BUDAYA

Satu Dekade Dapur Pangbarep: Meluncurkan “Barepan”, Saat Penari Memegang Kendali Musik

×

Satu Dekade Dapur Pangbarep: Meluncurkan “Barepan”, Saat Penari Memegang Kendali Musik

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID – Merayakan satu dekade kiprahnya di dunia seni, Sanggar Tari dan Karawitan Dapur Pangbarep meluncurkan karya monumental bertajuk “Barepan” dalam gelaran Festival Ngabarep

​Pimpinan Yayasan Dapur Pangbarep, Ferdi Setia Primahadian atau yang akrab disapa Kang Mpey, mengungkapkan bahwa karya ini merupakan buah pemikiran dari sang penata karya, Koreografer Ida Jipo. Barepan hadir sebagai penyempurnaan dari eksplorasi karya-karya sebelumnya seperti Barong dan lain lain

​Filosofi “Ngabarep” sendiri menawarkan perspektif baru dalam dunia tari tradisi. Jika biasanya penari bergerak mengikuti irama musik, dalam konsep ini justru penari yang memegang kendali penuh.

​”Eksplorasi melalui tubuh adalah dialog komunikasi. Di Ngabarep, si penari yang mengendalikan musik, bukan sebaliknya,” ujar Kang Mpey saat ditemui di sela kegiatan. Sabtu (25/4/2026)

​Wadah ini terbuka bagi siapa saja, mulai dari generasi muda hingga orang tua yang memiliki kecintaan pada seni gerak (ngarengkenek). Meski gerakannya bebas, musik yang mengiringi tetap menjaga kualitas tradisi yang kuat

​Perjalanan sepuluh tahun Dapur Pangbarep kian lengkap dengan hadirnya dukungan pemerintah melalui program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan dan LPDP.

​”Alhamdulillah, kita lolos sebagai pengusul perorangan melalui program Karya Kreatif Inovatif berjudul Barepan. Negara hadir mendukung kreativitas ini,” tambahnya.

​Antusiasme masyarakat pun tergolong luar biasa. Hanya dalam waktu delapan jam saat pendaftaran dibuka melalui media sosial, tercatat 40 peserta dari berbagai daerah langsung mendaftar. Mereka datang dari Cirebon, Kabupaten Bandung, Garut, Ciamis, hingga Tasikmalaya.

​Selain festival tari, acara ini juga diisi dengan agenda “Bincang Karya” yang melibatkan para akademisi, praktisi, dan ahli seni. Tak tanggung-tanggung, sang maestro Mbah Namin turut hadir langsung sebagai penilai bagi para peserta festival.

​Bagi Kang Mpey, tujuan akhir dari seluruh rangkaian ini adalah sebuah kemerdekaan dalam berkarya.

​”Gong-nya adalah memerdekakan seni dan kreativitas tradisi. Jika dulu kita mengenal Jaipongan dan Ketuk Tilu, hari ini dan ke depan, dunia seni mengenal Barepan,” pungkasnya. (Jae)