Subjek yang Merdeka

Subjek yang Merdeka
Abia Himan, alumni SMK Bakti Karya Parigi

Saya membonceng seorang siswa, namanya Abi Himan. Dia cukup terkenal. Hampir setiap ketemu orang, mereka menyapa siswa ini. Abia ini orangnya mudah dikenali dan sering bergaul dengan warga masyarakat di sekitar sekolah. Secara fisik memang mudah dikenali dan saat berinteraksi Abia sangat aktif dan enak diajak bicara.

Saya tanya “Abia, apakah populer dan dihormati itu enak?”
Abia menjawab cepat dan bersemangat, “sangat enak Pak!”

Lalu saya tanya, “kamu lebih enak saat disapa atau saat menyapa?”

Baru dia mulai menurunkan tempo bicaranya. “Enak duluan ditanya, Pak” jawabnya.

Obrolan kami berhenti sejenak. Saya sapa orang-orang yang kami temui di jalan.

Abia terdiam.

Setelah itu baru saya tanya, “kira-kira kenapa lebih enak saat orang disapa?”

Abia menjwab, “pada saat disapa seseorang merasa dihormati. Sama seperti disapa duluan bahkan dijulurkan tangan saat bertemu, sangat mengangkat eksistensi kita. Ada rasa puas dan terkadang keberadaan seseorang terasa diperlukan. Perasaan yang muncul membuat seseorang merasa layak dihargai dan merasa diri ada di posisi yang lebih tinggi.”

“Apa jadinya jika ada orang yang kita kenal, lalu tidak menyapa atau tidak mengapresiasi kita?” tanya saya.

“Cukup kecewa,” kata Abia.

Saat kami sudah tiba di sebuah tempat, sambil beristirahat, kami pun mengobrol kembali.

Saya gambarkan kepada Abia, begitulah kalau kita menjadi objek. Pada saat kita diperhatikan, rasanya eksistensi kita hadir. Kita ingin, orang di luar kita memenuhi ekspektasi kita. Melayani kita. Puas rasanya.

Padahal, saat seseorang menjadi objek, maka ia tidaklah merdeka. Kita hanya menjadi sesuatu yang “mati” karena posisi kita telah diubah menjadi objek pada saat kita memilihnya. Objek menjadi tidak bebas lagi. Pada saat yang sama, manusia dibendakan, bukan lagi subjek yang merdeka.

Apakah kita sanggup menjadi subjek yang bebas merdeka? Dengan ditandai oleh sikap dan perilaku kita yang menunjukan kita adalah subjek. Misal, bertemu orang, kitalah yang menjulurkan tangan, menyapa, tersenyum, bertanya, memulai obrolan, bahkan memuji lebih dahulu.

Apa yang terjadi saat saya berdialog dengan Abia ini juga terjadi dalam keseharian kita.

Mungki kita pernah merasa kecewa dengan tim di sekitar kita atau pimpinan dalam organisasi. Kerap kita menginginkan orang di luar diri kita, menampilkan sisi ideal di hadapan kita. Jika ada yang tidak sesuai, dengan mudah kita melempar wacananya ke rekan terdekat kita yang lain, tanpa kita konfirmasi terlebih dahulu kepada objek yang kita bicarakan. Kita lupa menjadi subjek dan memberikan objek kita kesempatan untuk menjadi subjek atas kita.

Memang menjadi subjek yang merdeka itu terkadang sangat sulit. Kerap kita memilih menjadi objek saja. Hanya bertindak seperlunya. Saat ditanya hanya menjawab seperlunya. Ketika sikap seperti itu sudah menjadi kebiasaan, maka dunia manusia sudah tidak asyik lagi.

Ditulis oleh Ai Nurhidayat
www.sbk.sch.id