OPINI

Media Alternatif di Tengah dan Pascacovid-19

×

Media Alternatif di Tengah dan Pascacovid-19

Sebarkan artikel ini

Oleh Roni Tabroni

Masifnya dampak pandemi Covid-19 berujung pada kolepsnya media massa (mainstream). Dalam survei yang dilakukan SPS, lebih dari 80 persen perusahaan media menyatakan masalah yang sama. Maklum saja, media massa mainstream saat ini tidak lain merupakan industri. Sebagai industri, media massa sangat ditentukan oleh kondisi ekonomi.

Di saat pandemi berlangsung dan tidak ada yang tahu kapan berakhirnya, media massa jelas-jelas turut menanggung resiko yang tidak ringan. Padahal, selama perjalanan sejarahnya, jika ada bencana atau musibah, media massa justru mengambil untung. Media semakin banyak dicari dan kontennya selalu dirindu. Di tengah bencana para jurnalis akan semakin sibuk mencari dan mengolah berita.

Tetapi, pandemi Covid-19 bukanlah bencana biasa. Media massa menjadi bagian dari yang terkena dampaknya. Semua wartawan bekerja di rumah. Oplah surat kabar merosot tajam. Televisi juga tidak menjadi alternatif tontonan. Bahkan media mainstream ini dituduh sebagai biang kerok dari kecemasan warga.

Dampak yang lebih parah, hingga tulisan ini dibuat (awal Mei 2020), dikabarkan beberapa media massa sudah mem-PHK karyawannya. Sebagian lagi ada yang memotong gaji dan menunda pembayaran gaji. Kondisi ini tentu saja sangat menghawatirkan, sebab media massa bagaimanapun menjadi sarana informasi yang penting, terlebih di tengah pandemi.

Yang mengambil berkah dari fenomena wabah global ini tidak lain adalah media-media alternatif yang selama ini tidak pernah dipandang serius. Banyak pihak memandangnya sebelah mata, bahkan dianggap tidak ada. Digarap oleh perorangan, atau komunitas kecil, mereka dituduh bukanlah media yang serius. Dewan Pers dipastikan tidak akan mengakomodir media-media kecil itu karena tidak sesuai dengan Undang-undang pers, bahkan tidak memenuhi kriteria lembaga pers sesuai yang ditentukan oleh Dewan Pers.

Tapi sebenarnya, fenomen media alternatif berbasis blog atau berbayar, sudah muncul sejak lahir dan masifnya jaringan internet. Sebab pada dasarnya media alternatif itu dibangun dengan basis internet sebagai jaringannya, kemudian memadukan dengan kemampuan jurnalistik ala warga.

Pada umumnya, media-media alternatif ini memiliki beberapa karakteristik: pertama, mereka dibuat oleh perorangan atau komunitas masyarakat tertentu. Mereka bisa komunitas pelajar, komunitas guru, warga pedesaan, atau profesi tertentu seperti petani dan lain sebagainya.

Kedua, media alternatif biasanya tidak terdaftar di dewan pers. Bagaimana akan terdaftar, sebab mereka tidak mungkin memenuhi syarat perusahaan pers sebagaimana yang tercantum di dewan pers. Dari mulai perusahaan, karyawan, kantor, hingga gaji dengan rupiah tertentu, mereka dianggap tidak standar media pada umumnya.

Ketiga, media alternatif biasanya dibuat untuk kepentingan yang lebih fokus. Misalnya, masyarakat desa bisa membuat media online untuk kepentingan pembangunan desa, pelajar membuat media untuk mempublikasikan kegiatan mereka, atau komunitas lainnya juga membuat hanya untuk kepentingan komunitasnya.

Keempat, media alternatif dijalankan oleh orang-orang yang memiliki kepedulian dan minat jurnalistik. Semangat itu sudah lebih dari cukup, walaupun mereka tidak mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Bahkan para jurnalisnya tidak direkrut dengan persyaratan yang ketat, bahkan terkadang siapapun bisa mengisi konten di medianya.

Kelima, media alternatif tidak berbasis pada modal. Karenanya media seperti ini tidak mengejar keuntungan materi, tertapi benar-benar memenuhi kebutuhan idealisme dan kepentingan komunitasnya. Alih-alih mendapat gaji dari medianya, para pelakunya biasanya malah akan mengeluarkan dana pribadi untuk sekedar mempertahankan medianya tetap update.

Keenam, konten yang diambil media alternatif adalah tentang kehidupan keseharian yang ada di masyarakat sekitarnya. Bahkan kontennya tentang apa yang dialaminya sendiri. Jadi tidak mencari sensasi dengan mengangkat konten besar dengan narasumber seperti pejabat atau orang penting di pemerintahan.

Akhirnya, kita menjadi paham, mengapa media alternatif justru saat ini menemukan waktunya yang tepat. Beberapa pelaku media seperti ini justru mengaku semakin bersemangat, medianya semakin kuat. Jika ada beberapa media alternatif yang sudah kurang aktif, justru pada pandemi ini menjadi bergariah kembali.

Media alternatif tidak peduli dengan dampak ekonomi, tidak peduli dengan statement-statement pejabat negara yang mbalelo, bahkan tidak menjadi persoalan membuat berita dari rumah – karena itu sudah menjadi kesehariannya. Kemanapun mereka berangkat, di manapun mereka berada, di situlah mereka akan menemukan konten.

Fenomena ini menarik, setidaknya menjadi bahan pemikiran, apakah inilah model jurnalisme yang akan tumbuh di masa depan. Ketika setiap orang tidak bisa memprediksi tentang kehidupan (perusahaan pers) pasca pandemi, justru pelaku media alternatif sangat yakin, “justuru kami lah yang akan memenangkan perjuangan ini”, begitulah gumamnya optimis.