oleh

Rengat Gunung Pomporang Mengintai Sindanghurip

KAPOL.ID—Gunung Pomporang terletak di Kampung Sindanghurip, Desa Cikalong, Kecamatan Sodonghilir. Konon, kata warga setempat, di gunung tersebut ada satu makam yang dikeramatkan.

Gunung dengan ketinggian sekitar 150 meter itu berjarak 50 meter saja dari perkampungan. Gunung Pomporang salah satu titik longsor di Kecamatan Sodonghilir. Tanah seluas 50 meter merosot. Keruh lumpurnya bahkan sampai ke perkampungan.

Tim asesmen MDMC dan LazisMu tiba di Sindanghurip saat waktu mendekati Asar. Babinkamtibnas setempat tampak berjaga-jaga, di bawah koordinasi Agus Ariyanto.

“Yang dikhawatirkan itu kalau air yang dari atas tidak ketampung. Karena sungai buatan alam di sana kan kecil sekali. Kalau curah hujan tinggi, air meluap, kemudian masuk ke sela-sela retak, tanah bisa terbelah,” ujar Agus, Rabu (14/10/2020).

Sejauh ini, warga Sindanghurip menyimpan memori traumatis. Pasalnya, pada 1992, sebagian Gunung Pomporang terbelah. Longsoran mengubur satu perkampungan. Puluhan jenazah tidak sampai dievakuasi, hingga kini terpendam di dalam longsoran. Bekas perkampungan yang dulu tertimbun kini menjadi areal pesawahan.

Kini, memori traumatis itu kembali menguat. Kampung Sindanghurip sendiri dihuni oleh 25 kepala keluarga: 98 jiwa, 77 orang dewasa dan 21 orang anak-anak. Jika hujan turun, meski cuma gerimis, maka warga di sana segera mengungsi. Aktivitas warga kembali normal pada siang hari, kalau cuaca cerah.

Agus Ariyanto (kanan) sudah berhari-hari siaga di Kampung Sindanghurip, berjaga-jaga akan terjadinya longsor susulan dari tebing Gunung Pomporang. (Foto: kapol.id/Amin R. Iskandar)

Agus juga memberi keterangan, bahwa saat longsor terjadi, BPBD Kabupaten Tasikmalaya datang ke lokasi. Mereka melakukan pengecekan, sekaligus menetapkan tujuh hari tanggap darurat.

“Setelah itu belum ada lagi tindakan dari BPBD. Kalau menurut kami sih, solusinya tanah retak itu diturunkan, baru kita bisa sedikit lega. Tapi kita juga harus cepat menanam kembali,” sambungnya.

Reboisasi lereng Gunung Pomporang sangat mendesak. Berdasarkan pengamatan Babinkamtibnas setempat, pohon penyangga lereng Gunung Pomporang tinggal empat pohon saja.

Sementara untuk menurunkan tanah retak dari Gunung Pomporang, masih kata Agus, bukan perkara mudah. Pihaknya masih kebingungan, karena tidak memiliki fasilitas yang memadai.

“Kita bingung juga. Kalau tanah yang retak itu mau diturunkan, alatnya pake apa? Susah,” tandasnya.

[Tunggu Sambungannya]

Komentar