KAPOL.ID –
Setelah meraih prestasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkinerja terbaik se-Jawa Bali, Tasikmalaya kebanjiran kunjungan dari daerah lain.
Dalam rentang beberapa bulan ini, beberapa daerah mengunjungi beberapa titik di Kota Tasikmalaya. Salah satunya Katasik Ar Razak Sukanagara Purbaratu, Kamis (22/10/2026).
Biro Perekonomian Pemprov Jatim, Dedi Haryono mengatakan, ada 38 kota dan kabupaten Jatim bersama Bank Indonesia Jatim yang ingin bertukar ilmu. Karena Kota Tasikmalaya sudah membuktikan juara TPID berkinerja terbaik 2026.
“Kalau bisa mereplikasi dari program terbaik yang memungkinkan sesuai dengan karakteristik wilayah kami,” katanya.
Ia mengatakan, banyak tantangan, peluang hingga rencana pengembangan kedepan dalam pengendalian inflasi. Salah satunya mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kalau hanya membangun infrastruktur saja mudah, tetapi bagaimana berkelanjutan dalam jangka panjang. Jadi bagimana program dapat dimanfaatkan dan memberikan manfaat,” ujarnya.
Kabag Perekonomian Setda Kota Tasikmalaya, Desi Nur Aria Sari membenarkan dalam sebulan ini banyak kunjungan.
Sebelumnya dari Kolaka Sulawesi, kemudian Jatim, beberapa pekan ke depan dari Tanah Datar Sumbar.
“Kita juga diundang memberikan succes strory di Bandung dan Jakarta ke beberapa daerah lain. Bukan berarti kita lebih hebat, karena ada berbagai penilaian sehingga menjadi juara.”
“Hanya melakukan yang semestinya dalam pengendalian inflasi bersama BI, stakeholder sehingga harga terjaga, pasokan komoditas stabil,” jelasnya.
Diantaranya, gerakan pangan murah/ wangsit, operasi pasar murah, kerjasama antar daerah dan beberapa upaya lainnya.
“Juga pemanfaatan lahan pekarangan oleh PKK terhadap komoditi penyumbang inflasi,” kata Desi.
Katasik
Sementara itu, Ketua Katasik Arrazak Sukanagara Purbaratu, Irvandi mengatakan, ada beberapa bidang garapan dalam mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat.
Seperti bidang perikanan, pertanian, hidroponik, lingkungan bank sampah, teknik, penggerak masyarakat sadar inflasi.
“Melalui KWT Mekar Fajar, bagaimana mengajak masyarakat sadar inflasi. Bukan hanya soal peralatan saja, juga pendampingan hingga berhasil panen,” jelasnya.
Pihaknya juga mengembangkan peralatan tani dengan teknologi sederhana seperti mesin pencacah dan alat tanam benih padi.
Hingga saat ini, lebih dari tiga ratus alat sudah didistribusikan ke beberapa provinsi se-Indonesia.
“Hanya belum sampai ke Papua. Awalnya iseng saja membuat konten alat pencacah di medsos, ternyata banyak yang berminat.”
“Kalau alat tanam benih padi itu bisa mengefisienkan biaya produksi padi, karena lebih simpel tanpa harus menyemai benih,” kata Irvan.
Lurah Sukanagara, Hendih merasa sangat terhormat kedatangan tamu dari banyak daerah. Rintisan Katasik mendapat apresiasi dan menjadi tujuan kunjungan dalam pengendalian inflasi.
“Katasik baru berjalan dua tahun dapat terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya. ***












