PENDIDIKAN

Mensos RI Saifullah Yusuf Sambangi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Bandung

×

Mensos RI Saifullah Yusuf Sambangi Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 9 Bandung

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID — SRMP 9 Bandung merupakan  salah satu dari sekitar 70 titik sekolah rakyat yang telah beroperasi di Indonesia.

“Alhamdulillah, Sekolah Rakyat sudah beroperasi di kurang lebih 70 titik. Insya Allah tanggal 15 nanti akan bertambah menjadi 100 titik, jika sarana dan prasarana sudah siap. Selanjutnya, pada bulan September akan ditambah lagi 59 titik,” ujar Mensos Saifullah Yusuf saat meresmikan SRMP 9 Bandung yang berada di kompleks Yayasan Wiyataguna Kota Bandung,  Sabtu (9/8/2025) sore

Dikatakan Mensos dengan total 159 titik yang direncanakan, sekolah rakyat akan tersebar relatif merata di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, serta dari Miangas hingga Rote. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menghadirkan pendidikan alternatif berbasis komunitas yang adaptif terhadap kebutuhan siswa

“Jadi hampir merata dari Sabang sampai Merauke dari Miangas, sampai ke Rote. Relatif merata meskipun belum semua, ya relatif merata,”ucap Mensos.

Mengenai adanya pengunduran guru dan peserta didik Sekolah Rakyat, Mensos Saifull Yusuf mengatakan pihaknya akan mencari tenaga guru pengganti. Meski menurutnya para guru yang mengundurkan diri sudah lolos seleksi dan menyatakan siap ditempatkan di mana saja.

“Kami hormati keputusan para guru yang mengundurkan diri, meskipun mereka sudah lolos seleksi dan menyatakan siap ditempatkan di manapun. Namun tentu kami segera menyiapkan penggantinya agar proses belajar mengajar tetap berjalan,” jelasnya

Ia juga mengungkapkan, dari data yang ada, sekitar 9,7 persen guru yang telah diterima memilih untuk mundur. Sementara dari sisi peserta didik, jumlah siswa yang mengundurkan diri tercatat 1,14 persen atau sekitar 100 orang.

Sebagian dari mereka telah kembali, namun bagi yang tidak, pihak sekolah memberi waktu bagi orang tua dan siswa untuk mempertimbangkan kembali.

“Kita Beri waktu untuk meyakinkan kembali orang tua dan siswanya. Jika memang berkenan kembali, tentu kita dengan senang hati. Tapi kalau misalnya tidak mau kembali ya, tentu dengan berat hati kami akan menggantikan dengan siswa-siswa yang di belakangnya sudah banyak dan juga yang memenuhi syarat untuk Jadi sekolah rakyat,”ujar Mensos.

Mensos juga menegaskan bahwa pendekatan pendidikan di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Sekolah rakyat tidak menggunakan tes akademik dalam seleksi masuk.

Masa matrikulasinya pun lebih panjang, agar guru dapat mengenali potensi dan kebutuhan masing-masing anak secara lebih mendalam.

Sekolah Rakyat hadir sebagai alternatif pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan fleksibel, terutama bagi anak-anak dari keluarga rentan atau yang sulit mengakses pendidikan formal. ***