supaya direlokasi. Yaitu memciptakan lokasi kehidupan baru yang lebih aman.

Adapun daerah Kecamatan Sodonghilir yang sejauh ini menjadi langganan bencana, sebagaimana hasil pemetaan dan pendataan pihak kecamatan, yaitu Desa Sukabakti, Desa Cukangjayaguna, Desa Sodong, Desa Cikalong, dan Desa Leuwidulang.

“Termasuk yang biasanya tidak terkena bencana, seperti Sepatnunggal, sekarang terkena. Itulah daerah-daerah yang ada di lereng-lereng pegunungan. Bahkan dari segi semiotikanya juga sudah menghawatirkan dari segi keamanan, seperti Nanggéwér, Balangéndong, dan sebagainya,” tandas Ari.

[Tunggu Sambungannya]

Komentar