OPINI

Puasa Media Sosial

×

Puasa Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Lebih dari satu dekade media sosial (medsos) hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kehadirannya menjadi wadah untuk berkomunikasi yang tak kenal tempat dan waktu, berbagi segala macam perasaan, momen, dan kegiatan sehari-hari lainnya.

Dampaknya, muncul kebiasaan-kebiasaan baru seperti gemar mengecek notifikasi ponsel, melihat-lihat status atau story orang lain dari satu medsos ke medsos yang lain, tersanjung jika postingan disukai dan dibagikan banyak orang, bangga jika postingan dikomentari banyak orang, dsb.

Namun ternyata, disadari ataupun tidak, kehadirannya menimbulkan beberapa gejala psikis, dari mulai sulit fokus dalam beraktivitas, insecure karena sering membanding-bandingkan dengan orang lain, merasa lelah padahal tidak beraktivitas berat, merasa tidak memiliki cukup waktu dalam sehari, sulit tidur, tak sabar dalam segala hal, hingga stres dan depresi.

Beberapa kolega pun menyadari, memiliki banyak akun medsos justru malah membuat hidup menjadi tidak produktif, jenuh, dan malas beraktivtas.

Terlebih disaat pandemi Covid-19 sekarang ini, terlalu sering mengakses informasi Covid, tidak dapat dipungkiri menimbulkan rasa khawatir, panik, hingga stres di kalangan masyarakat. Sejumlah riset ilmiah pun mengatakan, stres membuat rentan terkena penyakit, karena stres menekan sistem kekebalan tubuh.

Artinya, penting untuk tidak terlalu sering mengakses berita Covid-19 sebagai upaya menjaga kesehatan psikis. Mungkin bisa dilakukan satu kali dalam sehari untuk mengakses berita Covid-19 agar tidak tertinggal informasi. Tapi pastikan, bijak dalam memperoleh berita dan pastikan berasal dari sumber yang terverifikasi.

Cara lain sebagai upaya menjaga kesehatan psikis disaat pandemi yaitu puasa medsos. Puasa medos berarti istirahat total dari medsos selama waktu yang ditentukan. Bisa diawali dengan tidak mengakses medsos selama satu hari, dua hari, satu minggu, hingga waktu yang disepakati.

Pada awal-awal, mungkin akan merasa belum terbiasa terlepas dari medsos. Tangan rasanya ingin sekali mengambil ponsel lalu mengecek medsos. Namun, hal itu terganti dengan kegiatan-kegiatan lain seperti menonton film, membaca buku, menulis, olahraga, memasak, serta kegiatan menyenangkan lainnya.

Satu, dua, tiga hari terlewati tanpa medsos, efeknya kehidupan menjadi nyaman dan tentram. Kehidupan sehari-hari menjadi berkualitas tanpa harus sedikit-sedikit update di medsos.

Jika sudah merasa nyaman, selanjutnya coba dengan menyaring medsos. Jika dahulu memiliki banyak akun medsos adalah suatu kebanggan, sekarang cobalah untuk menggunakan satu hingga maksimal dua medsos.

Hal ini sebagai upaya memutus rasa candu dari medsos. Jika sudah bisa puasa medsos, perhatian dalam kehidupan sehari-hari akan kembali utuh. Setidaknya, tidak ada lagi perasaan tidak cukup waktu dalam sehari, waktu yang terbagi-bagi, serta gejala psikis lainnya.

Penulis yakin, ada banyak orang mengalami beberapa gejala psikis di atas yang disebabkan oleh medsos. Salah satu cara untuk memulihkan psikologis, puasa medsos menjadi satu kendali untuk mengendalikan diri masing-masing dengan medsos.