Marni Ingin Kaya

  • Bagikan

Cerita Pendek Ana Hasanah

Ruang kamar berukuran sempit itu penuh dengan kepulan asap kemenyan yang sengaja dibakar oleh dukun tua itu. Asapnya memenuhi seluruh ruangan seperti membentuk gumpalan awan putih yang berarak beriringan.

Marni terbatuk-batuk menghisap bau menyengat dari kemenyan, apalagi Arman yang sejak tadi mengantarnya, memilih duduk di luar rumah karena muak dengan bau kemenyan itu.

“Nyai, permintaanmu sudah mbah sampaikan. Sesampainya di rumah, cepatlah mandi memakai kembang tujuh rupa, dan ingat, jangan sekali-kali menoleh ke belakangmu sebelum sampai rumah!,” pesan dukun tua.

“Baik, mbah. Semua pesan mbah akan saya kerjakan dengan baik.”

Marni sudah sangat mahir merapal mantra-mantra, telah menjadi satu dalam aliran darahnya hingga setiap rangkaian kalimat di dalamnya melebur dalam langkahnya, dalam nafasnya, dalam kelebat bayangan tubuhnya.

Persekutuannya dengan dukun-dukun sakti mandraguna itu baginya lebih penting daripada perlakuannya terhadap orang-orang terkasihnya.

“Hai, Marni, aku baru saja loh dibelikan mobil terbaru oleh suamiku. Kalau besok acara arisan komplek, pasti semua mata melotot melihat mobil trendi ini. Kamu juga minta lah sama suamimu yang pegawai negeri itu, masa tidak bosan jalan-jalan hanya pakai motor saja”

“Ah, saya juga kemarin dibelikan Iphone terbaru oleh suami, sebagai hadiah ulang tahun. Rasanya seneeeeeng banget!”

Desiran darah Marni semakin hangat dan mulai memanas setiap mendengar celotehan ibu-ibu komplek itu, hampir setiap malam mimpinya selalu tentang segala angan-angan yang belum terkabulkan. Angan-angannya selalu berbisik bahwa semua kesenangan hidup bakal ia temui suatu saat nanti, semakin dekat, dan membuat tidurnya selalu gelisah dihantui ambisi yang semakin liar.
***

Bukan kali pertama Arman dipaksa oleh Marni untuk menyambangi dukun-dukun, untuk meminta kaya raya, dia tidak terima dengan penghasilan suami yang pas-pasan sedangkan kebutuhan hidupnya sangat banyak.

“Kebutuhan hidup, hah…? Atau untuk sekedar gaya hidup? Aaarghh, Marni…Marni…kamu memang keras kepala,” cerocos batin Arman.

Musim kemarau yang cukup panjang membuat tanah menjadi kering, tetapi menjadi kebahagiaan bagi anak-anak karena bisa bermain layang-layang sepuasnya di pematang sawah.

Sore itu Arman duduk di guludan tanah kering sambil memandangi anak bungsunya bermain layangan bersama teman-temannya.

Angin senja yang sejuk menyentuh helai rambutnya yang hitam, dibiarkannya angin mengitari tubuhnya, menyentuh pipinya, menyentuh matanya, perlahan ia menutup matanya sekedar menikmati desiran angin itu.

Dia terbuai dengan suasana senja, dengan suara derai tawa anak-anak yang sedang bahagia ketika layangannya semakin tinggi terbawa angin. Setidaknya itulah yang membuatnya sejenak bisa melupakan kepenatan hidup. Pertengkaran demi pertengkaran membuatnya jengah, hatinya diliputi gundah dan semangat pun perlahan surut.

Awan putih berarak seperti menari di istana kayangan, musik semesta mengalun lembut mengiringi para bidadari jelita meliukkan tubuhnya dengan gemulai. Musik dan irama itu semakin jelas terdengar di telinga Arman, seakan membisikkan “hidup ini nikmati saja alurnya!, semuanya sudah sempurna adanya…”.
***

Saat kedua anaknya telah tertidur lelap, Marni punya kesempatan berbincang dengan Arman.

“Minggu depan aku mulai ikut senam Zumba, kang. Teman-teman dan tetangga komplek seberang juga ikutan, masa aku tidak? Aku butuh uang untuk beli pakaian senam yang lengkap dengan sepatunya juga, ya! Oh iya, sekalian, cicilan motor aku bulan ini pun belum dibayar. Kamu bisa, kan, usahakan uangnya?”

Arman hanya berpura-pura asyik menonton televisi, dia sedikit kesal dengan tingkah Marni yang selalu begitu, padahal uang cicilan motor seminggu lalu sudah dia berikan kepadanya. Entah dihabiskan untuk apa hingga Marni dengan seenaknya menuntut uang lagi.

“Kaaang, kamu dengar atau tidak sih? Aku ngomong sejak tadi seperti kaleng rombeng saja, tidak diperhatikan. Makanya, cari tambahan penghasilan yang lain, lebih semangat dan bergairah lah!, aku malu dengan tetangga komplek masa suami seorang Pegawai Negeri, tapi hidupnya begini-begini saja tak ada perubahan,” tuntut Marni.

“Kamu tahu kan, sisa gajiku tinggal sedikit. Gajiku dipakai untuk menyicil ke bank karena butuh biaya perawatan ibumu yang cukup besar. Adikmu juga aku biayai sekolahnya, jadi kalau kamu ada kebutuhan lain, tolonglahnya atur kebutuhan rumah tangga dengan baik, yang penting-penting dulu utamakan!,” suara Arman meninggi.

Arman tak memberi kesempatan kepada Marni untuk menyela ucapannya, ia langsung beranjak ke kamarnya. Derit suara daun pintu cukup keras ditutupnya sedikit mengganggu telinga yang mendengarnya. Arman sudah jenuh dengan semua perdebatan yang tak kan pernah berujung.
Tinggallah Marni sendiri di ruangan yang beku dengan segala kekesalan yang tak tertumpahkan.
***

Tubuh Arman melesat tinggi bagaikan kapas tersapu angin, melayang-layang di antara gumpalan awan putih yang sengaja mengitarinya. Entah mengapa dia tak bisa mengendalikan kekuatan dirinya sendiri, semesta seakan membawanya pada dimensi kosong yang belum pernah dialaminya.

Dari kejauhan dia melihat sebuah keramaian, seperti ada cahaya berwarna-warni, rupanya berasal dari lampu malam yang sesekali mengenai tubuh-tubuh sintal yang sedang asyik menenggak minuman beralkohol. Alunan musik R&B mengantarkan candu disertai gelak tawa kehangatan, mulut-mulut pun menceracau tak karuan.

“Marni? Kamukah itu? Mengapa kamu di sana? dengan siapa?”

Tubuh Arman melesat hendak meraih tubuh Marni yang tengah berada di pelukan seorang pemabuk, namun aneh tubuhnya terpental tak dapat menembus dinding kaca bar itu. Tiba-tiba matanya seakan gelap, dia hanya mampu berteriak dengan segenap sisa suaranya.
Marni terbangun karena terganggu oleh teriakan keras suaminya, dia mengguncang-guncang tubuh Arman yang masih tergolek di sampingnya.
***

Hari-hari dilaluinya dengan sepi, rumah hanyalah sebagai tempat persinggahan sekedar melepas lelah di saat malam menuju peraduan. Sejak

Marni mengikuti acara sosialita teman-temannya, dan segudang alasan lainnya untuk mencari kegiatan tambahan, dia nyaris selalu pulang malam. Arman hanya ditemani kedua anaknya menghabiskan waktu bersama selepas kerja, menemaninya belajar, bermain dan sesekali mengajaknya berjalan-jalan ke luar.

“Kasihan si Arman, ya. Tiap hari mengurusi anaknya sedangkan si Marni kelayapan”

“Eh, memangnya Arman tidak curiga kalau sebenarnya si Marni itu macam-macam di luar sana? Huuh, kalau aku jadi Arman, sudah kuikat isteriku di dalam rumah”

“Aku malah pernah lihat Marni pulang malam, dia diantar seorang lelaki dalam mobil sampai ujung gang. Sepertinya lelaki itu selingkuhannya”

“Huss, jangan begitu! Siapa tahu si Marni malah minta pesugihan, bukankah dia ingin kaya?”

“Ha-ha-ha-ha”
“Ha-ha-ha-ha.”
Hampir setiap hari kuping Arman terasa panas mendengar gunjingan tetangga komplek, bahkan sudah menjadi topik hangat di warung kopi ujung jalan tentang Marni. Ibu Marni pun semakin tersiksa setiap kali mendengar obrolan sinis mereka, membuat kesehatannya semakin menurun.
***
Pada suatu malam, hanya ditemani sepotong rembulan saja, Arman berbincang dengan dirinya.

“Marni, akupun merindukan saat-saat bahagia kita dulu, menyeruput teh dan kopi kental buatanmu yang penuh cinta, mendengarkan suaramu mengalunkan puji-pujian seusai shalat bersama anak-anak kita, berlari-lari kecil di pematang sawah menunggui padi yang semakin menguning milik ibumu, menjaganya dari gangguan burung-burung pipit.

”Aarggh bukankah dengan begitu pun kita sudah sangat bahagia? Aku, kamu, anak-anak kita, selalu bersama dalam suka dan duka.”

Seperti buih lautan yang tak terhitung cerita yang masih ingin diungkapkannya, namun tiba-tiba titik-titik air mulai tergenang di sudut matanya.

“Aku ingin kaya, kang. Sudah muak dengan segala beban hidup yang tidak pernah tercukupi hanya mengandalkan sisa keringatmu. Jangan salahkan aku kalau aku nanti sering pulang malam, aku berhak mencari uang dan kesenanganku sendiri.”

Kalimat inilah yang terakhir kali Arman dengar dari mulut Marni membuatnya terbangun dari delusional panjang.
***

Seekor burung yang sangat manis berwarna hijau dan keemasan, baru saja Arman beli sebagai hadiah ulang tahun anak bungsunya.

Diusap-usap bulu halusnya dengan lembut, terbayang wajah sumringah anak bungsunya itu ketika menerima hadiah dari ayahnya. Tanpa sengaja burung manis itu terlepas dan terbang ke sebuah pohon, Arman pun berusaha mengejarnya dengan hati-hati.

Burung itu terus terbang seperti ingin mempermainkan Arman yang sejak tadi terengah-engah mengejarnya. Hingga akhirnya burung itu hinggap di sebuah pohon mangga di halaman rumah berlantai dua di pinggir jalan raya.

Arman membuka pintu gerbang, lalu dengan sangat hati-hati didekatinya daun pintu, dan berusaha mengetuknya. Keluarlah seorang ibu paruh baya menemuinya. Sambil duduk di teras rumah, Arman meminta ijin untuk mengambil burungnya yang hinggap di pohon mangga.

“Rumah ini indah sekali, dan sangat sejuk, bu. Kalau boleh tahu siapa pemiliknya?”

“Oh, ini rumah majikan saya, Pa. Beliau baru dua tahun menempati rumah barunya ini bersama isterinya. Maklumlah Pa, majikan saya seorang pimpinan perusahaan dan rumahnya di mana-mana.”

Tapi, gak boleh bilang siapa-siapa, ya, sebenarnya ini adalah rumah isteri keduanya loh, pa.”

“Oh, ya…? Beruntung sekali wanita itu, bisa memiliki rumah yang megah, dan suami yang kaya raya”

“Kalau boleh tahu siapa nama isteri barunya itu, bu?,” Arman sedikit penasaran.

“Bu Marni”

Seketika wajah Arman terkesiap, aliran darahnya seakan berhenti, dan nafasnya semakin tercekat. Di garasi samping teras yang ia duduki terlihat jelas sebuah sepeda motor yang sudah sangat dikenalinya.
“Marni….”

Sumedang, 8 September 2021

 

Biografi
Ana Hasanah, lahir di Sumedang pada tanggal 16 April 1976. Pendidikan terakhir ditempuhnya di IAIN SGD Bandung jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum. Seorang pendidik di Sekolah Dasar di kabupaten Sumedang. Salah satu hobinya adalah menulis fiksi di sela-sela aktivitas mengajarnya, selain itu ia juga aktif di organisasi Ikatan Guru Indonesia kabupaten Sumedang, dan menyukai dunia parenting.
Akun media sosial yang dimiliki adalah facebook, dan Instagram dengan nama Ana Hasanah. Nomor yang bisa dihubungi 082119243045.

  • Bagikan