OPINI

Meninggalkan Rumah Lama: Ketika Magnet Prabowo Melunakkan Sekat Ideologi | Prabowo Subianto: Sang “Gravitasi” Politik

×

Meninggalkan Rumah Lama: Ketika Magnet Prabowo Melunakkan Sekat Ideologi | Prabowo Subianto: Sang “Gravitasi” Politik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Teguh Safari

Jik Koalisi Indonesia Maju (KIM) adalah pelabuhannya, maka Prabowo Subianto adalah mercusuarnya. Sulit dipungkiri bahwa daya tarik personal Prabowo menjadi faktor determinan yang melunakkan ego sektoral para tokoh lintas partai.

Kepemimpinan yang Akomodatif berbeda dengan citra militeristik masa lalu, Prabowo bertransformasi menjadi sosok “pemersatu” (The Unifier).

Hal ini memberikan rasa aman bagi tokoh seperti Maruarar, Dedi, dan Dony bahwa di bawah naungannya, mereka tidak hanya menjadi “pelengkap,” tetapi mitra strategis dalam membangun visi besar.

Magnet Stabilitas

Para politisi pragmatis-teknokratis melihat Prabowo sebagai jaminan stabilitas. Bagi Dony Ahmad Munir yang fokus pada eksekusi kebijakan, atau Dedi Mulyadi yang piawai dalam diplomasi budaya, kekuatan figur Prabowo di level nasional memberikan “payung hukum” dan politik yang kokoh untuk menjalankan agenda mereka di daerah.

Narasi Keberlanjutan yang Realistis, Prabowo berhasil mengemas narasi keberlanjutan (legacy) Jokowi dengan sentuhan ketegasan personalnya. Ini menjadi alasan rasional bagi para tokoh tersebut untuk pindah haluan; mereka tidak merasa sedang “berkhianat” pada partai lama, melainkan sedang “mengabdi pada tujuan yang lebih besar.”

Implikasi Strategis

Jawa Barat sebagai “Benteng Utama”
Bersatunya ketiga tokoh ini di bawah bayang-bayang figur Prabowo menciptakan efek gentar (deterrent effect) bagi lawan politik di Jawa Barat.

Titik Temu Magnet Kekuasaan (The Center of Gravity)

Dulu, untuk membayangkan Dedi Mulyadi yang kental dengan narasi budaya Golkar bersanding dengan Maruarar Sirait yang merupakan ikon kader ideologis PDIP adalah hal yang sulit.

Namun, hari ini mereka berada di barisan yang sama. Ini membuktikan bahwa ideologi partai mulai kalah telak oleh pesona figur (Prabowo) dan visi besar yang ditawarkan penguasa baru. Gerindra kini bukan sekadar partai, melainkan “pelabuhan besar” bagi para petarung politik yang ingin tetap relevan di pusat pusaran kekuasaan.

Efek Domino di Jawa Barat

Masuknya Dony Ahmad Munir ( Bupati Sumedang) ke lingkaran ini semakin memperkuat dominasi warna “Putih-Garuda” di Jawa Barat.

Dedi Mulyadi memiliki basis massa akar rumput yang loyal di Purwakarta dan sekitarnya, mau tidak mau harus diakui bahwa Dedi besar oleh partai berlambang beringin yang sekarang akrab dipanggil “BAPAK AING”

Dony Ahmad Munir adalah teknokrat politik dengan rekam jejak mentereng di Sumedang, dan tentunya karier politiknya di PPP yang mengantarkan dirinya menduduki kursi tertinggi di kabupaten.

Maruarar Sirait memiliki jaringan pengusaha dan pemuda yang militan, dengan basis masa “Sahabat Bang Ara” tidak sedikit yang berubah haluan para pendukun fanatiknya.

Jika ketiga tokoh ini benar-benar menyatu dalam strategi yang sama, peta politik Jawa Barat bukan lagi sekadar kompetisi antarpartai, melainkan konsolidasi kekuatan raksasa yang sulit dibendung oleh koalisi lawan.

“Pemutihan” Identitas Politik

Fenomena ini menunjukkan tren di mana tokoh-tokoh besar mulai menanggalkan seragam lama yang telah membesarkan mereka demi sebuah penyatuan visi.

“Politik hari ini bukan lagi soal bertahan di rumah lama yang bersejarah, tapi tentang membangun rumah baru yang memiliki masa depan yang lebih cerah.”

Langkah Maruarar dan Dony Ahmad Munir menunjukkan bahwa loyalitas pada partai mulai bergeser menjadi loyalitas pada keberlanjutan pembangunan.

Mereka memilih menjadi “satu warna” demi efektivitas eksekusi kebijakan di daerah masing-masing.

Bersatunya Dedi, Ara, dan Dony adalah sinyal bahwa KIM bukan lagi sekadar koalisi pilpres, melainkan sudah menjadi ekosistem politik baru.

Bagi pemilih, ini bisa dilihat sebagai upaya harmonisasi pusat dan daerah. Namun bagi demokrasi, ini adalah tantangan sejauh mana “satu warna” ini tetap memberikan ruang bagi kontrol dan keseimbangan?.***

Penulis, Wartawan KAPOL.ID Liputan Kabupaten Sumedang