BUDAYA

13 Desa dan Kelurahan Geliatkan Gelar Budaya Tegalkalong, Nama Alun-alun Dikembalikan ke Asal

×

13 Desa dan Kelurahan Geliatkan Gelar Budaya Tegalkalong, Nama Alun-alun Dikembalikan ke Asal

Sebarkan artikel ini

KAPOL.ID — Sebanyak 13 desa dan kelurahan di Kecamatan Sumedang Utara turut memeriahkan Gelar Budaya Tegalkalong yang resmi dibuka oleh Bupati Sumedang, Dr. H. Dony Ahmad Munir, di Alun-alun Tegalkalong, Sabtu (6/9/2025).

Selain menampilkan ragam kekhasan budaya, acara ini juga menjadi momen bersejarah dengan dikembalikannya nama Alun-alun Sumedang Utara ke nama semula, yaitu Alun-alun Tegalkalong.

Adapun desa dan kelurahan yang berpartisipasi yaitu Kelurahan Kotakaler, Kelurahan Situ, Kelurahan Talun, Desa Padasuka, Desa Mulyasari, Desa Girimukti, Desa Mekarjaya, Desa Margamukti, Desa Sirnamulya, Desa Kebonjati, Desa Jatihurip, Desa Jatimulya, dan Desa Rancamulya. Masing-masing menampilkan ciri khas budaya dan tradisi dari daerahnya.

Camat: Bukan Sekadar Pagelaran Seni

Camat Sumedang Utara, H. Ayuh Hidayat, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, Gelar Budaya tidak hanya sekadar ajang seni, melainkan juga menghidupkan kembali memori masa lalu.

“Alhamdulillah hari ini kita gelar pagelaran budaya di Alun-alun Tegalkalong. Ada momen sakral berupa penggantian nama alun-alun, dikembalikan kepada marwahnya. Setiap penampilan desa dan kelurahan juga menghadirkan nilai edukasi, mengenalkan kehidupan masyarakat zaman dahulu agar generasi muda tidak melupakan akar budayanya,” ujarnya.

Bupati: Tradisi dan Kaulinan Barudak Harus Dihidupkan

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai Gelar Budaya bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media edukasi yang bermanfaat bagi anak-anak maupun masyarakat.

“Dalam budaya ini anak-anak diperkenalkan pada kehidupan masa lalu, mulai dari bentuk rumah, perkakas, cara memasak di hawu, poe pare, hingga berbagai tradisi lainnya. Ini penting agar generasi sekarang tidak melupakan budayanya,” ungkapnya.

Dony juga menyoroti pentingnya kaulinan barudak seperti egrang, engklek, beukleun, bedug damdaman, dan mobilan tradisional. Menurutnya, permainan tradisional mampu mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.

“Permainan ini membuat anak-anak bergerak, kreatif, ceria, dan pintar. Tidak terus-menerus hanya main handphone, tapi bisa mendapatkan energi positif dari permainan tradisional,” tambahnya.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan layanan cek kesehatan gratis yang dimanfaatkan lebih dari 50 warga, serta kolaborasi dengan Dinas Pendidikan yang menugaskan siswa melakukan observasi berbagai perkakas tradisional Sunda.

Desa Jatimulya Tampilkan Rumah Era 70-an

Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah penampilan rumah tradisional era 70-an dari Desa Jatimulya. Kepala Desa Jatimulya, Entis Sutisna, mengatakan bahwa keikutsertaan desanya membawa pesan penting bagi generasi muda.

“Banyak anak-anak sekarang belum pernah melihat suasana rumah tempo dulu. Kalau sekarang masak pakai kompor gas, dulu masyarakat menggunakan hawu dengan kayu bakar. Lewat acara ini mereka bisa mengenal kembali kehidupan masa lalu yang sarat kearifan lokal,” ujarnya.

Harapan Ke Depan

Bupati Dony berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini, melainkan berkesinambungan dan menjadi inspirasi bagi kecamatan lain.

“Pak Camat sudah menyalakan obor budaya dan obor kaulinan barudak. Tinggal bagaimana menjaga agar obor ini tidak padam, dengan kegiatan yang berkesinambungan. Semoga Gelar Budaya ini bisa ditiru oleh kecamatan lain dengan menjadikan alun-alun sebagai pusat kegiatan masyarakat,” pungkasnya.

Gelar Budaya Tegalkalong 2025 tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menguatkan ikatan kebersamaan, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. ***