OPINI

Digital Marketing Strategy Vs Superpartner

×

Digital Marketing Strategy Vs Superpartner

Sebarkan artikel ini
Kepemimpinan
MTaufiq, dosen Pendidikan Teknologi Informasi FKIP Umtas.

Oleh MTaufiq

Banyak orang bicara tentang strategi marketing (pemasaran) setelah meraih kesuksesan, namun jarang orang berbicara perjuangan dan susah payahnya meraih kesuksesan itu. Bahkan tidak sedikit yang tertatih-tatih atau jatuh bangun dan terkadang terkapar beberapa saat, lalu bangkit lagi. Hempasan badai atau topan bukan sesekali, namun bisa jadi alunan musik yang mengalir dari sepanjang langkah kakinya atau denyut nadi dari setiap tarikan nafasnya.

Strategi pemasaran terlampau mudah untuk diucapkan. Bahkan terlalu enteng untuk dipresentasikan. Karena didukung oleh referensi-referensi yang ada dan tersebar di atas kertas atau media. Sementara pengalaman ketika dibenturkan dengan peristiwa pahit yang perih dan menyakitkan, tidak pernah tersurat atau tersirat secara kasad. Semua kepedihan akan perjuangan menjadi sirna dan lebur di dalam kesenangan sesaat dari kesuksesan yang telah diraih. Seolah tidak sadar bahwa masih ada badai yang akan menerjang di depan.

Strategi merupakan siasat untuk memenangkan kompetisi di dalam sebuah kancah pertarungan yang kompleks dan dinamis. Hanya waktu yang mampu berbicara atas segalanya. Entah kemenangan atau kekalahan, kesuksesan atau kegagalan. Semua itu resiko dari kenyataan yang harus diterima atau dijalani sebagai sebuah konsekuensi. Sehingga pertentangan pahit dan manis dalam strategi adalah irama musik yang bersinergi satu sama lain. Ibarat kopi dan gula dalam seduhan air panas, atau tangan kanan dengan tangan kiri dalam kesatuan organ tubuh.

Strategi marketing bukan menciptakan pertarungan sesama pengusaha, apalagi memerangi pasar untuk meraup penjualan yang sebesar-besarnya atas diri sendiri. Strategi marketing lebih mengedepankan kemitraan untuk sukses bersama dalam mewujudkan bangunan yang indah dan kokoh. Karena antarpengusaha adalah pilar bangunan, sedangkan dinding bangunan adalah pasar yang saling mengikat satu sama lain. Sementara atap atau gentingnya adalah mahkota kemenangan yang diwujudkan bersama. Karena tidak mungkin ada produsen tanpa konsumen, atau pembeli tanpa penjual; demikian juga sebaliknya.

Strategi digital marketing, bagian dari strategi marketing juga. Hanya alat atau media yang membedakan, namun objek sasaran pasar atau pangsa pasar tetap sama. Strategi yang diterapkan juga sama, yaitu segmentation, targetting, dan positioning. Tinggal bagaimana mengoptimalkan media (digital) untuk mewujudkan kecepatan dan percepatan dalam memberikan pangaruh kepada pasar. Maka butuh kejelian tersendiri dalam berstrategi serta ilmu khusus untuk menyikapi konsumen yang berada di balik layar perangkat digital atau sering disebut dunia maya.

Ketika usaha bisnis lebih mengedepankan persaingan, bukan perlombaan; maka jangan pernah berharap kemitraan itu tercipta dalam keharmonisan, Karena segala cara akan dilakukan, segala hukum atau tatanan akan ditabrak, segala bentuk etika maupun moral hanya catatan kelam di atas kertas hitam. Maka tidak heran banyak usaha bisnis gugur sebelum mencapai maturity (kedewasaan) dalam grafik Product Life Cycle (PLC), bahkan tidak sedikit di usia embrional (introduction) di mana belum menikmati keuntungan sudah tutup, dan saat sedang (baru) menikmati keuntungan yaitu di usia growth tiba-tiba juga tutup. Semua berujung dari kemitraan yang tidak tercipta, lebih menekankan superman bukan superpartner.