KAPOL.ID — Di tengah gempuran produk makanan modern dan kekinian, makanan ringan khas Sunda; kicimpring ternyata masih mampu bertahan di pasaran. Bahkan, pada Ramadan kali ini ada pembuat kicimpring yang kebanjiran pesanan.
Salah satunya Wiwin, seorang ibu asal Kampung Nagasari, Desa Raksasari, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Ia sudah cukup lama memproduksi kicimpring, jenis makanan yang pernah dipopulerkan Kang Mus dalam film Preman Pensiun.
Untuk memenuhi pesanan itu, Wiwin bersama ibu-ibu rumah tangga lainnya tak jarang harus bekerja ekstra sejak pagi buta. Mulai dari mencari singkong, bahan baku pembuatan kicimpring.
“Kami di sini biasa produksi kicimpring rempah, yang prosesnya mudah dan rasanya enak. Sekarang permintaan sedang meningkat dua bahkan tiga atau empat kali lipat dari hari-hari biasanya,” ujar Wiwin, Rabu (4/3/2026).
Pesanan datang dari berbagai arah. Mulai dari masyarakat umum yang bersifat perorangan maupun dari para pedagang di pasar. Psanan bisa mencapai 200 bungkus per hari. Biasanya antara 30 hingga 50 bungkus saja per hari.
Di satu sisi, penanan tinggi menjadi berkah. Tapi di sisi lain, para pengrajin kicimpring tidak lagi bisa berleha-leha. Apalagi Wiwin bersama pengrajin lain rata-rata sudah Lansia.
Untungnya, proses pembuatan kicimpring rempah tidak rumit. Peralatannya juga sederhana. Cukup dengan cara mengupas, mencuci dan memarut singkong, mencampurnya dengan bumbu, mencetak, mengukus serta menjemurnya sampai kering. Dikerjakan di dapur dan halaman rumah juga bisa selesai.
Para pengrajin kicimpring baru bisa mengemas sebelum penjualaan saat kicimpring benar-benar kering. Karena itu, faktor cuaca juga bisa menjadi penentu lama atau tidaknya waktu produksi.
“Kicimpring ini kan bisa buat cemilan, atau jadi pengganti kerupuk saat makan nasi atau makan hidangan lain. Saya jualnya dua macam, ada yang original dan rempah. Kalau harganya Rp12 ribu per bungkus, kalau belinya banyak,” tambah Wiwin.
Konsumen Wiwin bukan hanya masyarakat sekitar Kabupaten Tasikmalaya, tetapi juga ada yang datang dari Garut. Para konsumen ini yang datang langsung ke tempat produksi kicimpring. Sesekali, jika jaraknya dekat, kicimpring juga bisa diantar ke pembeli.
Seperti Indra, salah satu konsumen yang datang dari Garut. Ia mengaku sengaja jauh-jauh datang supaya bisa mendapatkan kicimpring dengan harga lebih miring. Karena ia akan menjualnya lagi, sehingga bisa leluasa memainkan harga guna mendapat untung lebih.
“Saya datang dari Garut mau beli kicimpring buat jualan lagi. Kalau di sentranya kan biasanya murah, beda dengan harga di pasar,” kata Indra.
Support KAPOL with subscribe, like, share, and comment
Youtube : https://www.youtube.com/c/kapoltv
Portal Web : https://kapol.tv/
Portal Berita : https://kapol.id/
Facebook : https://www.facebook.com/kabar.pol
Twiter : https://twitter.com/kapoltv






