BUDAYAOPINI

Rampak Lodong dan Spirit Gotong Royong

×

Rampak Lodong dan Spirit Gotong Royong

Sebarkan artikel ini
Rampak Lodong
Untuk menghasilkan bunyi, bambu yg sudah diberi lubang dipukul menggunakan sandal.

Lodong adalah sebuah alat yang terbuat dari bambu yang digunakan oleh masyarakat desa dalam mengambil air nira dari pohon aren.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan lodong di kalangan masyarakat petani aren mulai tergantikan oleh alat yang dianggap lebih praktis yakni jerigen.

Dengan menggunakan jerigen, petani aren dapat mengangkut air nira dalam jumlah yang lebih banyak. Namun, kebiasaan baru ini mengancam keberadaan lodong sehingga menjadi langka, dan tentunya mengganggu tata aturan pada masyarakat tradisional dalam proses pengambilan air nira yang memiliki sejumlah etika dan aturan tersendiri.

Situasi itulah yang mendorong pegiat budaya di Cikelet, Garut, Iip Sarip, untuk menghidupkan kembali keberadaan lodong, di antaranya dengan melakukan revitalisasi dalam bentuk kreativitas seni, menjadi alat musik.

Untuk membuat alat musik tersebut, Yayasan CKLT dibawah binaan Iip Sarip, bersama pemerintah Cijambe melakukan kerjasama dengan mahasiswa Prodi D4 Musik Bambu ISBI Bandung untuk melakukan atau PKP (Praktik Kerja Profesi) di Cikelet.

Sebanyak 6 mahasiswa selama 34 hari membuat 500 buah alat musik lodong, dengan bambu yang disediakan secara swadaya oleh pemerintah desa. Selain itu, untuk melakukan proses latihan dan membuat aransemen musik bambu tersebut, sejumlah mahasiswa dan dosen ISBI, yakni 20 mahasiswa program IMUN (ISBI Mengabdi untuk Negeri) dari prodi Musik Bambu, Tata Rias Busana, dan Antropologi Budaya, 6 mahasiswa PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) dari Prodi Tari dan Karawitan, dan dosen Musik Bambu turut dilibatkan.

Dalam memainkan 500 alat musik lodong tersebut, dilibatkan siswa-siswi dari 5 (lima) sekolah di Cikelet, yakni SMKN 5 Cikelet, MA Maarif, SMPN Cikelet, MTS Bahrul Ulum, SMK Qurrota Ayun, para alumni SMPN Pameungpeuk, unsur masyarakat, pemerintah, anggota dewan, penggiat otomotif, dan masyarakat umum.

Rampak Lodong ini akan menjadi bagian dari Festival Ngubek Beber, yang merupakan hasil kolaborasi Yayasan CKLT, pemerintah desa, dan ISBI Bandung, yang diselenggarakan di muara Sungai Cipasarangan, Cikelet, Garut, yang berada di tepi pantai di Cikelet.

Di sini, suara rampak lodong yang memainkan sejumlah lagu, akan beradu dengan bunyi angin pantai dan deru ombak serta kemeriahan dan antusiasme masyarakat yang menghadiri acara ini.

Rampak lodong sendiri menggambarkan spirit gotong royong yang mengajak seluruh elemen masyarakat di Cikelet untuk menjaga, melindungi, dan mengembangkan kebudayaan di Cikelet, yang memiliki kekayaan potensi budaya, sekaligus wisata alam yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

PenulisNeneng Yanti K. Lahpan (PIC Program GNRM ISBI Bandung)