KANAL

Menjelang Musda XI Golkar Sumedang: Antara Kontestasi Terbuka dan Kompromi Menit Akhir

×

Menjelang Musda XI Golkar Sumedang: Antara Kontestasi Terbuka dan Kompromi Menit Akhir

Sebarkan artikel ini

CATATAN — Perhelatan Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang yang dijadwalkan pada 22 September 2026 mendatang, menurut penulis, menjadi panggung pembuktian penting bagi marwah politik partai beringin.

Keputusan yang disepakati resmi dalam Rapat Pleno diperluas pada awal September ini tidak sekadar agenda rutin pembentukan Panitia Pengarah dan Panitia Pelaksana, melainkan, sebagaimana dinilai penulis, momentum krusial penentuan arah kepemimpinan di tingkat daerah.

Dalam sejarahnya, Golkar yang berawal dari wadah Golongan Karya era Orde Baru berhasil melakukan transformasi mendasar pascareformasi 1998 untuk mengikuti Pemilu 1999.

Penulis menilai Golkar membuktikan diri tidak terpaku pada bayang-bayang ketokohan masa lalu, melainkan menjelma menjadi organisasi yang konsisten menjunjung pelembagaan demokrasi.

Di tengah lanskap politik yang sering kali kental dengan budaya figur sentral, menurut anggapan penulis, Golkar berdiri di atas fondasi sistemik lewat mekanisme pemilihan terbuka di seluruh jenjang tingkatan.

Musda XI kali ini, dalam pandangan penulis, bukan sekadar pergantian atau pengukuhan pengurus, melainkan strategi mengonsolidasikan dan mengawal modal politik besar berupa 140 ribu suara pemilih hasil pemilu di Kabupaten Sumedang guna mengamankan agenda politik mendatang.

Dinamika Bursa Kandidat: Enam Figur, Enam Latar Belakang

Konstelasi internal DPD Partai Golkar Kabupaten Sumedang kini memanas dengan munculnya enam nama potensial yang mewakili beragam kekuatan, jaringan, dan latar belakang politik:

H. Sidik Jafar, S.E.

Ketua DPD Golkar Sumedang petahana yang kembali siap bertarung untuk memimpin partai beringin di Sumedang.

Berbekal rekam jejak kepemimpinan serta penguasaan teritorial yang kuat, penulis beranggapan langkah Sidik Jafar menandakan ketegangan kontestasi di tingkat akar rumput tetap berada pada level tertinggi.

Yogi Yaman Santosa

Politisi senior yang saat ini menjabat Sekretaris DPD Partai Golkar Sumedang. Mantan Ketua KNPI dan mantan Anggota DPRD Sumedang ini berbekal jam terbang politik yang matang serta pemahaman mendalam atas dinamika keorganisasian dan konsolidasi partai.

Ir. Ari Budiman, S.T., M.T.

Representasi narasi regenerasi dan “cendekiawan muda”. Anggota Komisi I DPRD Sumedang lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini membawa gagasan transformasi Golkar menjadi partai modern, adaptif, dan berorientasi kinerja tinggi.

Langkah etisnya mengundurkan diri dari kepanitiaan Musda XI demi menjaga netralitas dan menghindari benturan kepentingan, menurut penilaian penulis, mendapat respons positif di internal.

Hj. Yuslita Sumartini Bilqis (Bunda Bilqis)

Anggota DPRD Kabupaten Sumedang sekaligus Ketua Pengajian Al-Hidayah DPD Golkar Sumedang. Kehadirannya secara terbuka menyatakan kesiapan bertarung dan, dalam anggapan penulis, dipandang sebagai figur penyejuk serta pemersatu lintas faksi.

Sonia Sugian, S.H.

Politisi perempuan dan Anggota DPRD Sumedang dari Fraksi Golkar. Penulis menilai kehadiran Sonia makin memperkuat daya tawar serta keterwakilan kepemimpinan perempuan dalam bursa pencalonan.

Asep Kurnia, S.H.

Figur potensial yang terus masuk dalam radar kekuatan internal, menurut penilaian penulis, menjadi salah satu penentu peta kompromi politik menjelang hari pemungutan suara.

Antara Pertarungan Terbuka dan Kompromi Politik

Penulis beranggapan kekuatan utama Partai Golkar di Sumedang terletak pada ketersediaan SDM yang melimpah dan jaringan organisasi yang terstruktur rapat mulai dari tingkat kabupaten, pengurus kecamatan, hingga organisasi sayap (Hasta Karya).

Kemahiran konsolidasi inilah yang, menurut penulis, menjaga kedekatan partai dengan basis massa.

Meski geliat dukungan dan komunikasi politik makin intensif, penulis menilai narasi mengenai “momen penentu di menit akhir” tetap menjadi perhatian utama.

Pertanyaan besarnya: apakah Musda XI nanti akan berlangsung sebagai pertarungan terbuka antar-kandidat, ataukah peta kekuatan sebenarnya sudah terbentuk jauh sebelum sidang dimulai melalui arahan khusus DPD Golkar Jawa Barat?

Pada akhirnya, dalam penilaian penulis, Musda XI Golkar Sumedang menjadi ujian krusial terhadap kedewasaan berorganisasi dan etika bertarung internal.

Penulis beranggapan siapa pun yang keluar sebagai pemenang nantinya tidak hanya dituntut mengantongi dukungan mayoritas suara, tetapi juga harus mampu merajut kembali soliditas partai demi memenangkan pertempuran politik Pemilu dan Pilkada mendatang.***

(Penulis: Teguh Safary)