OPINI

Tidak Ada Pemberian Gratis dalam Kampanye Politik

×

Tidak Ada Pemberian Gratis dalam Kampanye Politik

Sebarkan artikel ini

Ihya M Kulon

Tidak ada makan siang yang gratis, begitu ungkapan yang sering kita dengar menyangkut relasi politik –dan kenyataannya memang begitu. Baik itu antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok.

Dengan kata lain, di dunia politik tidak ada pemberian yang gratis. Sekecil apapun bentuk pemberian, selalu ada kalkulasi politik yang harus dihitung dan diterima kembali sebagai balasan pemberian. Terlebih pada masa kampanye beberapa wilayah Tanah Air saat ini yang sedang dalam proses memilih pemimpin politiknya.

Uang
Uang penting dalam kampanye politik yang semakin meningkat biayanya dari tahun ke tahun. Aturan-aturan yang membatasi sumbangan kampanye memiliki sederetan lubang hukum dan banyak dari para calon enggan untuk mendukung perubahan dan mengikuti sistem yang berlaku.

Uang kampanye harus diberikan, dan sejumlah suara harus didapat sebagai balasan.

Uang memegang peranan penting dalam proses-proses politik; Uang menjadi alat untuk membeli suara, dan menjadi salah satu faktor penting untuk seseorang dapat maju dan meraih jabatan politik. Sedang di sisi lain, uang dapat memberikan pengaruh yang sangat signifikan bagi terbentuknya keseimbangan demokrasi

Namun demikian, pengaruh uang dalam dunia politik memberi resiko yang sangat rawan. Office of Democracy and Governance (2003) mencatat ada 4 macam kemungkinan potensi resiko.besar yang akan timbul:

(1) Kompetisi yang tidak sehat antara satu kelompok dengan kelompok lain;

(2) Kondisi diskriminatif terhadap politik representasi (peran sebagai perwakilan dalam sebuah sistem politik);

(3) Menciptakan relasi yang tidak seimbang antara pihak yang menerima uang dan pihak yang memberi uang, dimana iIronisnya pihak yang memberi uang berada pada posisi yang lemah;

(4) Akan lahirnya sistem pemerintahan yang korup dan mengesampingkan eksistensi hukum.

Arena
Masa-masa kampanye politik pada dasarnya adalah arena persaingan dan perjuangan bagi para calon dan tim sukses dari partai-partai politik pendukung.

Mereka dituntut harus menguasai kode-kode serta aturan-aturan permainan didalamnya.
Arena perjuangan tidak lain sebagai arena kekuatan.

Selain uang yang utama harus dipertaruhkan, juga modal-modal khusus lainnya seperti kecerdasan, pengetahuan yang cukup, prestasi, otoritas keilmuan, dan sebagainya yang harus dioperasikan pada masyarakat pemilih, agar tetap mendapatkan simpati dan bertahan.

Menurut Bourdieu (2016), mereka yang memiliki modal akan lebih mampu melakukan tindakan mempertahankan dibandingkan mereka yang tidak memiliki modal.

Modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam arena, dan menentukan akses pada keuntungan-keuntungan tertentu yang dipertaruhkan dalam pertarungan.

Acak
Dalam konsepsinya, menurut para ahli Antropologi dan Sosiologi, pemberian pada masyarakat kuno berasal dari tukar-menukar benda atau jasa yang didasarkan pada transaksi yang bernilai moral, keagamaan, estetika, dan hukum adat, guna memupuk hubungan-hubungan antar individu maupun kelompok dalam jangka waktu yang lama.

Salah seorang ahli di antara mereka, Marcel Muss (2013) menegaskan bahwa pada dasarnya tidak ada pemberian yang bersifat cuma-cuma, melainkan ada keharusan pemberian kembali (balasan/imbalan).

Dengan kata lain pemberian bersifat kontraktual yang teratur dan terukur.
Namun pada kasus pemberian dalam kampanye politik, pemberian akan dilakukan secara acak, dan dimotivasi untuk keuntungan pribadi/individu saja.

Hingga kontrak politik suara pemilih yang sering kali dilakukan selalu tidak terukur, dan hubungan yang bersifat sementara. Jauh dari nilai moral, agama, estetika, serta aturan-aturan yang mengikat di dalamnya. Kecuali sebatas nilai ekonomi yang bicara.

Tasikmalaya, 28 September 2020