oleh

Sepatnunggal Belum Sepenuhnya Aman

KAPOL.ID—Dari sekian titik longsor di Kecamatan Sodonghilir, Desa Sepatnunggal adalah yang paling berat dan banyak. Bahkan, kondisi Sepatnunggal kini masih dalam masa transisi. Kemungkinan terburuknya, akan terjadi longsor susulan dalam sekala besar—semoga itu sebatas kemungkinan, tidak sampai terjadi.

Sebagaimana telah terpaparkan pada catatan sebelumnya, bahwa pada Selasa (13/10/2020), tim asesmen MDMC dan LazisMu Kabupaten Tasikmalaya sudah mengelilingi Kecamatan Sodonghilir sampai ke ujung. Antara lain ke Kampung Legoktangkalak, Dusun Bebedahan, Kecamatan Cukangjayaguna. Di sana terjadi longsor. Satu rumah berpenghuni tiga orang dewasa, jebol.

Masih di desa yang sama, di Kampung Pakacangan, Dusun Limusnunggal, juga terjadi longsor. Atap rumah berpenghuni tiga orang (di antaranya seorang anak berusia 4 tahun), ambruk. Sementara di Kampung Cimareme, Dusun Limusnungga; longsor mengancam lima rumah dan satu masjid. Sebanyak lima kepala keluarga (21 jiwa—11 dewasa dan 10 anak-anak), terdapak.

Kembali ke Desa Sepatnunggal. Di tempat Posyan MDMC dan LazisMu berada, terdapat sebanyak tujuh titik longsor: dua titik di Dusun Cacaban, dua titik di Dusun Mekarsari, dua titik di Dusun Bubuay, dan satu titik di Dusun Bojong.

Dampak longsor tersebut, di Dusun Cacaban misalnya, sebanyak empat rumah hancur, tidak bisa dihuni kembali. Belum lagi di dusun lainnya, yang jika dikalkulasikan lebih dari 20 rumah rusak, baik ringan maupun berat.

“Kami juga terus melakukan pemantauan potensi pergeseran tanah di bekas longsor, di Gunung Pasir Angin, karena masih ada tanah yang rengat,” terang Ketua Posyan, Aris Rifqi Mubarok.

Idealnya, untuk melakukan pemantauan potensi lonsor susulan dari Gunung Pasir Angin, MDMC dan LazisMu membutuhkan early warning system (EWS), sistem peringatan dini, yang memadai. Namun, karena banyak keterbatasan, tim pun membuat EWS yang sangat sederhana.

EWS sederhana buatan MDMC Kabupaten Tasikmalaya; dua utas tali rapia yang dipasang secara menyilang. Tampak juga rengat tanah di bekas longsor sebelumnya.

Tali rapia, kentongan, dan patahan kayu disulap menjadi EWS. MDMC menancapkan beberapa patahan kayu sebagai patokan, kemudian mengencangkan dua utas tali rapia, secara mengyilang. MDMC mengontrolnya secara berkala. Asumsinya, jika tali rapia kian mengencang—apalagi jika kayu yang menjadi patokan ikut bergeser; maka berarti masih ada pergerakan tanah. Sementara kentongan berfungsi sebagai alarm.

“Benar saja. Setelah kita cek, pergerakan tanah itu masih ada. Pada hari Selasa (20/10/2020) rengat tanah melebar 2 cm. Satu hari kemudian, Rabu (21/10/2020) rengat tanah kembali melebar 5 cm. Jadi dalam dua hari kemarin rengatnya melebar sampai 7 cm,” sambung Aris.

Selain belum mempunyai EWS yang memadai, Posyan MDMC dan LazisMu juga belum mempunyai teropong. Sehingga jarak pandang tim pemantau masih sangat terbatas. Sejauh ini, tim MDMC hanya mengandalkan pendengaran. Karena sejatinya tanah longsor selalu memberi tanda melalui suara: gemuruh atau suara patahan kayu.

[Tunggu Sambungannya]

Komentar