KANAL

Tolong Saya Mau Pulang : Noda Air Mata Caca di Balik Tergiur Loker di Kalimantan dan Pendapatan 500 Ribu per Bulan

×

Tolong Saya Mau Pulang : Noda Air Mata Caca di Balik Tergiur Loker di Kalimantan dan Pendapatan 500 Ribu per Bulan

Sebarkan artikel ini
ilustrasi perundungan (pexels.com/Mikhail Nilov) suara.com

SUMEDANG, KAPOL.ID  – Sebuah jeritan minta tolong memecah kesunyian dari tanah perantauan. Caca Cantika, gadis muda asal Dusun Caringin, Desa Sayang, Kecamatan Jatinangor, kini hanya bisa meratapi nasibnya di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Niat hati ingin memutus rantai kesulitan ekonomi, Caca justru terjebak dalam lingkaran utang dan eksploitasi yang menyesakkan dada.

Keputusannya berangkat ke Kalimantan berawal dari desakan hidup. Sebagai anak dari keluarga yang tidak lagi utuh pasca perceraian orang tua, Caca selama ini menumpang di rumah pamannya.

Rasa ingin mandiri dan membantu keluarga membuatnya gelap mata saat melihat lowongan kerja di Facebook.

“Saya ceroboh, tergiur loker di Facebook karena memang sedang sangat butuh pekerjaan,” ungkapnya dengan nada penuh penyesalan saat berbincang dengan wartawan KAPOL.ID pada Selasa 17 Maret 2026.

Terjepit Utang dan KTP Disita

Kenyataan pahit langsung menyambutnya setibanya di Jalan Jendral Sudirman Km 12, Pasir Putih, Mentawa Baru Ketapang. Alih-alih pekerjaan formal yang menjanjikan, Caca justru harus bertahan hidup dengan mengandalkan fee dari bekerja di sebuah bar.

Yang lebih memilukan, jerih payah Caca hanya dihargai dengan upah yang sangat tidak manusiawi. “Gajinya cuma 500 ribu sebulan, nyesek Pak,” rintihnya lirih.

Angka yang jauh dari kata cukup itu bahkan tidak mampu menutup kebutuhan makannya, apalagi untuk membayar utang yang sengaja dikondisikan oleh pihak pengelola.

Kondisinya kian terjepit karena identitas pribadinya (KTP) disita. “KTP dipegang dulu sama yang di sini, kalau mau pulang baru dikasihkan,” tuturnya.

Bukannya mengirim uang ke kampung halaman, Caca justru terjerat utang yang membuatnya sulit bergerak.

“Nyesel, nggak ada hasilnya. Yang ada malah jadi utang,” kata dia.

Di tengah kesendiriannya, bayang-bayang keluarga di Jatinangor terus menghantui.

Caca bercerita bahwa ayah kandungnya telah tiada, sementara sang ibu berada jauh darinya.

Menjelang bulan suci dan Idul Fitri, keinginan untuk pulang semakin tak terbendung.

“Iya, pengen kumpul bareng keluarga, apalagi bentar lagi lebaran. Enggak bakalan berangkat lagi pak, nyesel. Mau kerja di sekitaran dekat rumah saja,” ucapnya dalam sebuah pesan singkat yang penuh keputusasaan.

Kini, harapan satu-satunya Caca adalah uluran tangan dari Pemerintah Kabupaten Sumedang. Ia mengakui kekhilafannya yang terlalu mudah percaya pada informasi bodong demi menyambung hidup.

Statusnya sebagai warga Jatinangor yang sedang terisolasi dan dieksploitasi di luar pulau memerlukan respon cepat dari dinas terkait, terutama Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sumedang.

Caca ingin pulang, ia ingin meninggalkan mimpi buruk di Kalimantan dan kembali ke dekapan keluarga di Jatinangor sebelum gema takbir berkumandang. (Teguh)***