PENDIDIKAN

Prof. Diana Sari Pimpin USB YPKP 2026–2030, Usung Misi “Naik Kelas” hingga Bidik 10 Profesor

×

Prof. Diana Sari Pimpin USB YPKP 2026–2030, Usung Misi “Naik Kelas” hingga Bidik 10 Profesor

Sebarkan artikel ini

KABAR PRIANGAN ONLINE (KAPOL) – Rektor Universitas Sangga Buana (USB) YPKP Bandung periode 2026–2030, Prof. Diana Sari, S.E., M.Mgt., Ph.D., memasang target ambisius untuk mengembalikan masa kejayaan kampus yang pernah memiliki sekitar 20.000 mahasiswa.

​Tak sekadar mengejar kuantitas, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) ini bertekad membawa USB YPKP “naik kelas” melalui penguatan kualitas akademik, penambahan jumlah profesor, perluasan jejaring internasional, hingga pengembangan ekosistem kampus yang berdampak nyata bagi masyarakat.

​Hal tersebut diungkapkan Prof. Diana seusai dilantik sebagai Rektor USB YPKP periode 2026–2030 di Aula USB YPKP, Jalan K.H.P. Hasan Mustopa No. 68, Kota Bandung, Jumat (11/9/2026).

​“Target utama adalah membuat Sangga Buana great again. Rebound,” tegas Prof. Diana di hadapan para sivitas akademika dan tamu undangan.

​Ia menyebutkan, jumlah mahasiswa USB YPKP saat ini berada di kisaran 5.800 orang. Kondisi ini justru dijadikan sebagai pelecut semangat dan motivasi untuk memacu pertumbuhan kampus agar kembali besar seperti sediakala.

​Tiga Pilar Strategis: Unggul, Terhubung, dan Berdampak

​Guna mewujudkan ambisi tersebut, Prof. Diana mengusung tiga pendekatan utama dalam kepemimpinannya selama empat tahun ke depan, yakni unggul, terhubung, dan berdampak.

​Dari sisi keunggulan, USB YPKP telah mengantongi status sebagai perguruan tinggi unggul. Namun, predikat tersebut harus terus dibuktikan lewat peningkatan mutu akademik, produktivitas riset, serta kualitas pengabdian kepada masyarakat.

​Pada aspek konektivitas, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor—mulai dari dunia usaha dan dunia industri (DUDI), pemerintah, alumni, hingga media massa. Khusus untuk media, Prof. Diana menilai peran jurnalis sangat strategis dalam menyebarluaskan hasil riset kampus agar kian dirasakan manfaatnya oleh publik.

​“Teman-teman media punya tugas untuk bisa menyebarluaskan hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat, agar masyarakat itu lebih mengetahui apa yang dilaksanakan oleh universitas,” ujarnya.

​Langkah taktis turut disiapkan untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) akademik. Prof. Diana mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 19 dosen di lingkungan USB YPKP yang tengah berproses menuju jabatan profesor.

​Melihat potensi tersebut, target awal yang mematok tiga profesor hingga 2030 dipastikan bakal dilipatgandakan. “Mudah-mudahan bisa 10 lah setidaknya,” kata dia, yang mendapat dukungan penuh dari Kepala LLDIKTI Wilayah IV, Dr. Lukman, S.T., M.Hum.

​Selain itu, agenda internasionalisasi juga menjadi fokus penting. Jaringan mitra global yang telah terjalin dengan Korea, China, Slovakia, Turki, dan Malaysia bakal diperluas, termasuk membidik kerja sama baru dengan institusi pendidikan di Australia dan kawasan Eropa.

​Sentuhan Unik: Pelantikan Tanpa Papan Bunga, Usung Konsep Green Florist
​Ada pemandangan berbeda dalam pelantikan Rektor USB YPKP kali ini. Kampus secara tegas tidak menerima papan bunga ucapan selamat yang lazim menghiasi acara seremonial.

​Sebagai gantinya, para tamu undangan diarahkan untuk menyalurkan dukungan melalui wakaf produktif dan beasiswa. USB YPKP juga memperkenalkan konsep green florist—praktik merangkai bunga yang meminimalisir penggunaan material tidak ramah lingkungan seperti styrofoam sebagai wujud komitmen kampus yang peduli kelestarian alam.

​YPKP Siapkan Rumah Sakit dan “Naturalisasi” Akademik

​Sementara itu, Ketua YPKP Bandung, Prof. Dr. H. R. Ricky Agusiady, S.E., M.M., Ak., CFrA., CHRM., menyambut baik visi kepemimpinan baru ini. Ia memaparkan rencana besar yayasan dalam membangun ekosistem pendidikan dan kesehatan yang terintegrasi, salah satunya melalui proyek pembangunan rumah sakit.

​“Dengan berdirinya rumah sakit, itu selesai semuanya. Karena untuk menjadikan manusia cerdas ya harus sehat,” ujar Prof. Ricky.

Ia memastikan proyek yang kini tengah memproses Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) tersebut akan bermain di zona blue ocean dengan mengedepankan kolaborasi, bukan persaingan.

​Menghadapi 100 hari pertama kepemimpinan Prof. Diana, Prof. Ricky berpesan agar rektor baru banyak mendengar dan melakukan mapping secara cermat terhadap fondasi yang telah dibangun selama lebih dari 50 tahun.

​Menariknya, dalam memperkuat kualitas SDM, Prof. Ricky menggunakan analogi sepak bola ala Persib Bandung terkait kebijakan “naturalisasi” akademik guna mendatangkan talenta unggul dari luar tanpa harus menghilangkan identitas asli Sangga Buana.

​“Dengan adanya naturalisasi, apakah Viking-nya jadi berubah atau Bobotoh-nya berubah? Enggak. Dengan fondasi yang kuat, dengan latihan yang profesional, kurang lebih seperti itulah,” pungkasnya. (AM)